Selasa, 18 Januari 2011

semoga masih ada pintu maaf buatku ...

Nulis lagi aahk...mumpung malam ini lagi sepi, Sambil ngopi anget, diteminin lagu melow...pas banget deh.Jari inipun mulai menari diatas keyboard.Tuk..tak..tuk tak....,

Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.

Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.

Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita, 

Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu.

Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.

Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian.
Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini.
Maka maafkanlah aku.

Apakah engkau harus terus memegang kata: “tidaklah mudah untuk memaafkan.”
Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?

Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku?
Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?

Janganlah begitu mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah begitu mudah membenci sesuatu.
Hal yang engkau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat .

Masih ingatkah engkau suatu kisah, dimana engkau bercerita tentang tujuan hidup yang ingin engkau capai , serta angan angan yang akan engkau bangun bersama ku, apakah engkau melupakan semua itu, bagaimana kita menghabiskan malam di tengah perjalanan yang panjang di iringi keluhan keluhan manjamu .
Lama kita gak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita.

Maafkanlah aku yang selalu bikin kamu kecewa, Maafkanlah aku yang gak pernah dewasa dalam mengambil sikap.
Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak menunggu waktu yang paling tepat untuk mengucapkan kata maaf ini, sebelum ajal datang menjemput, Maka maafkanlah aku.
Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kamu bakalan sakit . Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan diri mu.

Dulu, kita berdua begitu baik.

Tahukah engkau wahai seseorang yang pernah ku sakiti, aku pun kini merasakan apa yang pernah kau rasakan.
Terlalu sakitkah dirimu sehingga engkau begitu membenciku dan menjadikan aku laksana domba tak bertuan?

Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya.
Dulu, kita berdua begitu baik ada ikatan yang tak terelakan.

Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?

Sedari awal, aku telah memaafkanmu.
Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku.
Aku yang memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita.
Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku.

Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul.
Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi.
Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai.

Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian.
Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf.
Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga.
Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati.
Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.

Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi.
Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina.
Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.

Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan.

Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti.
Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk.
Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?

Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan.
Tidak aku, tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti.
Maka, bukalah pintu maafmu itu.

Rabu, 12 Januari 2011

sekedar ingin menjadi pribadi yang berhasil

Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan
bila anda sedang takut, jangan terlalu takut.
Karena keseimbangan sikap adalah penentu
ketepatan perjalanan kesuksesan anda

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita
adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba
itulah kita menemukan dan belajar membangun
kesempatan untuk berhasil

Anda hanya dekat dengan mereka yang anda
sukai. Dan seringkali anda menghindari orang
yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah
Anda akan mengenal sudut pandang yang baru

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus
belajar, akan menjadi pemilik masa depan

Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi
pencapaian kecemerlangan hidup yang di
idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa
kesenangan adalah cara gembira menuju
kegagalan

Jangan menolak perubahan hanya karena anda
takut kehilangan yang telah dimiliki, karena
dengannya anda merendahkan nilai yang bisa
anda capai melalui perubahan itu

Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila
anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara
lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila
cara-cara anda baru

Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan.
Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap
anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong
bila sikap anda salah

Orang lanjut usia yang berorientasi pada
kesempatan adalah orang muda yang tidak
pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi
pada keamanan, telah menua sejak muda

Hanya orang takut yang bisa berani, karena
keberanian adalah melakukan sesuatu yang
ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan
punya kesempatan untuk bersikap berani

Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan
stress adalah kemampuan memilih pikiran yang
tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang
anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.

Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui
mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan
tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan
yang kemudian anda dapat

Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara
kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku
seperti orang yang terus memeras jerami untuk
mendapatkan santan

Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai
dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan
anda sekarang. Anda akan tampil secemerlang
yang berbakat

Kita lebih menghormati orang miskin yang berani
daripada orang kaya yang penakut. Karena
sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa
depan yang akan mereka capai

Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita
ketahui, kapankah kita akan mendapat
pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum
kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan

Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin.
Dengan mencoba sesuatu yang tidak
mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik
dari yang mungkin anda capai.

Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup
adalah membiarkan pikiran yang cemerlang
menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang
mendahulukan istirahat sebelum lelah.

Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa
mengupayakan pelayanan yang terbaik.
Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang
baik, maka andalah yang akan dicari uang

Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita
mungkin menua dengan berjalanannya waktu,
tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus
mengubah diri kita sendiri

Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk
melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi
orang tua yang masih melakukan sesuatu yang
seharusnya dilakukan saat muda.

Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat
berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita
kaya, tetapi menggunakannya dengan baik
adalah sumber dari semua kekayaan

Minggu, 09 Januari 2011

APAKAH KITA BENAR BENAR IKHLAS

Ada hal di dunia ini yang terkadang tak bisa diterima. Kekalahan. Ketidakberhasilan. Kehilangan. Pengkhianatan. Kepergian. Sebutlah sendiri lainnya….

Seringkali, dari semua itu yang paling menyiksa adalah apa yang dirasakan setelahnya. Rasa marah, kecewa, tak terima, sakit hati, dendam, penyesalan dan segala turunannya. Ujung-ujungnya semua terasa tak enak.

Apa akar dari semua hal itu, tak lain adalah harapan. Harapan yang tak terpenuhi. Tak terpenuhi karena yang terjadi, tak sesuai dengan kehendak diri. Kehendak diri yang bersumber pada ego, pada hasrat.

Hasrat ini pada titik tertentu membantu manusia untuk bertahan hidup. Bersemangat hidup. Membuat manusia mau menjalani hari-harinya. Hasrat ini pula yang membuat manusia maju untuk terus berjuang.

Namun, di titik yang lebih tinggi, hasrat ini pulalah yang membuat manusia justru terkungkung. Semua apa yang melingkupinya tak lepas dari hasrat itu. Semua hal di dalam hidupnya bahkan bisa-bisa didedikasikan untuk memenuhi kehendak hasrat. Jika sudah demikian, alih-alih hasrat jadi pemicu kehidupan, dia berubah jadi kekuatan penghancur diri.

Ibarat api. Sepercik api mampu membakar kayu untuk menghangatkan malam. Namun, begitu dia membesar, melalap semuanya, tak ada lagi yang tersisa selain kehancuran.

***

Kebijaksanaan kuno mengajarkan kita untuk iklas.

Iklas secara kasar bisa dipahami sebagai penerimaan. Penerimaan akan apa pun yang terjadi dalam hidup, sebagai kehendak Dia Yang Maha Mengatur. Menerima bahwa, baik atau buruk, semua itu sudah ditentukan & dikehendaki oleh-Nya. Dimana setelah kita sebagai manusia melakukan usaha, yang bisa dilakukan hanyalah pasrah menerima hasil sesuai kehendakNya.

Mudah untuk dikatakan, namun nyatanya teramat susah dilaksanakan.

Sebagian besar dari kita dibesarkan dalam iklim persaingan. Kemenangan, keberhasilan, pencapaian–terutama material, acapkali menjadi panglima. Kita adalah apa yang kita miliki—begitu banyak kita pahami. Darinya, kita melihat dunia ini ibarat ladang pertarungan. Saling sikat, saling sikut, saling cakar & rebut adalah hal biasa–atau terbiasakan. Akhirnya, lebih banyak kekecewaan yang diperoleh daripada kebahagiaan.

***

Belajar untuk iklas adalah kunci melepaskan diri dari kesengsaraan hidup ini.

Kesengsaraan yang lebih dalam dari kekurangan material. Kesengsaraan yang muncul, tumbuh & bergejolak dari dalam jiwa. Semua hanya bisa dilepaskan dengan cara iklas.

Belajar untuk iklas musti dimulai dengan belajar untuk memahami apa makna hidup ini. Apa tujuan keberadaan manusia di dunia. Karena darinyalah kita mendasarkan semua perilaku, dan menujukan diri ke titik akhir perjalanan.

Kebijaksanaan kuno mengajarkan bahwa kehidupan ini adalah sebuah perhentian, perhentian singkat dari sebuah perjalanan panjang kehidupan manusia, dari titik penciptaan hingga titik kembali pada Sang Pencipta.

Perjalanan kita memang dimulai saat kita diciptakan. Tak ingat kita saat diciptakan, itu pasti, tapi tak berarti kita tak bisa merasakan bahwa hal itu benar adanya. Dari fase penciptaan ini kita mulai menapaki kehidupan, di berbagai alam kehidupan, dengan segala apa yang menyertainya. Termasuk saat ini, di kehidupan dunia.

Penerimaan akan hal itu memberi kita sedikit pegangan, bahwa yang namanya perjalanan, musti dilakukan demi menuju suatu tujuan. Tujuan pastinya bukan terletak di jalan, tapi di perhentian terakhir. Karenanya, tak sepatutnya kita menggantungkan semua harapan pada perjalanan itu sendiri. Gantungkan tujuan dan juga harapan pada tujuan terakhir.

Pahami pula bahwa dalam perjalanan pasti ada rintangan. Ada masalah, ada hambatan, ada ketidaksesuaian dengan harapan. Semua adalah pelajaran. Bahwa untuk mencapai titik perhentian terakhir, kita menerima pembelajaran. Dan metode pembelajaran terbaik adalah melalui cobaan.

Dengan mengalami cobaan, mengalami kekalahan, kehilangan, kehancuran, kita diharapkan memetik pemahaman, bahwa ada suatu yang lebih tinggi, suatu yang lebih bermakna, suatu yang lebih layak untuk dituju, yang padanya kita bisa selalu bergantung.

***

Kebijaksanaan kuno pula mengajarkan bahwa cobaan adalah tanda sayangNya pada manusia. Tak ada pejalan yang tak diberi cobaan. Namun, kita disemangati bahwa setiap cobaan sudah ditakar sesuai kemampuan kita untuk menanggungnya–meski kadang kita merasa tak sanggup.

Cobaan dan harapan inilah yang musti kita coba tanamkan dalam-dalam. Inilah yang musti coba untuk senantiasa kita pegang. Darinya, rasa iklas itu akan perlahan tumbuh, merindangi hati, membuatnya teduh meski dihembus panasnya badai kehidupan.

Begitu kebijaksanaan kuno mengajarkan…..terserah kita untuk mengamalkan.

MENYALAHKAN ITU MEMANG MUDAH

MENYALAHKAN ITU MEMANG MUDAH"
Menyalahkan itu mudah, bertanggung jawab itu sulit...itulah realita hidup yang harus kita terima dan hadapi. Banyak orang pada saat mereka menghadapi "kegagalan", mereka cenderung menyalahkan:
• Orang lain
• Takdir
Ataupun ketidak-mampuan mereka, Yang sebenarnya hanyalah alasan untuk tidak mencoba sekali lagi. Berhentilah menyalahkan dan mulailah bertanggung-jawab.
Apa maksudnya? akan dijelaskan hal ini dalam sebuah ilustrasi...
Bayangkan seorang digigit seekor ular... Jika orang tersebut bodoh, dia akan dendam dan mengejar ular tersebut untuk membunuh habis dan melampiaskan dendamnya pada ular tersebut. Walaupun ular tersebut akhirnya berhasil dibunuhnya, orang tersebut juga akan langsung mati karena racun yang masuk kedalam tubuhnyacepat menyebar dikarenakan dia terlalu banyak bergerak dengan mengejar ular tersebut.
Lalu apa yang seharusnya dilakukan?
Orang yang pintar mengerti bahwa yang membuatnya sakit bukanlah gigitan ular tersebut, melainkan racun yang ada didalam tubuhnya... Oleh karena itu dia tidak akan mengejar ular tersebut, melainkan menghisap darahnya sendiri untuk
Mengeluarkan racun yang ada dalam tubuhnya.
Cerita tersebut mencerminkan dengan jelas bahwa apapun yang terjadi kepada kita walaupun itu bukan salah kita, racunnya tetap didalam dirikita.
Orang lain mungkin saja membuat kita sakit hati... Situasi mungkin saja menyebabkan kita gagal... Kondisi mungkin saja belum berpihak kepadakita, tapi jika yang kita lakukan hanyalah menyalahkan orang lain tanpa menyadari bahwa racun yang sesungguhnya ada didalam diri kita, maka sudah tentu keadaan tidak akan berubah Menjadi lebih baik.
Apapun yang terjadi kepada kita, baik itu salah kita, salah orang lain ataupun (jika menurut sebagian dari kita) salah takdir, akan sangat salah jika kita tidak melakukan apa-apa.
Memang sangat mudah untuk tidak bertanggung-jawab dan hanya berkata:
"oh itu kan salah dia... Aku ga salah dong..."

Atau

"yah emang aku begini, mau diapain lagi... Ya udah laaah..."

Atau

"takdir itu kan hanya dapat memberi siksa... Yah memang begitu realita hidup."

Yang membuat kalimat-kalimat diatas tampil sebagai alasan otentik untuk tidak bertanggung jawab... Namun akan sangat bijaksana bila dengan sesegera mungkin menyadari bahwa kalimat-kalimat seperti itulah yang membuat banyak orang tetap pada kondisi yang mereka tidak inginkan.
Oleh karena itu, apapun yang terjadi... Salah siapapun itu... Sudah menjadi tugas kita untuk tidak menyalahkan siapa-siapa dan mulai mengambil tindakan yang penuh tanggung jawab untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Jika kita menerapkan prinsip ini kedalam kehidupan, dijamin kita akan jauh-jauh lebih dewasa, jauh-jauh lebih menarik, jauh-jauh lebih dapat mengurangi rasa sakit hati.

Sabtu, 08 Januari 2011

BELAJAR DARI ALAM ...

Suatu ketika aku dan temen-temen bermain-main kesebuah kali (sungai kecil) disebuah desa.

Kali itu cukup besar dan berbatu-batu. Karena pemandangan diseberang kami tertarik untung menyeberanginya, dan kami harus melompati batu-batu yang ada disepanjang kali itu.

Mulai dari batu-batu yang kecil sampai batu-batu berukuran besar.

Langkah-langkah dan lompatan yang harus kami lakukan kadang lompatan kecil, kadang lompatan dengan langkah besar. Lompatan yang aman, dan beberapa lompatan yang berbahaya karena batu yang licin oleh air dan lumut.

Tidak itu saja, untuk melangkah maju, kami beberapa kali harus melompat ke batu dibelakang kami alias mundur untuk mendapatkan pijakan yang lebih baik dan aman. Dari pada kami harus memaksakan selalu melangkah kedepan namun dengan resiko terantuk dan terpeleset.

Namun demikian, akhirnya aku dan teman-temanku dapat melalui kali tersebut.

Setelah perjalanan tersebut, aku berpikir bahwa hidup pun demikian.

Seperti menyeberangi kali tadi dengan batu-batu kecil, besar, licin, berlumut dan arus yang menantang. Terkadang kita harus melewati lompatan kecil. Lompatan besar dalam karir, studi, keluarga. Dengan riak arus, tantangan-tantangan dan resiko yang menghambat dan harus kita hadapi dalam perjalanan hidup kita. Bahkan untuk maju lebih jauh, kita pun terkadang harus bersikap bijak, dengan memilih langkah terbaik. Walaupun mungkin saja kita harus mundur sejenak dan mengalah untuk kemudian kembali maju dan meraih apa yang ada didepan kita.

Ahhh…. memang alam sungguh mengajarkan begitu banyak pelajaran dalam hidup.

Melalui batu, kali dan air saja pelajaran yang kudapat sudah begitu berharga.