Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.
Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita,
Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu.
Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian.
Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini.
Maka maafkanlah aku.
Apakah engkau harus terus memegang kata: “tidaklah mudah untuk memaafkan.”
Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?
Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku?
Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?
Janganlah begitu mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah begitu mudah membenci sesuatu.
Hal yang engkau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat .
Masih ingatkah engkau suatu kisah, dimana engkau bercerita tentang tujuan hidup yang ingin engkau capai , serta angan angan yang akan engkau bangun bersama ku, apakah engkau melupakan semua itu, bagaimana kita menghabiskan malam di tengah perjalanan yang panjang di iringi keluhan keluhan manjamu .
Lama kita gak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita.
Maafkanlah aku yang selalu bikin kamu kecewa, Maafkanlah aku yang gak pernah dewasa dalam mengambil sikap.
Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak menunggu waktu yang paling tepat untuk mengucapkan kata maaf ini, sebelum ajal datang menjemput, Maka maafkanlah aku.
Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kamu bakalan sakit . Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan diri mu.
Dulu, kita berdua begitu baik.
Terlalu sakitkah dirimu sehingga engkau begitu membenciku dan menjadikan aku laksana domba tak bertuan?
Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya.
Dulu, kita berdua begitu baik ada ikatan yang tak terelakan.
Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?
Sedari awal, aku telah memaafkanmu.
Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku.
Aku yang memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita.
Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku.
Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul.
Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi.
Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai.
Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian.
Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf.
Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga.
Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati.
Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.
Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi.
Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina.
Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.
Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan.
Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti.
Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk.
Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?
Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan.
Tidak aku, tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti.
Maka, bukalah pintu maafmu itu.
