Senin, 19 September 2011

tentang mu ....


Kau pernah menjadi seberkas cahaya
Yang memberiku pelangi dan melukisnya dengan warna yang sempurna
Menerangi seluruh duniaku tanpa ku minta
Dan tetap menjadi cahaya walau tak pernah ku sapa

Kau pernah menjadi indahnya nada
Yang aku nyanyikan saat ku tak ingin kau tahu apa yang ku rasa
Menyembunyikan air mataku yang tak pernah bersuara
Dan tetap menjadi nada walau tak pernah ku jaga

Aku adalah sekotak luka sayangku...
Begitu indah sehingga aku tak mau beranjak pergi
Begitu sakit sehingga aku mendambakan pagi

Maukah kau membawaku pergi dari sini...??
Aku terlalu lelah untuk semua ini
Dan maukah kau membawaku ke tempat tuhanmu yg dulu selalu kau kunjungi...?
Karena aku suka melihatmu bersujud di sajadah yg dulu selalu kau tangisi

Aku adalah air mata sayangku...
Yang selalu terlihat begitu indah saat menetes di pipimu
Melebihi semua cahaya dan nada yang pernah kuberikan padamu.

Aku adalah sepotong kaca murah yg pecah terbelah ke segala arah
Perih merintih
Pedih memutih

Aku adalah terang pasar malam yang melawan matahari siang
Menyala sia-sia
Gaduh tak bersuara

Bukan aku tak mau menjadi hiasan dinding ungu pucatmu itu
Atau menjadi kumpulan warna yang bisa menyinarimu sepanjang waktu

Karena pecahan-pecahan kecil ini kau tahu aku ada
Walau aku tahu itu membuatmu terluka

Karena cahaya redup ini kau tahu aku selalu terjaga
Seandainya tengah malam nanti kau terbangun dan memintaku untuk menceritakan sebuah cerita

Aku adalah apa yang kau sebut air mata pagi
Kecil tak berarti
Dan kemudian menghilang ditelan hari

Aku adalah semua yang tak pernah kau lewati
Dan aku tak mau beranjak pergi....

Rabu, 14 September 2011

sepiku yang indah ...

Ketika itu malam hari
Dengan segala keindahan sepi yang kau tahu dengan pasti aku menyukainya
Tidak...lebih dari itu...aku selalu memujanya...
Entah itu pertunjukan mimpi orang-orang yang mati suri di sekeliling kita
Atau sekalipun itu sudah jelas bau busuk yang merambat pelan hampir diam keluar dari trotoar yang seingatku tak pernah peduli
Lalu kau mau apa...??

Perhatikanlah seisi semesta ini merayakan malam dengan hitam
Ini memang seperti perayaan
Keheningan yang sungguh terlalu gaduh
Dan seperti biasa aku hanya bisa tertawa melihatmu berusaha menghiburku dengan sarang merak itu
Tetaplah hitam

Kau lihat orang yang sedang memuji cermin di jalan membosankan itu sebelum kita sampai disini...??
Yang berjalan meraba gelap karena darah kita memenuhi kelopak matanya
Antarkan aku ke penciptamu
Karena aku belum pernah melihatmu seindah ini
Bahkan mimpi kita pun tak pernah seindah ini

Dan memang benar ketika kelam mulai menggeliat nanti aku akan menikam tubuhmu
Begitu dalam sehingga dari lubang-lubang luka itu mengalirlah air mata yang selama ini kau sembunyikan dariku dengan tulusnya
Membelai segala macam endapan-endapan emosi yang tertinggal di balik rapuhnya hati
Seperti yang dulu selalu kita lewati
Ditemani lampu minyak yang sesekali tersenyum dirayu angin sunyi

Tetaplah begini
Tetaplah menjadi tak lebih dari mimpi
Seindah apapun itu

Setelah aku selesai menunggu senja ini tenggelam sekarat merah pucat dengan caranya sendiri
Sapalah aku di tengah malam sepi
Miliki semua waktu yang kita butuhkan untuk mengatakan betapa indahnya ini sebelum pagi mengusirmu pergi

Dan jangan khawatir
Aku akan kembali menunggu senja itu tenggelam lagi ...

Selasa, 13 September 2011

meracau dalam diam


Diam..
Dan perhatikan bagaimana kita perlahan tenggelam
Dengan segala buih pembenaran yang tak pernah berhenti mengisi keringnya retorika
Dengan segala luka yang entah darimana datangnya
Bagaimana aku bisa melewatkanmu ketika kau selalu mengingatkanku akan candu..??
Melumat setiap bayangan tiap kali kau tersenyum kepadaku tanpa sedikitpun keluh enggan

Percayalah..
Ini bukan sunyi
Sepi yang kutahu lebih hening dari ini
Melentik-lentik cantik mengaburkan batasan-batasan mimpi
Terus seperti itu dan selalu berakhir dengan aku tertidur dimanjakan nyaman lengkung alismu
Bukankah selama ini kita sudah terbiasa seperti itu..??

Ini tak akan pernah selesai, sayangku..
Kita hanya menari sia-sia walau memang masih diiringi irama yang sama
Langkah tersipu
Dan tatapan parau..

Kaukah itu yang tadi malam berkelebat dalam mimpiku?

Mengenakan bahasa-bahasa angin yang dengan indahnya membungkus sebagian tubuhmu yang biru

Tak ada tempat untuk kelam

Sekalipun itu terang

Kau tak lagi bersuara, Senja...

Berpendar pelan-pelan menerangi malam-malam yang berhiaskan setan-setan

Aku dan kamu telah menjadi kita...awan-awan berserakan

Inikah yang selama ini kau lukis?

Lampu-lampu kota yang mengedip-ngedip malu

Langit bumi tak kenal hati

Kaukah itu yang tadi malam berkelebat dalam mimpiku?

Atau aku meracau?

Senin, 12 September 2011

gak tau mau dikasih judul apa (aku dan D)

barusan "tepatnya pukul 00.40 wita" aku berhayal sedang berbincang bersama seseorang di masa lalu ku, tapi hayalan itu seolah olah nyata dan pernah ku alami ,sampai pada akhirnya perbincangan itu bisa aku tuangkan didalam blog ini.

D datang dengan secangkir kopi panas di tangan, lalu duduk di hadapanku sembari berucap “Mari kita berbincang tentang kebahagiaan,” .

Aku terkejut, merasa tidak siap. “Mengapa kebahagiaan?” tanyaku sambil menerima secangkir kopi yang disodorkannya D kepadaku.

“Entahlah,” D mengangkat bahu. “Hanya saja, belakangan ini kamu nampak tidak bahagia…”

Aku menyesap kopiku pelan-pelan, pikiranku tertuju pada sebuah percakapan yang berlangsung bertahun-tahun yang lalu:

Mengapa kamu pikir aku dapat membuatmu bahagia?

Entahlah. Jujur, aku tidak tahu apakah kamu dapat membuatku bahagia…

Jadi?

Mungkin memang bukan kebahagiaan yang aku cari.

“Jadi, apakah kini kamu mencari kebahagiaan?” tanya D kepadaku.

“Ya,” aku mengangguk. “Tapi… mengapa dulu aku tidak ingin mencarinya? Mengapa dulu aku menganggap kebahagiaan itu tidak terlalu penting, sehingga aku tak perlu mengejarnya?”

“Karena dulu kamu memilikinya,” D menjawab. “Jika kamu sudah memiliki kebahagiaan itu di dalam dirimu, kamu tak perlu lagi susah-susah mencarinya. Justru karena kamu sadar bahwa kamu sudah kehilangan kebahagiaan itu, maka kini kamu mencarinya. Ingat, kamu sendiri yang pernah berkata: ‘kita tidak akan tahu betapa berartinya sesuatu itu, hingga sesuatu itu direnggutkan dari kehidupan kita’. Sesuatu itu bisa berupa kebahagiaan, kan?”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Kutatap dia tepat di matanya.

D tidak menjawab, tetapi memutar sebuah lagu dari iTunes-ku.

“Ini saatnya bagimu untuk memilih. Untuk kembali berbahagia.”

Aku menghela napas panjang. Aku tahu bahwa hidup penuh dengan pilihan-pilihan, namun tetap saja, aku selalu kesulitan ketika dihadapkan padanya.

“Aku ingin mengingatkanmu pada sesuatu,” ujar D padaku.

“Apa?” tanyaku.

D tersenyum. “Ada seseorang yang kukenal, yang pernah mengatakan kepadaku, bahwa ia ingin mengejar kebahagiaannya sendiri terlebih dahulu, kemudian baru membahagiakan orang lain. Karena seseorang tidak akan pernah bisa membagi apa-apa yang tidak ia miliki. Kita tidak akan bisa membahagiakan orang lain jika kita sendiri tidak bahagia.”

Aku tersipu. Aku tahu siapa seseorang itu. Dan aku tidak lupa.

“Aku hanya ingin bahagia,” ujarku, sambil merasakan kehangatan bagian luar cangkir kopiku dengan kedua telapak tangan.

“Kita semua menginginkannya,” D pun mengangguk. “Tetapi hanya mereka yang berani memilih kebahagiaanlah yang berhak mendapatkannya.”

Sempurna.
Ini tak akan bertahan selamanya.
Aku tahu.

Cuma sementara.
Aku tahu.

Jika begitu, mengapa masih kau katakan sempurna?
Karena aku tidak
selalu meminta .
Aku cuma minta secukupnya waktu. Hanya waktu.

Tetapi… waktu itu sudah habis.


Kamis, 08 September 2011

For you ( happy birthday )



Banyak hal yang hampir terlupakan ketika bersamamu namun semua itu seolah terulang kembali dan terekam jelas di ingatanku ketika aku tersadar bahwa hari ini adalah hari ulang tahunmu(08, september) , memang tak banyak yang bisa aku berikan dulu , tapi satu hal yang aku ingin kau tau bahwa dulu aku sangat menyayangimu .

Mungkin sudah terlambat untuk aku mengakuinya tapi gak ada salahnya kalau kamu juga mengetahui tentang pasang surut hubungan kita dulu, dan sedikit impian yang coba aku rajut bersamamu dulu ...

Entah apa yang harus kukatakan……ketika rasa itu mulai berlalu

kau yang pernah hadir ,mengisi hari hariku dengan senyum ramahmu

ada yang hilang…. keheningan yang menyesakan…

kemanakah kegembiraan yang sempat kita rasakan bersama…..

Meski hadirmu tak sengaja, tanpa rencana

tapi apa yang telah terjjadi diantara kita, tak terduga …. luar biasa

tak mudah menepis rasa yang sudah terlanjur ada

kebersamaan, kasih sayang telah menyatukan kita

Sampai Sempat rasa putus asa singgah di hati

Dan kebimbangan merasuk jiwa…

haruskah aku melepasmu duhai ...... ?

masih mungkinkah kita bersama2 untuk merjut impian dan menyatukan asa

Sungguh aku hanyalah manusia yang penuh dengan keterbatasan

tanpa dukunganmu.. apalah artinya aku …..

hanya ketika aku dan kamu bergandengan tangan ,melangkah berdampingan

sebuah keajaiban bisa tercipta…….

hari esok bukan hanya miliku….. atau milikmu…. tapi milik kita ....

Saat ini aku hanya ingin bertanya….

apakah kita masih memiliki mimpi yang sama ?

apakah rasamu dan rasaku masih seperti yang dulu ?

saat kita memulai langkah ini bersama…

meretas jalan …. melihat segala kemungkinan

demi kebersamaan… cinta dan persaudaraan…….

aku hanya berharap ,apa yang telah lahir… akan tetap hadir dan terus mengalir…..

dan kamu tau….. tanpamu ….. tanpa keinginan untuk terus berbagi kasih

seiring waktu semuanya kan berlalu…….

sungguh aku tak ingin melihat apa yang telah kita mulai bersama.. berlalu begitu saja….

Ketahuilah….. aku selalu disini….. setia menunggu cinta itu mekar kembali ...

Walau itu terasa sulit dan mustahil untuk bisa terwujud, .......



HAPPY BIRTHDAY FOR YOU

Each year your birthday reminds me
That I really want to say

I’m very glad I know you;
I think of you each day.
I hope you enjoy your birthday,
All the pleasures it has in store,
And because I appreciate you,
I hope you have many more!

Selasa, 06 September 2011

akhirnya GIMBAL lagi ....




akhirnya keinginku untuk kembali gimbal terpenuhi , sebenarnya tidak ada niatan khusus untuk punya rambut model rasta"gimbal" hanya terasa nyaman saja kalo bisa tampil berbeda dari yang lain ,,,,,,
Setelah yang kesekian kalinya gimbal ,masih ada saja beberapa orang memandangku dengan tatapan berbeda. Mungkin mereka penasaran, bahkan tangannya pun ikut penasaran. Jari-jarinya ikut menggerayangi kepalaku. Aku biarkan saja biar rasa penasarannya terpuaskan.

Ada teman yang kontra atau pro dengan gaya rambutku kemarin. Yang kontra bilang kalo aku seperti orang gila gak keurus. Sedangkan, yang pro mensupport dengan apa yang kulakukan dengan rambutku. Tapi, sebenarnya lebih banyak lagi yang cuek dengan model rambutku. Biarlah, aku sendiri sebenarnya tidak peduli dengan mereka. Karena bagiku, model atau gaya adalah selera masing-masing, tidak bisa dipaksakan,


Senin, 05 September 2011

obrolanku dengan sebotol beer ....

berhubung sedikit pening akhirnya botol beer deh yang diajak ngobrol, sory deh kalau agak ngawur dikit ,,,,

berikut hasil diskusiku dengan botol beer malam ini ......hehehehehehehehehe..

” Kenapa tidak kau habiskan ? ” tanya sebotol bir yang tinggal setengah isinya.

” Kepalaku pusing….” jawab seorang lelaki, sambil matanya tidak lepas menata lembaran koran.

” Tidak biasanya kau cepat mabuk, padahal baru setengah kau minum aku.”

” Bukan kau yang bikin kepalaku pusing.”

” Lantas ? ” selidik si botol bir.

Tanpa menjawab, lelaki itu menunjuk ke arah lembaran koran yang dipegangnya . Sebuah berita tentang aksi demonstasi mahasiswa.

” Kenapa ? ” tanya si botol bir yang makin penasaran.

” Aku khawatir adikku ikut-ikutan aksi tersebut.”

” Adikmu kuliah ? Hebat, jarang-jarang preman sepertimu masih memperhatikan adiknya.”

” Aku berharap, kelak adiku tidak mengikuti jejak kakaknya yang selalu meresahkan masyarakat dan berbuat anarkis.”

” Lalu, apa yang membuatmu pusing ? ” tanya si botol bir yang juga belum mendapatkan jawaban.

” Bukankah seharusnya mereka itu ada di kampus, menuntut ilmu supaya nanti berguna bagi masyarakat ? ” tanya lelaki itu polos.

Si botol bir tersenyum meremehkan pertanyaan lelaki itu, yang dianggapnya naif.

” Kawan, mahasiswa itu bukan melulu harus belajar di dalam kampus, mereka juga harus keluar membantu masyarakat menyuarakan aspirasinya…” jawab si botol bir, seakan bangga atas jawaban yang diberikannya.

” Kan sudah ada DPR, untuk apalagi turun ke jalan ? “

Kali ini si botol bir tertawa.

” Macam tidak tahu saja, kawan ini, DPR sekarang tidak peduli lagi dengan rakyat, mereka sibuk mementingkan partainya saja.”

Lelaki itu terdiam, matanya masih menatap lembaran koran yang dipegangnya.

” Membantu masyarakat ? Tapi, adakalanya aksi demontrasi ujung-ujungnya malah meresahkan masyarakat, bahkan sampai bertindak anarkis !? “

” Kalau begitu, untuk apa kuliah mahal-mahal, mending jadi preman sekalian seperti aku ! ” lanjutnya.

Kali ini si botol bir yang terdiam.

aksi demo yang tadinya tenang berubah ricuh. Saling lempar antara demonstan dengan aparat keamanan terjadi, aksi bakar ban, merusak pagar pembatas jalan dan rambu-rambu lalulintas bahkan sesekali ada ledakan bom molotov dan senjata petugas keamanan silih bergantian. Jalanan ditutup, antrian panjang kendaraan terjadi dimana-mana. Seorang reporter salah satu stasiun TV mewawancarai seorang supir angkot perihal penutupan jalan tersebut :

” Susah kalau begini terus, mana setoran belon dapet….” keluhnya.

Tiba-tiba lelaki itu mencekik leher si botol bir.

” Kau mau meracuni pikiranku ? ” bentak lelaki itu sambil siap-siap melemparkan si botol bir

” Mau kau kubuat bom molotov, seperti yang dilemparkan demonstran hingga hancur berkeping-keping ? ?

“jangan emosi dulu kawan jawab botol beer ,,,,

' lalu kena kamu selalu meracuni pikiranku, sambil tak melepaskan cengkramannya kepada botol beer

"bukankah tanpa aku kamu bukan apa apa , ingat hanya aku yang selalu setia menemanimu ,yang selalu mendengarkan keluh kesahmu, kalau aku kau buang siapa yang akan mendengarkan keluhmu, jangan sinting kawan ......

" akhirnya kami terdiam sejenak, dan dalam diam itu ku berucap ........

Keteguk sebotol bir,
bir yang menguap dalam maknanya sendiri
yang menyatu dengan deburan darah dan ludah
menembus dinding kesadaran diri
aku terlelap
aku lupa padamu
lupa terhadap pengkhianatanku.

Layang-layang terbang tanpa kendali
tanpa tali
tali yang dulu diyakininya
akan mengendalikan ke batas kewajaran
Kini,
limbung, terhempas badai kemunafikan
terdampar ke pelabuhan nista
yang kontras dengan suara hatinya
seiring dengan nafsu setannya.

Berlari-berlari dan berlari
menuju alam pelampiasan diri
membelakangi segala tuntutan hidup.
Aku dan sebotol bir….
Satu rasa,
rasa pahit,
rasa getir.


bersambung ......

janggal ( bagian ketiga)

Tengah malam. Aku menghabiskan waktuku dengan gadis itu di sebuah bar yang terletak di lantai paing atas sebuah gedung tua. Aku mengunjungi bar ini sejak bertahun-tahun yang lalu dan suasananya tidak pernah sedikitpun berubah sampai sekarang, musik yang mengalun perlahan dari seorang penyanyi dengan gitar di panggung yang diterangi lampu temaram, jendela-jendela besar yang melengkung anggun membuatku nyaman berlama-lama memandangi lampu-lampu kota yang mengerling malu, lantai kayunya yang berwarna coklat sanggup membuat suara ketukan sepatu seorang gadis yang hanya sedang berdansa malas setengah mabuk terdengar seperti rayuan manja. Di tempat ini gelembung-gelembung bir dingin di gelasku pun selalu terlihat indah. Sempurna.

Dan itulah yang dilakukannya, berdansa malas setengah mabuk. Dengan segelas ramping anggur Grand Cru Burgundy di tangan kirinya dan rokok putih di tangan kanan, membuat ia terlihat seperti sedang memimpin sebuah simfoni orkestra, mengalir anggun sambil sekali-kali ia mendekatkan bibirnya ke pemain gitar itu, ikut bernyanyi hampir tanpa suara.

Aku mengamatinya dari jauh, memandangi setiap gerakannya, mencoba mengartikan asap putih yang sesekali keluar dari bibir tipisnya. Dia menyembunyikan sesuatu, aku tahu. Lengkung alis itu menceritakan semua yang ingin kudengar, dan gaun merah itu tak pernah berbohong.

Ia menghabiskan minumannya kemudian duduk di bar, bersiap untuk satu gelas lainnya.

"Hey..."

Ia menoleh kepadaku dan menatapku heran.

"Bisa kesini sebentar..?"

Ia mengacuhkanku dan kembali menghadap bar. Tak lama kemudian minuman yang dipesannya datang dan diletakkan di depannya, ia menyalakan rokok, mengambil gelas itu kemudian berjalan pelan menghampiriku.

"Kenapa..??"

Ia mengatakan itu sambil tersenyum kecil seakan aku adalah seorang laki-laki tak dikenal yang mencoba untuk merayunya.

"Bisa duduk disini sebentar..?"

"Setelah gelas ini.."

Ia kembali tersenyum.

"Ayolah...kamu bisa duduk disini dan minum itu sesukamu"

Ia menghembuskan nafas pendek kemudian menarik kursi dan duduk di depanku.

"Ada apa..?"

Aku tak menjawab dan berusaha mencari pemantik yang ternyata ada di sakuku untuk menyalakan rokok yang baru saja kukeluarkan dari tempatnya. Asap mengepul.

"Ada yang mau kamu ceritakan..?"

"Tidak."

Ia menjawab itu terlalu cepat. Sedikit terlalu cepat.

"Oh ya? Aku kenal kamu lebih dari yang kamu kira."

Ia menenggak sedikit minumannya kemudian melipat kedua tangannya di dada. Orang yang berbohong selalu berusaha menempatkan sebuah penghalang didepannya untuk menjaga jarak, entah itu melipat tangan atau gerak-gerik lainnya. Itu naluri.

"Atau kamu sudah punya orang lain untuk mendengarkan kamu cerita?"

"Hey..itu tidak adil."

"Kalau begitu aku mendengarkan..."

Ia menggigit-gigit bibirnya dan kembali menghisap rokoknya.

"Tadi malam aku bermimpi, ada tiga orang duduk dikamarmu. Aku, kamu, dan satu orang lagi yang aku tidak tahu siapa. Orang itu cuma diam memperhatikan kita. Tidak bicara. Tidak berkedip, dan pandangannya selalu mengarah kepadaku.Tiba-tiba ia menarik tanganku dengan raut muka memohon supaya aku ikut dengannya pergi dari situ."

"Lalu?"

"Sudah lebih dari seminggu ini aku bermimpi seperti itu."

"Bukankah suatu saat nanti kamu memang akan pergi?"

Waktu berhenti. Raut mukanya berubah. Ia tahu, suara penyanyi dengan gitar itu tidak lagi terdengar, gelembung-gelembung bir itu tidak lagi berkejar-kejaran mencari udara. Lilin berhenti meleleh karena kecewa apinya tak lagi dipedulikan. Sunyi.

"Aku tidak mau terus seperti ini."

Ia mengatakan itu pelan sekali, seakan ia takut membangunkan logika yang selama ini ia bungkus dengan rapi. Seakan ia takut tidak dapat menarik lagi ucapannya.

"Apa yang kamu maksud dengan seperti ini?"

Tak ada jawaban.

"Boleh aku tanya sesuatu?"

Aku bertanya sambil tetap melihat dalam ke matanya. Tak akan kubiarkan sedetik pun ia memalingkan pandangannya dariku.

"Silahkan."

Ia menjawab itu tetap dengan pelan sekali. Hampir tidak terdengar.

"Kenapa harus menunggu malam kalau petang bisa membuatmu nyaman?"

Bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu tapi sadar kalau jawabannya bisa melukai seseorang. Ia tahu kalau selama ini aku bertuhankan mimpi, dan ia telah menemukan tuhannya sendiri.

"Karena aku ingin melihat pagi..."

Dan memang ia telah menemukan tuhannya sendiri, dengan ratusan bunga lili yang berjatuhan dari langit menyirami tubuhnya yang seindah telanjang bulan malam. Hitam. Indah dan menyakitkan. Dimulai dari malam itu aku tahu, suatu saat nanti dia akan pergi, dan aku hanyalah tak lebih dari malaikat yang menangis karena dihukum tuhannya untuk hidup selama-lamanya dalam perayaan sepi, sekalipun sayapnya telah lama mengering mati.

janggal (bagian kedua)

Aku sedang tertidur pulas ketika sayup-sayup mendengar pintu kamarku diketuk seseorang. Berulang-ulang dan semakin jelas. Dan setelah itu ditambah dengan suara seseorang memanggil-manggil namaku. Aku mencoba untuk duduk tegak dan membiasakan retina mataku beradaptasi dengan cahaya yang tiba-tiba masuk dari lampu kamar yang tetap temaram. Kepalaku terasa berat sekali sehingga aku hanya bisa mengerutkan dahi setiap orang itu terdengar memanggil namaku lagi, samar-samar. Aku menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan mencari jam, suatu tindakan sia-sia yang kuulangi setiap hari selama 2 tahun di kamar ini karena aku tahu di kamar ini tak ada jam. Cahaya. Suara. Berat. Itu suara Pak Dar.

Aku membuka pintu kamar dan melihat seorang laki-laki tua berdiri di depan pintu kamarku memegang segelas kopi panas. Ia tersenyum hanya mengenakan kaus kutang dan terlihat lelah.

"Kenapa, Pak Dar?"

"Nih, Sarapan dulu. Sekalian temenin saya ngobrol"

Ia menyodorkan gelas kopi yang dibawanya kepadaku. Kuambil gelas itu dan meniup-niup isinya.

"Jam berapa ini?"

"Setengah tiga sepertinya. Tadi saya sampai rumah saja sudah jam dua lewat."

"Kok malam sekali pulangnya, Pak?"

"Kalau saya pulang cepat kamu mau gantikan saya bayar semuanya?"

"Ya ngga gitu juga, Pak..."

Kami berdua duduk di teras depan kamar. Kopi panas yang dibawakan oleh Pak Dar tidak terlalu membantu menghangatkan udara dan lantai keramik yang dingin. Malam itu angin terlihat seperti sedang berusaha untuk membuat semua orang tetap didalam rumah, bertiup pelan tapi dingin dan terus menerus.

"Kamu kok tumben jam segini sudah tidur?"

Pak Dar bertanya tanpa menoleh kepadaku.

"Lagi agak ngga enak badan saya, Pak. Sudah dua hari ini."

"Hahahahahaha...."

Ia tertawa lepas sekali sampai bahunya terguncang-guncang, kemudian terbatuk-batuk seperti orang tersedak makanan.

"Kok saya malah ditertawakan, Pak?

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang membuatnya tertawa seperti itu.

"Badan kok disalahkan. Kasihan badanmu itu, sudah kerja rodi tiap hari masih saja disalahkan. Sudah bagus dia masih mau melayani nafsu tuannya. Kalau suatu hari dia ngambek, mutung terus ngga mau kerja lagi gimana hayo? hayoh..."

"Halah..saya kira kenapa Pak."

"Semua itu asalnya dari sini, cah bagus..."

Ia menekan-nekan pelipisku dengan jari telunjuknya.

"Semua yang kamu rasakan, kamu lihat, kamu dengar, kamu benci, kamu sembah. Semua berasal dari sini."

Aku terdiam, orang tua ini sudah mengalami terlalu banyak peristiwa untuk dibantah.

"Maksud Pak Dar saya sakit karena saya mau sakit?"

"Apa kamu bernafas karena kamu mau bernafas?"

Aku kembali menyeruput kopiku yang sudah mulai dingin. Pak Dar menyalakan sebatang rokok dan menawariku.

"Ndak Pak, terimakasih. Tenggorokan saya lagi ngga enak."

Ia mengangguk-angguk dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

"Saya boleh tanya sesuatu, Pak?"

"Silahkan, selama bisa saya jawab pasti saya jawab"

Aku bisa melihatnya menahan nafas, seolah bersiap-siap kalau-kalau aku menanyakan sebuah pertanyaan yang akan merontokkan pertahanan dirinya selama ini.

"Kenapa Pak Dar ngga pernah pulang?"

Dilepaskannya nafas yang tadi ia tahan.

"Pulang kemana? Pulang itu kan kalau kita punya rumah."

"Pak Dar kan punya rumah, saya tau kok. Pak Dar juga pernah cerita sama saya."

Ia terdiam. Angin kembali berhembus seakan membujuknya untuk menjawab pertanyaanku.

"Coba beri tahu saya dulu apa yang kamu maksud dengan rumah itu. Kalau maksud kamu bangunan tembok yang ada atapnya untuk kita tidur saya punya banyak. Tapi kalau maksud kamu tempat yang bisa membuat saya merasa aman, dihormati, merasa sebagai manusia utuh, saya sudah tidak punya."

"Berarti saya juga tidak punya rumah ya, Pak?"

Ia memegang gelas kopinya erat-erat.

"Apapun yang kamu lakukan, hati-hati dengan pikiranmu, cah bagus. Pikiranmu bisa menjadikanmu apa saja, membawamu kemana saja, dan membenarkanmu untuk berhenti berpikir kapan saja..."

"Sudah belum kopinya?"

Pak Dar membuyarkan lamunanku.

"Sudah, Pak."

Aku memberikan gelas kopi yang sudah kosong kepadanya.

"Saya masuk dulu ya, nanti saya mau membetulkan jam tangan saya di pinggir kota, repot kalau tidak punya jam."

"Iya Pak. Terimakasih"

"Sama-sama, kalau kamu masih nggreges, masih ngga enak badannya nanti malam saya kerok aja"

"Iya Pak."

Pak Dar masuk ke kamar dan meninggalkanku sendirian. Aku kembali terdiam. Kosong. Langit merayakan malam dengan hitam.

bersambung .....

Minggu, 04 September 2011

janggal ( bagian pertama)

Pintu kamar terbuka perlahan, bersamaan dengan suara derit yang seolah berfungsi sebagai penanda bagi -apapun itu- yang sedang berada di dalam kamar bahwa penghuni yang sebenarnya sudah datang.

Aku masuk kedalam kamar dan menutup pintu.

Gelap. Barulah tak lama kemudian aku dapat menemukan saklar lampu sehingga sedikit cahaya dari lampu tidur kecil menerangi kamar itu, temaram saja.

Kamar ini jelas bukan kamar yang nyaman untuk ditinggali kalau tidak mau dibilang absurd, sedikitnya ada tiga buah asbak yang sudah terlalu penuh dengan puntung rokok dan baju-baju kotor yang terserak begitu saja di lantai, dindingnya dicat hitam dan dipenuhi dengan tulisan-tulisan kapur putih yang terlihat acak dan pudar di beberapa bagiannya, sedangkan satu sisi terakhir disesaki dengan puluhan selebaran pengumuman orang hilang yang menempel tumpang tindih karena sudah tidak ada ruang lagi. Aku selalu merasa potret orang-orang hilang tersebut punya kesedihan bercampur amarahnya sendiri-sendiri dan saling berebut ingin didengarkan, atau sebaliknya mereka justru mendapatkan ketenangan dan kehidupan yang mereka cari setelah dianggap "hilang" oleh keluarga atau siapapun itu yang merasa kehilangan atas bebasnya mereka.

Lalu ada lemari buku di sudut dinding dekat jendela, lemari buku itu adalah satu-satunya bukti bahwa penghuni kamar ini adalah makhluk yang beradab dan berbudaya, bahwa aku tidak mungkin meludah sembarangan, menyerobot antrian, atau selapar-laparnya membius gelandangan yang tertidur pulas di emperan toko lalu membawanya pulang untuk kujual organ-organ tubuhnya ke pasar gelap dan memakan sisa-sisa dagingnya mentah-mentah, setidaknya aku belum pernah berpikir untuk mencobanya. Menurutku membaca buku adalah suatu perjalanan dari ketidaktahuan yang berubah menjadi suatu perasaan aneh ketika selesai membacanya, senang rasanya mengetahui bahwa aku mengisi sedikit lagi rongga di dalam kepalaku dengan suatu hal yang baru.

Aku menyewa kamar ini 2 tahun yang lalu, di hari kelima aku melarikan diri dari rumah. Pemilik kamar kontrakan ini -ibu-ibu separuh baya yang dengan sedikit memaksa minta dipanggil Tante- bilang aku bebas melakukan apa saja di kamar ini asalkan aku membayar tepat waktu, 450 ribu rupiah setiap bulannya. Persis seperti yang kucari. Tante berjanji selama ia belum mendapatkan suami lagi ia tidak akan merubah peraturan itu. Yang kutahu suaminya melarikan diri bersama salah satu wanita yang juga penghuni salah satu kamar kontrakannya. Hanya itu yang dia ceritakan selama 2 tahun ini, tak lebih. Kalau melihat kelakuan serta dandanannya selama ini sepertinya peraturan itu takkan berubah untuk waktu yang lama.

Dan sepertinya ia benar-benar menepati janjinya, aku pernah melihat salah satu penghuni kontrakan ini bersama 3 temannya membopong seorang gadis muda yang sudah sangat mabuk kedalam kamarnya dan membuatku tak bisa tidur semalaman karena gadis itu menangis kesakitan sepanjang malam selagi pemuda-pemuda tengik itu tertawa-tawa tak kalah mabuknya dan berulang kali membentaknya agar ia diam, aku juga pernah menemukan seorang laki-laki tertidur di depan pintu kamarnya ketika aku pulang menjelang pagi dan aku baru tahu keesokan harinya kalau orang itu ternyata sudah mati dengan jarum suntik masih menempel di lengannya ketika 2 orang polisi berpenampilan seperti copet kereta api mengetuk kamarku menanyakan berbagai pertanyaan tentang orang itu yang sebagian besar kujawab dengan jawaban tidak tahu. Dan Tante tidak perduli, yang ia kutuk hanya karena orang itu meninggal sebelum membayar uang sewa kamarnya 2 bulan terakhir.

"Bayar saja uang sewamu paling lambat tanggal 5 setiap bulan. Setelah itu kamu mau menyembah setan? Silahkan, asalkan jangan berisik."

Aku ingat sekali pesan Tante sewaktu aku pertama kali pindah kesini, dan tampaknya dia punya definisi berisik yang sangat berbeda denganku.

Tetangga sebelah kananku bernama Pak Dar, supir taksi yang tak pernah berpakaian seperti layaknya supir taksi ketika dinas, kendaraannya pun tidak terlihat seperti taksi jika di atasnya tidak ada lampu bertuliskan taksi yang kini sudah berwarna putih polos karena tulisannya sudah pudar. Tebakanku Pak Dar berumur sekitar 60an, badannya kurus seperti meranggas dimakan angin malam, wajahnya tipikal seperti orang Jawa kebanyakan dengan tulang pipi yang menonjol dan dibungkus kulit tipis berwarna coklat matang. Rambutnya berwarna perak dan selalu disisir rapih ke belakang. Aku adalah teman bicara satu-satunya dan aku memang menyukai orang tua ini, ia bisa begitu bijak dan spontan dalam waktu yang bersamaan, ia bisa begitu fanatik sekaligus skeptis tanpa terlihat bodoh, tapi aku tahu pasti di balik itu semua ada perasaan kesepian yang sangat kuat, yang membuatku tak pernah punya cukup alasan untuk menanyakan tentang hal itu kepadanya.

Ia seperti punya aturan tidak tertulis "Jangan pernah tanyakan masa laluku kecuali aku yang menceritakannya terlebih dahulu kepadamu."

Pak Dar punya kebiasaan membawa pulang barang-barang penumpang yang tertinggal di dalam taksinya, apapun itu, dan aku terkejut ketika mengetahui barang apa saja yang ditinggalkan secara tidak sengaja oleh penumpang taksi, dari yang memang mudah tertinggal seperti telepon genggam, payung, sampai barang yang terlihat mustahil bisa ditinggalkan pemiliknya seperti 2 buah kopor besar untuk bepergian, televisi berwarna 14 inchi, sampai celana dalam wanita.

Di suatu malam Pak Dar pernah berteriak-teriak memanggil namaku sambil berlari dari kejauhan, dan ketika aku keluar dari kamar ia mendatangiku dengan selembar uang 100 dollar Amerika menempel di keningnya, sewaktu aku memberitahunya bahwa tindakan itu bisa menurunkan nilai tukar uang tersebut ia segera berlari mengambil kitab suci yang selalu ia bawa di taksinya dan menunjukkan 6 lembar lagi uang yang sama diselipkan rapih-rapih di lembaran-lembaran kitab suci itu.

Malam itu kami minum whiskey import sampai kami berdua tak sadarkan diri.

Aku melepaskan sepatuku, melemparkannya ke sudut ruangan, lalu duduk bersandar di dinding. Hari ini melelahkan sekali, pikirku. Sepi. Suara angin bahkan hampir tidak terdengar. Seperti biasanya aku merasa ada sesuatu yang duduk di sudut kamarku yang gelap karena tidak terkena cahaya lampu, dan itu membuatku tenang. Aku suka sekali sepi, seharusnya semua orang menyembah sepi, berdoa di setiap hari minggu atau sujud berserah diri kepadanya lima kali sehari.

Aku mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya, asap mengepul.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu lalu merogoh saku kanan celana jeans lusuhku, selembar kertas yang terlipat empat dengan rapih, walaupun sebetulnya itu tidak membantu karena sebelumnya kertasnya sendiri sudah berantakan tidak karuan. Kertas itu berwarna putih dan berisi tulisan tangan yang difotokopi sehingga membuatnya semakin sulit dibaca. Di bagian atasnya terdapat foto pemuda berusia 25 tahunan. Atau lebih muda dari itu tapi dia menderita cacat mental sehingga terlihat lebih tua.

Aku memperhatikan foto itu sebentar kemudian menempelkannya di dinding, diantara ratusan orang-orang sepertinya. Setidaknya disini ia mendapatkan tempat.

Tak lama kemudian pintu kamarku terbuka, seorang gadis masuk ke dalam. Gadis itu, lebih muda tak begitu jauh denganku, rambutnya hitam panjang terurai. Alisnya melengkung dengan sangat anggun menghiasi matanya yang juga hitam berkilat, seakan ia ingin menaklukkan seluruh dunia dengan mata itu. Ia adalah gadis terindah yang pernah kukenal, bahkan semenjak aku belum mengerti apa itu indah. Dan seperti apa rasanya tak bisa memilikinya. Ia sangat cantik kalau sedang tersenyum dan bahkan lebih cantik lagi ketika tertidur pulas. Gadis ini adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku terlihat bodoh ketika berdiskusi dengannya. Dan entah kenapa aku suka itu.

"Lagi ngapain kamu?"

Ia memandangiku seakan aku adalah orang asing yang mencuri masuk ke kamarnya diam-diam ketika ia pergi.

"Tutup pintunya, silau." Aku memicingkan mata sambil setengah menutupinya dengan tangan kiriku.

Ia menutup pintu lalu bergabung denganku di tengah temaram ini. Aku memperhatikannya duduk di depanku lalu mengeluarkan sebungkus makanan dari kantong plastik hitam yang dibawanya.

"Makan nih, aku bawain makanan. Kamu belum makan kan?"

"Nanti aja ah, males."

"Kamu kapan sih ngga males." Ia mengatakan itu tanpa melihat ke arahku sambil menyalakan rokoknya.

"Dari mana kamu?"

"Dari rumah." Asap mengepul dari bibirnya yang tipis. Bibir yang sangat kukenal. Aku menatapnya dalam. Ia menunduk. Sesaat kemudian ia melirikku dan langsung membuang muka saat tahu aku sedang memandanginya.

Aku bertanya pelan, "Ada apa?"

"Ngga ada apa-apa."

"Ini jam 2 pagi lho, kok kamu bisa keluar rumah jam segini?"

Ia terdiam sejenak, hanya sejenak tapi sudah lebih dari cukup untukku mengetahui bahwa ia berbohong.

"Iya aku dari rumah teman, tadinya mau langsung pulang tapi malah jadi kesini."

"Terus?"

"Ya aku mau tidur disini."

"Terus nanti sewaktu kita bangun Mama udah ada di depan pintu kamarku?"

Ia terdiam lagi.

"Tidak mungkin, Mama taunya aku tidur di rumah temanku."

Ia tahu dengan mengatakan itu berarti ia membiarkanku mengetahui satu hal lagi yang ia tutupi.

"Berarti kamu emang ngga niat pulang dari awal?"

"Iya. Dan kamu pasti sudah tau dari pertama tadi aku datang kesini."

"Memang."

Aku merangkulnya dan membiarkan ia menyenderkan kepalanya di pundakku. Sekarang aku tak takut lagi, pagi boleh datang kapan saja. Aku sudah memiliki semuanya.

bersambung .....

Sabtu, 03 September 2011

dulu terasa indah bersama

mencoba sedikit puitis karena teringat masa lalu bersamamu, semoga aja kamu bisa mengerti

biarkan semua kenangan diantara kita
terpatri dijiwa dan di blog ini
biarkan semua kisah kasih kita
tetap mengalir dan mengenang melalui blog ini
dan biarkan semua kisah kasih kita
tersimpan rapi dan tertata indah di blog ini
karena sejuta kenangan bersamamu
serta sejuta senyum dan kasih yang dulu pernah kau beri
akan mengenang dan tetap terkenang

meski cintamu tak ada lagi
izinkan aq tetap mencintaimu selamanya

karena sejuta kenangan indah bersamamu
tak akan pernah bisa hilang dari ingatanku
serta tak akan mungkin pernah bisa berlalu

karena engkau yang membuat aku
bisa tertawa
bisa tersenyum
bisa bahagia
bisa sedih
bisa was-was
bisa cemburu
bisa menyayangi
bisa mengerti akan cinta seorang wanita
bisa memahami sifat dan karakter wanita
bisa mendengar wanita menangis bahagia
bisa mendengar wanita menangis karena berduka
bisa mendengar dan merasakan keluh kesah seorang wanita
bisa membuat aq semangat
bisa membuat aq tegar
bisa membuat aq tak salah langkah
dan masih ada sejuta manfaat yang aq rasakan darimu dulu

dan aq ucapkan terima kasih atas semua kasih sayang,perhatian,pengertian,ketulusan,kejujuran,ketabahan,kesabaran,kekuatan,saat bersamaku dulu
tak ada yang bisa aq lakukan untuk membalas semua kebaikan yang pernah engkau berikan dulu, jika saja waktu bisa diputar kembali pasti aku tak akan pernah meninggalkanmu ..

Jumat, 02 September 2011

INTUISI

Saya belajar,bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya.

Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai...

Saya belajar,bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan,

dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya...

Saya belajar,bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,

justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali,

serta orang yang begitu perhatian pada saya....

Saya belajar,bahwa sahabat terbaik bersama saya

dapat melakukan banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik....

Saya belajar,bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh

walau dipisahkan oleh jarak yang jauh

.Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...

Saya belajar,bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan,

bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya....

Saya belajar,bahwa sebaik-baiknya pasangan itu,

mereka pasti pernah melukai perasaan saya dan untuk itu saya harus memaafkannya......

Saya belajar,bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain....

, kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus....

Saya belajar,bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu,

dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya...

Saya belajar,bahwa saya tidak dapat merubah orang yg saya sayangi,tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri....

Saya belajar,bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,

tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan....

Saya belajar,bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda

,tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....

Saya belajar,bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki,tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya....

Saya belajar,bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini

,semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati....

Saya belajar,bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau

sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...

Saya belajar,bahwa saya punya hak untuk marah,

tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis....

Saya belajar,bahwa kata-kata manis tanpa tindakan

adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai...

Saya belajar,bahwa orang-orang yang saya kasihi justru sering diambil segera dari kehidupan saya....

Selamat belajar , semoga kita sadar.. !!!!!

Love doesn't make the world go round,

Love is what makes the ride worth while