Selasa, 27 Desember 2011
hiding my heart .....(stay)
Kepada mata yang tiada pernah kutatap,mata yang selalu kurindu ...
Hanya suara yang bisa kukenang, hanya itu...
Aku tau ia bertahtakan mawar putih dan mungkin itu berduri,berbeda denganku...
Hanya setangkai edelweis yang tumbuh liar diantara puncak-puncak gunung yang beku, dan menunggu pertengahan musim untuk bermekaran, agar menjadi penghias segala yang tinggi,yang tumbuh ditanah, kemudian dipetik,untuk menjadi kenang-kenangan....
Aku pernah bicara dengannya, berbicara tentang bintang tanah, bintang yang tentu saja bisa untuk digapai, cerita tentang yang mungkin, bukan berbicara tentang bintang-bintang yang tergantung dilangit bersandingkan bulan..ia terlalu takut untuk itu...
Dan....ketika itu aku selalu saja untuk menjadi bara agar semuanya tetap berjalan, tidak berapi dan tidak mati. namun, pada saat ini butiran embun yang menjadi mutiara fajar telah meluluhlantahkan bara untuk tetap ada.
Dan...aku berharap untuk bara padam selamanya, pada kenyataannya tidak!!
Biarkan aku dendangkan semua ini dalam hati kecil yang terkunci agar tak banyak yang tau yang aku dendangkan.
Mentari, mentari dan mentari.....
Lekas jemput sang malam ini....semuanya akan bermuara pada pagi buta walau sering malam menjadi semakin panjang...
bagaimana aku bisa berpisah jika perjumpaan saja belum usai ...
Sungguh sangat pelik cerita ini bagi jiwa-jiwa yang murni dalam berkasih, semoga kalian tidak termasuk kedalamnya.
Percaya atau tidak....aku telah dipeluk kedalamnya, kedalam satu bentuk untaian mesra yang penuh makna dan tak berwujud.
Dendangkan ini kepadanya dan di saat dia mendengar, itu pun cukup!!!
Karena ia tau aku selalu ada untuk nya meski dalam rentang hembusan angin yang panjang dan dalam ketidak sempurnaan aku.
Senin, 26 Desember 2011
intuisi tentang dirimu .....
ya, seperti kamu.
Ruangan putih ini memang istimewa. Bunga-bunga di ujung pintu melengkung anggun. Lavender di antara lily, cerdik. Ungu yang memikat di antara warna putih yang sendu. Memberiku satu dua hal untuk mengisi waktu. Aku duduk menyesap minuman merah sambil tersenyum sekali dua kali kepada orang yang kebetulan aku kenal. Tak banyak, seperti kamu.
ya, seperti kamu. selalu ada di tengah ruangan bercakap dengan dua-tiga orang. walau aku tahu kamu tak melupakan aku. Nah, sekarang kamu tersenyum padaku, mengedipkan sebelah mata. Aku membaca sekilas permintaan maaf karena lagi-lagi meninggalkanku duduk di sudut. Seperti biasanya.
Aku senang duduk menunggumu. Aku menikmati setiap gerakmu, lenggang kakimu seperti seekor kucing pemalas yang hafal peta wilayah, hidungmu yang berkerut saat kamu tertawa, dan matamu yang menyipit tulus saat kamu tersenyum. Aku menikmati caramu bercakap-cakap, suaramu rendah dan cerdas. Kamu selalu punya segudang cerita, selalu punya sederet kawan, wajah-wajah asing yang belum pernah kukenal. yang selalu kamu jabat dengan wajah penuh kehangatan, seperti menemukan kawan lama yang dua dekade lamanya tak terdengar berita. Disanalah kamu berada, di tengah pesta, dengan tangan yang tak pernah kosong mengabsen satu persatu wajah yang lalu lalang. Dan disinilah aku berada, di sisi ruangan, takluk total pada karismamu yang memancar.
Kadang-kadang cinta memang datang bersama badai, tidak merasa perlu mengetuk pintu. Digoyangnya seisi rumah untuk menerjang masuk. Seperti kamu.
Ya, seperti kamu.
Kalau dipikir-pikir sejak kita berkenalan kamu memang seperti badai. Tiba-tiba kamu muncul menyodorkan tangan dengan wajah berseri-seri seperti anak kelas dua esde, lengkap dengan cengiran yang memamerkan gigi depanmu yang seperti hamtaro. Kamu seperti paket hari raya yang membuat aku berusaha sekuat tenaga tidak tertawa. Hari itu. Dan hari-hari kita selanjutnya.
Kamu yang suka bahasa kaum Hitler, bersama-sama kita menonton Schindler's List versi jerman. Full. Tentu dengan subtitle inggris untuk membantuku, si muggle duniamu. Sebagai gantinya kamu rela menonton Ju On maraton selama 4 jam menemani aku yang hobi film horor tapi alergi darah. Satu hari kamu mengetukku berbagi indomie kiriman dari indonesia, meredakan homesick aneh di malam yang ababil. Kamu yang selalu memutar musik-musik lembut, aku selalu ingat kamarmu yang rapi dan 'berbau coldplay' begitu kontras dengan dentuman linkin park yang mengisi pagiku. I'll have to say I love you in a song. Satu-satunya titik temu yang menjadi alasan mengapa kita selalu memutarnya di saat-saat kita bersama.
Tentang kenapa aku baru sadar bahwa kamu memang istimewa padahal kita sudah bertahun-tahun saling mengenal... jangan tanya lagi. Rasanya di leherku ada segumpal daging tumbuh yang membuat minuman ini jadi asin. Loh, kok jadi asin?Seingatku tadi ini es buah. Kuaduk-aduk gelasku mencari penjelasan.
Sebuah jari tiba-tiba mengetuk-ngetuk mejaku.
Kamu. akhirnya giliranku tiba.
Senyum lebarmu mengembang melihat aku tersenyum.
'Terimakasih sudah datang ya'
apa sih yang ngga buat kamu
'Aku ngga nyangka kamu mau dateng'
karena percakapan terakhir kita yang membuat kamu mundur teratur?
'Doakan aku ya', kamu tersenyum singkat, melambaikan tangan dan bergegas pergi menuju ke depan ruangan.
Aku memandang punggungnya menjauh tanpa bisa berkata apa apa. kamu tersenyum. dengan kehangatan yang dulu pernah kukenal.
tapi bukan untukku.
Lalu aku melihat dia.
Dia berjalan anggun dengan gaun putihnya, duduk di sebelahmu.
Kalian bertukar pandang. Pandangan yang membuat aku tertegun. Sumpah mati dulu kamu pernah memandangku dengan cara yang sama. Tapi tanda apalagi yang aku cari saat aku tahu kita sudah terikat pilihan ?
Tanda apalagi yang aku cari di hari bahagiamu ini?
Kadang-kadang cinta memang seperti sungai, semakin dalam semakin tenang. Kadang aku berharap ia beriak saja agar aku tahu. Agar aku yang tak mengerti bahasa halusmu mengerti apa yang sedang terjadi. Ketenangan yang menipu ini rasanya menyesakkan. gumpalan di tenggorokanku semakin mencekik dan minuman di dalam gelas ini semakin terasa asin..
27 desember 2011
Disaat hujan turun, kedinginan, dan masuk angin berkepanjangan
Jumat, 02 Desember 2011
sudah terlalu lama
Setelah bertahun2 lamanya aku melupakanmu.
.
Kau hadir dengan postur tubuh yg sedikit berubah.
Tetap dengan kulit putihmu.
Kau tak banyak bicara apalagi tertawa.
Senyum yang seadanya kau lempar padaku.
.
Tatapan matamu kosong seolah tak ada yang pantas untuk kau pandangi.
Kau terlihat begitu menderita sehingga memunculkan kembali rasa ibaku.
.
Ah...selalunya aku begitu kepadamu. Tak mampu aku melihat wajah kuyu melayu.
.
Padahal aku harusnya mengasihani diriku.
Selasa, 08 November 2011
sama kah mimpi kita .....
Samakah denganku?
Aku memimpikan seorang gadis yang sedang duduk menghadap kaca
Matanya sembab disesaki ulat tak bernyawa
Rambutnya panjang tergerai memenuhi ruangan berlantai kayu yang tidak berhenti berderak ketika aku masuk ingin merayu
Wajahnya dipenuhi huruf-huruf untuk kemudian menceritakan semua yang ingin kutahu
Ketika aku kehilangan akal sehatku satu persatu
Ketika darahmu memenuhi kelopak mataku
Benarkah kau juga memimpikan itu?
Termasuk gaun hitam membungkus tubuhnya yang biru?

Tadinya aku ingin pergi
Tepat ketika gadis itu menatapku dan menjerit dengan cantiknya
Tepat ketika gadis itu menjahit tangannya sendiri dengan racauan yang mengiris telinga
Bulu matanya meleleh
Menetes perlahan di rahimnya untuk kemudian meninggalkan seonggok luka yang takkan kulupa hangusnya
Kau ingat ini?
Rapal melati yang mati mewangi?
Wangi yang sama ketika kau menari merayakan logika
Ketika kau mencumbui malam hanya untuk membuatnya tetap terjaga
Apa maksudmu?
Kau yakin itu bukan mimpi?
in memoriam, ( hari dimana kau pergi)

disekitar wangi melati
sepotong tangan..mengadah dan bisu…
begitu nyata dan fana… memimpikan sekilas ciuman panas…
rembulanku yg begitu kusayang..
disini saat nanti……
nafas yg tersenggal ini akan berakhir..dan darah kering yg kembali menetes segar..
cuma satu ingatan sekaligus..bayang samar masa depan..
lalu kelak semua akan tahu..ku hanya menulis nama kecilku saja..
kecuali mencintaimu..aku tak ingin apapun…
setelah kamu pergi..yg tertinggal hanya doa.. disisa hari,,penuh rambu…bergegas cemas melintasi gerimis.. tak ada lagi..rembulanku yg hening..menerangiku.. tinggal mata yg letih..menahan tangis..tak ada lagi tawamu.. mengais sunyi malam hari…aku sendirian kini…diantara sisa waktu..
Jumat, 04 November 2011
jiwa ku adalah pendaki gunung ...
Dengan mengorbankan begitu banyak tenaga, waktu, dan mungkin bahkan nyawa,
Mendaki gunung mengajarkan banyak hal tentang hidup,
terutama keagungan alam sekaligus kegigihan manusia untuk hidup.
Gunung adalah tempat belajar yang utama bagi kami, para petualang.
Melihat puncaknya dari dekat dan merasakan gigil dingin anginya menyadarkan tentang betapa rapuh manusia.
Puncak sebuah gunung itu terasa anggun, jauh, dan seperti tak terengkuh
Namun kami, para petualang selalu menapak jalan, mendaki dan menyusur jurang sambil membawa beban ber puluh puluh kilogram di punggung kami, terasa betapa gigih perjuangan hidup kami.
Perjuangan yang selalu mencambuk kami para pendaki untuk terus mendaki ke atas melampaui daya fisik manusia.
Keyakinan dan kegigihan untuk mencapai yang tertinggi hingga batas daya manusia adalah kunci dari kesuksesan setiap pendakian.
Di dalam hati kami telah berjanji
Akan kami daki puncak yang paling tinggi
Akan kami kibarkan bendera kemenangan
Serta lambang kokohnya jiwa kami
Senin, 31 Oktober 2011
HANYA INGIN KAU TAU ...
If I knew it would be the last time I would watch you fall asleep I would tuck you in more tightly and pray the Lord your soul to keep. If I knew it would be the last time that I see you walk out that door, I would give you a hug and a kiss and call you back for one more. If I knew it would be the last time I would hear your voice lifted up in praise I would video tape each action and word and play them back day after day. If I knew it would be the last time, I could spare an extra minute or two to stop and say “I love you” instead of assuming you would know I do. If I knew it would be the last time I would be there to share your day, well I’m sure you’ll have so many more, so I can let just this one slip away. For surly there is always tomorrow to make up for an oversight, and we will always get a second chance to make everything right. There will always be another day to say our “I love you’s” and certainly there is another chance to say our “Anything I can do’s?” But just in case I might be wrong and today is all I get, I would like to say how much I love you and I hope we never forget, tomorrow is never promised to anyone old or young alike, and today may be the last chance to hold your loved one tight. So if your waiting for tomorrow why not do it today? For if tomorrow never comes you’ll surly regret the day, that you didn’t take that extra time for a smile a hug or a kiss and you were too busy to grant someone what turned out to be their one last wish. So hold your loved ones close today and whisper in their ear tell them how much you love them and that you’ll always hold them dear. Take time to say “I’m sorry, please forgive me” “Thank you” or “It’s ok” and if tomorrow never comes you’ll have no regrets about today....
BUT ALL THAT HAS HAPPENED .....
subuah karya ..
Merobohkan angkuh dalam diri
Memandang luas panorama
Terbentang membentuk peradapan
Dalam luas karya-Nya
Sisi gelap dalam diri
Hilang dengan sendirinya
Ketika ku berjalan menembus waktu
Menggali sisi keindahan
Dari setiap panorama
Berjalan dan trus berjalan
Menuju proses pembelajaran
Dari alam untuk kehidupan
Berusaha merobohkan tembok fatamorgana
Yang terbentuk karena kebodohan
Aku akan trus berjalan
Mengenali siapa aku
Menebarkan benih-benih kecintaan
Pada karya alam ...
Kamis, 27 Oktober 2011
konsep hidup...
Bertahun - tahun aku hidup denga menikmati konsep - konsep yang ada di otakku, membawaku ke dunia imajinasi dan fantasi yang terlalu dalam membelusuk sehingga aku tak bisa membedakan mana kehidupan nyata dan mana sebuah imajinasi dan fantasi karna konsep yang aku ciptakan di otakku. MikroChip kecil yang berisi ribuan molekul molekul program jaringan bersambungan menjadi satu, melahirkan ribuan konsep yang membuatku begitu menikmati permainan otak serta logika. Ibarat game perang, memacuku untuk mempertahankan ke egoisanku, karna aku berfikir otakku, harus aku yang mengatur, bukan aku yang di doktrin oleh jaringan - jaringan otakku, yang membuatku menciptakan manusia yang hidup hanya dengan Logika tanpa ada perasaan.
Konsep - konsep yang aku cipta berawal dengan ujung labirin - labirin serta puzzel yang harus aku ciptakan. Dimana hanya aku yang dapat memahami konsep tersebut dan membuat lapisan lapisan ring 1 sampai 10 agar tidak tertembus virus yang mengancam masuk menembus labirin dan menemukan ujung jalan dan bermain dengan puzzel yang aku sebar dan menatanya sehingga virus itu dapat masuk kedalam almari - almari konsep yang ada di otakku , mengobrak - abrik semua susunan yang telah tersusun rapi bertahun tahun lalu. Aku takkan pernah membiarkan virus itu mendekat, bahkan untuk menyentuh ujung labirin yang telah aku ciptakan.
Memanipulasi sebuah fakta menjadi sebuah permainan lucu di dalam otak, bermain - main setiap harinya dengan konsep - konsep yang aku ciptakan sendiri setiap harinya dan aku menyadari telah terlalu jauh pikiran dan raga ini terkubur bersama konsep - konsep yang aku ciptakan. Beberapa bulan ini aku berusaha untuk melepaskan konsep - konsep itu dengan perlahan lahan, otakku tak dapat menahan lagi semua konsep - konsep dan imajinasi yang menghabiskan waktuku setiap harinya dengan bermain di bawah alam sadarku. Kesalahan terbesarku telah menciptakan robot dan bangunan yang harus aku hancurkan sendiri, dan itu tidaklah mudah untuk memasuki dan menembus setiap labirin - labirin dan menyusun kembali labirin yang kuat dan kokoh di dalam setiap jaringan otakku. Aku berusaha memciptakan virus untuk menjangkiti pikiranku dan menghancurkan komponen - komponen di dalam jaringan otakku. Virus itu tercipta dengan rasa, dengan warna, dan dengan kehangatan yang aku dapatkan beberapa hari ini. Virus tak selamanya merusak kebaikan, tetapi aku menciptakan virus yang akan menghancurkan semua konsep - konsep tolol yang telah tercipta.
Aku berusaha membuat keadaan hidupku lebih baik lagi di setiap harinya dengan berusaha untuk lepas dari imajinasi tolol yang sudah merenggut waktuku. Aku hidup di dunia nyata dan itu yang harus kusadarin, dimana aku harus harus berjuang untuk hidup dengan keahlian yang aku punya, bukan dengan konsep - konsep tolol yang terus menjangkiti pikiranku sehingga membuatku malas akan dunia nyata yang harus aku kejar untuk sebuah terwujudnya mimpi, dengan tindakan bukan dengan setiap harinya menyusun konsep - konsep tolol yang sudah membuatku hampir membusuk di dalam fantasi,imajinasi bayang - bayang ukiran mimpi yang hanya tergantung di ujung langit.
Sudah saatnya aku harus bangun dan melihat ke dunia nyata, hidup ini tidak hanya untuk menciptakan konsep - konsep yang tersusun rapi, tapi bertindak dengan perasaan,logika dan tetap konsep yang di atur dengan perasaan.....
Dan aku yakin bisa untuk mewujudkan semua itu, dan berhenti untuk terus bermimpi menggapai bintang. Mustahil untuk itu semua terjadi, aku harus benar - benar sadar akan semua kemampuan yang aku miliki dan terus berusaha membangun sebuah kepribadian yang mateng dengan memulai semuanya dari 0 kembali, niat tekat dan perjuangan harus maksimal....
karna saat ini aku berlomba dengan waktu yang dahulu pernah terbuang .
Senin, 24 Oktober 2011
JANJI

satu harapan hilang semoga menjadi doa,.
dan akan terkabulkan,...
semoga ini menjadi tangis terakhir entah untuk apa atau siapa...
dan janji itu semoga akan tetap dijalani,..
ini bukan yg kita ingin,.
tapi jangan menjadi hal yg tidak kita inginkan terwujud hanya karena kita tak terima,..
ingat dengan ingin dan harap kita,..
sedikitlah untuk "oh iya,..sebenarnya keinginan kita sama,..mungkin cara diantara kita yg berbeda,."..
jangan ganjal harapan kita dengan hal yg sebenarnya tidak kita ingin,..
aku masih percaya dengan apa yg telah kita sepakati,..
ini bukan soal materi,hati atau entah apa,..
ini tentang janji yang pernah kita buat dulu,..
Minggu, 23 Oktober 2011
tuhan dan malaikat( kesempurnaan )
Malaikat datang dan bertanya “mengapa begitu lama, tuhan ?”
Tuhan menjawab:
“sudahkah engkau lihat semua detail yang saya buat untuk menciptakan mereka?”
“2 Tangan ini harus bisa di bersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik.Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa di gerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak saat yang bersamaan. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan,… dan semua yang dilakukannya cukup dengan dua tangan ini”
MALAIKAT ITU TAKJUB!
“Hanya dengan dua tangan ??.. impossible!”
Dan itu model standard?!
“Sudahlah TUHAN ,cukup dulu untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi untuk menyempurnakannya”
“ohh,,Tidak, SAYA akan menyelesaikan ciptaan ini, karena ini adalah ciptaan favorit SAYA”
“oh yaa.. dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri, dan bisa bekerja selama 18 jam sehari”
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita ciptaan TUHAN itu.
“tapi ENGKAU membuatnya begitu lembut TUHAN?”
“yaa.. SAYA membuatnya lembut. Tapi engkau belum bisa membayangkan kekuatan yang SAYA berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa”
“Dia bisa berpikir?”, Tanya malaikat.
Tuhan menjawab:
“tidak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi”
Malaikat itu menyentuh dagunya..
“TUHAN, ENGKAU buat ciptaan ini kelihatan lelah dan rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya”
“itu bukan lelah atau rapuh.. itu air mata”,koreksi TUHAN.
“untuk apa?”,Tanya malaikat
TUHAN melanjutkan:
“air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan,kegalauan,cinta,kesepian,penderitaan, dan kebanggaan.”
“Luar biasa, ENGKAU jenius TUHAN !”,kata malaikat.
“ENGKAU memikirkan segala sesuatunya, wanita ciptaan-MU ini akan sungguh menakjubkan!”
Ya mestii.. !
Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki.
Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki.
Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.
Mampu berdiri melawan ketidakadilan.
Dan tidak menolak kalau melihat yang lebih baik.
Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya.
Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat.
CINTANYA TANPA SYARAT.
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.
Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa.
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit atau kematian.
Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup.
Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.
Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:
DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA!!!
manisku ...

manis...
kau hitungkah berapa puluh purnama yg kita lewati???
berkasih-kasih dalam persembunyian..
dibalik lacutan rotan kita panah purnama 14.
pulung memulung kesempatan, diantara mata-mata tajam dan senyum-senyum miris...
manis...
malam ini tak ada hujan..
jika aku mati..maka matilah aku dalam senyum..
jangan takut karna ruh ku yg kerengkeng ini selalu bersamamu..
jika perempuan maka, aku bukan Naomiyang menemukan Ruth dibatas kota Moab..!!!
dan aku tak tak tinggalkan engkau seperti Naomi ditinggalkan Mahlon..
Manis..
kita akan kembali dan pulang pada jalan yg tlah kita ditentukan..
kita tak kan tersesat seperti Hansel dan gretel..
karna aku akan lebih dulu mematahkan sayap sebelum burung-burung itu terbang membawa jejak remah Roti yg kita untai...
setelah itu, tunggu sebentar saja..aku akan jemput menuju jalan pulang...
malam ini sepi,
aku rindu..
Kamis, 20 Oktober 2011
JIWA LIAR KU
Menembus dinding kemapanan
Ingin merobohkan sistem keangkuhan
Aku sendiri tak sanggup menahannya
Darah petualangku kembali bergelora, mendidih
Meneriakan sebuah perjalanan panjang, yang menembus batas-batas fatamorgana
Melihat dari dekat sebuah kehidupan
Dipelosok negeri di sudut langit
Belajar arti sebuah nilai
Ternyata sistem yang ada, dinding yg tebal ini
Tak mampu menahan jiwa-jiwa liarku
Dia akan trus mengembara meneriakan sebuah perjalanan panjang
Biarkan aku jalani ini semua
Jangan pernah membelengguku
Karena aku akan siapkan sebuah pemberontakan
Dari jiwa-jiwa liarku
Dari darah-darah petualang
Yang mengalir dalam nadiku
Yang slalu menuntut untuk terbang bersama angin...
Senin, 17 Oktober 2011
hanya 1 (satu)
Tapi sungguh. Kali ini adalah akumulasi kerinduan. Kiranya sudah 7 tahun aku memendam kerinduan ini. Kerinduan akan sebuah pelukan. aku tak butuh banyak kata, aku tak butuh banyak uang, aku tak butuh banyak perbuatan. Hanya sebuah pelukan erat yang ingin aku dapatkan, yang ingin aku berikan. Sungguh. Jika separuh dari setiap untaian DNA yang mengalir ditubuhku benar berasal dari seorang yang lama pergi itu, semoga rangkaian pesan-pesan genetika di tubuhnya mampu menyampaikan kerinduan kepada seorang lain yang telah lama merindukannya.
Tak ada satu pun kata-kata yang dapat aku cerna dari bait bait lagu itu. aku hanya menantikan waktu yang selalu setia mengikuti putaran bumi. seperti aku yang selalu setia menunggu pelukan erat yang pernah kau berikan dulu.Jika bibir tak mampu untuk mengucap, semoga kau bisa mengartikan setiap butir bait penatian ini.
datanglah dan Berikanlah aku sebuah pelukan. ....
Minggu, 16 Oktober 2011
sekedar menghibur hati sendiri
meniti jalan yang tanpa arah
bukan ku tak pandai melangkah
tapi ku takut onak duri itu melukaiku
jalan sebelumnya ditumbuh mawar yang indah
tapi dia melukaiku dengan onak yang menghujam
berikanku bunga kamboja saja
agar mampu ku cium baunya
jatuhkan ia dihadapanku
sehingga aku berani untuk mengambilnya
taman-taman indah yang akan kau bangun
menciptakan kecemburuan terhadap yang lain
mereka tidak mengerti, mengapa aku tak bisa tentram
aku hanya berharap
tak ada lagi duri yang bertebaran ditaman ini
agar aku mampu melangkah lebih yakin
bahwa kamu yang menjadi pelipurku.
rayuan pagi kemarin ...
Aku melihat kesibukan pagi yang kini tak lagi aku miliki. Lalu lalang kendaraan bermotor, sepeda anak2 yang bersekolah dan para pejalan kaki yang membuat aku iri. Entah sampai kapan pemandangan ini hanya dapat aku lihat. Aku ingin ikut meramaikan pagi. Bersenda gurau dengan terang dan hangatnya mentari.
Aaah...aku kini hanya jadi penonton. Penonton yang tak bertepuk tangan apalagi sorak sorai. Aku rindu kembali keduniaku yang penuh kesibukan. Menikmati bagaimana kita sangat dibutuhkan.
Saat ini aku hanya mengisi kekosongan waktu dengan kesibukan yang aku buat-buat. tak kenal lagi hari apa sekarang, tanggal berapa sekarang....waktu yang bergulir aku biarkan melewatiku dan melindasku. Almanak didinding kamar tak lagi kutanya kapan ada waktuku..? sepertinya diapun acuh padaku.
sungguh hidup tak pernah kita tahu akan seperti apa. Pondasi kehidupan yang kubangun runtuh begitu saja. Bukan ku tak berusaha, tapi itulah kenyataannya. Tak selamanya kehidupan itu nyata dengan berbagai teori dan konsep. pengalaman yang aku lewati membuat aku pasrah akan kehendak-Nya.
Jumat, 14 Oktober 2011
antara logika dan aku ....
Lupakan tentang tata bahasa karena bagiku istilah itu telah sempurna. aku yang kini diam di hadapanmu. Aku yang menatap lama pada satu titik yang jika kutelusuri lurus mataku akan jatuh pada sebuah dunia asing yang tak kutahu. Aku yang selalu tersesat pada duniaku sendiri. Aku berada tepat di hadapanmu. Jarak kita hanya beberapa senti. Tapi aku tak pernah mengerti.
Aku terus mengingatnya, melamunkan, dan memutar-mutar di kepala. Entah untuk yang ke berapa ribu kali dan entah untuk apa. Aku curiga aku telah kecanduan masa lalu....?
Masokis perasaan, itu vonis terakhir yang kujatuhkan untuk diriku. Dan Aku tak pernah menolaknya. Aku hanya diam saat orang lain mencaciku seperti itu. Dan bukankah diam artinya setuju?
Aku yang suka sekali berenang dalam luka. Ya! Berenang...bukan tenggelam...Karena aku menikmati segala luka itu. Aku yang memelihara perasaan sakitku seperti memelihara ikan di akuarium. Terus ku beri makan hingga mereka tumbuh dan berkembang. Aku yang tidak hanya duduk di dekat sumber kesedihanmu, tapi juga saling bicara dan saling memeluk. Aku yang tak pernah berusaha keluar dari semua ini.
Aku yang menjatuhkan diriku sendiri ke jurang. Semua orang mengulurkan tangan, menurunkan tali, menyiapkan tangga. Beberapa orang menawarkan hatinya. Tapi aku tak pernah meraih itu semua. Aku lebih suka di sana. Duduk dalam kegelapan. Sendirian.
Mungkin saja kau mulai bosan dan impati. sementara Aku masih terus menikmati semua ini.
,diam dan menghampa. Aku mulai merindukan kau yang tersenyum. Kau yang ceria. Kau yang tertawa. Kau yang bebas dan menari. Kemana semua itu pergi? Sekali lagi kutatap matamu. Sembab. Pasti karena semalam kau habis-habisan memeras lagi kantung airmatamu. Wajahmu layu dan kaku. Kau seperti berada di dunia yang asing.
Tiba-tiba aku ingin sekali memmeluk tubuhmu seerat mungkin . membelai pipimu hingga merona. Dan menarikmu paksa dari keasingan yang kau pelihara. Tapi aku tak pernah bisa. Aku, yang mereka namakan Logika tak pernah bisa menyembuhkan itu . Kau yang kini di hadapanku terpisahkan oleh batas yang entah apa aku juga masih belum tau ...
antara aku ganja dan mereka ....
Tiba - tiba terbersit di hati saya.. sebuah wacana yang mungkin akan menjadi pendobrak jika sampai bisa jadi kenyataan.. dengan latar belakang pandangan atau vonis masyarakat umum yang selalu mengatakan bahwa pengguna Ganja ( yang menurut sebagian besar dari mereka adalah Narkotika ) sudah pasti akan bermasa depan Suram.. Nah berangkat dari latar belakang itu .. ingin rasanya Hati ini berteriak membuktikan bahwa Masa Depanku Tidak Suram !! kalau perlu aku ingin menantang manusia - manusia yang ngotot berkata demikian untuk Adu Intelegensi ( barang kali kita bisa test IQ bareng ?! ) besar harapan gw bagi para pengguna yang sudah bisa menggolongkan dirinya sendiri dalam status berkecukupan atau merasa sukses dalam Dunia yang di gelutinya ( Teori relativitas berlaku dalam hal ini )untuk berani maju kedepan dan membuat Kesaksian Nyata bahwa Ganja sama sekali tidak merusak Otak dan cara berpikir kita.. tetapi HUKUM
dan UNDANG2 nya lah yang membuat kita terpasung ( Masuk Bui ) .. Jika teman - teman setuju dengan pendapat saya.. mohon kiranya bisa mulai membuat Kesaksian atau pernyataan awal pada topic ini.. jika ada yang tidak setuju.. yah .. saya ngga Maksa kok.. Pada akhirnya niat saya hanya ingin membuktikan bahwa para pengguna Ganja juga bisa menggapai Sukses dalam dunia apapun yang digelutinya ! selama ia terus Berdoa, berusaha gigih, dan pantang menyerah ( sama saja dengan bukan pengguna kan ?? )
Kamis, 13 Oktober 2011
inilah kita 7 tahun yang lalu
tenda yang bocor mamaksa kita untuk beralih dimalam kelam. membelah gelap dengan satu senter, saling berpegangan agar tak terpisah. entah kemana kita pergi, arah itu tak tau. . .hanya berjalan...dan berjalan terus sampai letih. ditengah rimba mencekam kita berhenti pada pondok reot entah itu punya siapa dan kapan berdirinya.
kita mulai saling menghangatkan agar tak ada yang mati di antara kita dalam keadaan kedinginan dan basah kuyup...api tak bisa lagi kita nyalakan. Tak bisa tidur menjelang subuh.
ketika pagi datang, kita sadar dan melihat disamping pondok itu terhampar telaga indah..dengan pohon2 tua yang rebah pada bentang air jernihnya.
kemudian kita sadar satu tas ber isi buah Rambutan yang kita bawa, hilang sudah...entah siapa yg punya kerja...jika tercecer dijalan tak mungkin. dan kita mulai menerka-nerka tentang alam ghaib.
ah...biarkan saja..
pagi itu kita mulai memasak nasi dan menggoreng 6 keping sagu untuk mencegah kelaparan dini.
tanpa menyadari...smua makanan habis pagi itu..kita survival.!!!
dengan modal bedil dan kemampuan membuat jebakan, kita berhasil menjaring berbagai macam burung hutan, entah apa nama burung-burung itu.
tanpa perasaan aku mulai membantainya, membakar dagingnya setengah matang, tanpa bumbu apapun, dan kita mulai menyantapnya bersama..
kemudian mencari jalan pulang bersama..
ingat kah kalian tentang hal ini kawan kawan terbaikku ???
kita menang, dan masih hidup sampai saat ini.
ini lah kita 7 tahun lalu...02 maret 2004..
Kamis, 06 Oktober 2011
tentang malam

Pada malam aku bercerita...
Tentang indahnya gelap...
Semakin gelap semakin keindahan itu kurengkuh...
Merasakan nikmatnya belaianmu...
Menenangkanku pada lelap yang hampa...
Kubiarkan sunyimu menelusupi rongga jiwaku....
Kelammu terus menjilati tubuhku....
Seakan kau menyukai keringnya hatiku....
dekapanmu erat menyesakkan nafasku yang terengah-engah menikmati gelap....
Aaach.....andai saja kau tahu....
Aku telah mencintaimu....
Tapi tak mungkin selamanya aku bersamamu.....
Karena pagi telah menyongsongku tuk kembali....

Haruskah kita meninggalkan dunia yang selama ini kita geluti.
Haruskah kita meninggalkan kawan2 yang pernah ada dalam hidup kita.
Haruskah kita merubah semua hal tentang diri kita sehingga menjadi orang asing bagi diri kita sendiri.
Haruskah kita lakukan itu semua hanya sekedar tuk mempertahankan sebuah idealisme...?
teori evolusi cinta .....
tak banyak isi kepala yg dipenuhi keinginan ini mampu terimplementasikan NYATA
tentu saja MENYAKITKAN.....sedih....hampa....
cari saja keSAKITan baru pasti kesakitan yang lama akan hilang.........
begitu seterusnya hingga kita tak mampu lagi merasakan SAKIT........
yang tersisa hanya NIKMAT.......karena SAKIT tlah berevolusi menjadi NIKMAT....
dan itu HAKIKI
kalo kita masih merasa MANUSIA yg dibekali akal, tentu tidak akan merasa puas dengan sesuatu yang sebenarnya secara akal masih mampu kita raih........dengan pendalaman yang serius anda akan menemukan sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang nampak dipermukaan dari rasa TIDAK PUAS.......
siapapun yg belum pernah minum kopi akan berkata bahwa kopi itu PAHIT dan TIDAK ENAK.......tapi ketika kita sudah terbiasa menikmatinya akan merasa KECANDUAN......
SELAMAT MENJADI MANUSIA yg ISTIMEWA....
Minggu, 02 Oktober 2011
penderitaan malam ini ...
Seperti perut kananku yang memberontak dan bercampur aduk menjadi satu...
Aku ingin terburai...
Menumpahkan seluruh isi perutku hingga mengotori lantai....
Nafas yang semakin pekat...
Jangan pernah menyuruhku untuk tenang seolah semuanya akan lewat...
Muak...
Sesak...
Aku ingin terbelah...
Berdarah tanpa lelah...
Sepi...
Kosong...
Hitam...
Mati....
Tolong berhenti sebelum aku mengunyah jantungku sendiri...
sindrom ...
Mereka menertawakan kita
Kemudian meletakkannya di dada dan mengirisnya dengan buaian cerita...
Jangan menggodaku sayang...
Kau tahu aku tak perduli ini cerita apa
Entah itu tawa tak berirama atau hanya air mata tak bermakna...
Kau lihat itu...?
Mereka menjauhi kita
Karena kita seakan menjadi buta
Berulang kali terjatuh mencari arah dan saling membasuh luka...
Kau ingat itu...?
Dulu kau tersenyum walau hanya kuberi pagi
Dan tersenyum lagi saat kutemani mengartikan mimpi
Kau selalu tersenyum walau hanya kuberi janji
Dan tersenyum lagi saat kutemani meraih tinggi
Tak apa sayangku...
Pergilah kalau memang dia bisa memberimu seluruh hari
Memberikanmu sesuatu yang aku bahkan tak berani berjanji
Biarkan aku disini sendiri...
Menjaga sekeping surga yang dulu pernah kita lewati...
Senin, 19 September 2011
tentang mu ....

Kau pernah menjadi seberkas cahaya
Yang memberiku pelangi dan melukisnya dengan warna yang sempurna
Menerangi seluruh duniaku tanpa ku minta
Dan tetap menjadi cahaya walau tak pernah ku sapa
Kau pernah menjadi indahnya nada
Yang aku nyanyikan saat ku tak ingin kau tahu apa yang ku rasa
Menyembunyikan air mataku yang tak pernah bersuara
Dan tetap menjadi nada walau tak pernah ku jaga
Aku adalah sekotak luka sayangku...
Begitu indah sehingga aku tak mau beranjak pergi
Begitu sakit sehingga aku mendambakan pagi
Maukah kau membawaku pergi dari sini...??
Aku terlalu lelah untuk semua ini
Dan maukah kau membawaku ke tempat tuhanmu yg dulu selalu kau kunjungi...?
Karena aku suka melihatmu bersujud di sajadah yg dulu selalu kau tangisi
Aku adalah air mata sayangku...
Yang selalu terlihat begitu indah saat menetes di pipimu
Melebihi semua cahaya dan nada yang pernah kuberikan padamu.
Perih merintih
Pedih memutih
Aku adalah terang pasar malam yang melawan matahari siang
Menyala sia-sia
Gaduh tak bersuara
Bukan aku tak mau menjadi hiasan dinding ungu pucatmu itu
Atau menjadi kumpulan warna yang bisa menyinarimu sepanjang waktu
Karena pecahan-pecahan kecil ini kau tahu aku ada
Walau aku tahu itu membuatmu terluka
Karena cahaya redup ini kau tahu aku selalu terjaga
Seandainya tengah malam nanti kau terbangun dan memintaku untuk menceritakan sebuah cerita
Aku adalah apa yang kau sebut air mata pagi
Kecil tak berarti
Dan kemudian menghilang ditelan hari

Aku adalah semua yang tak pernah kau lewati
Dan aku tak mau beranjak pergi....
Rabu, 14 September 2011
sepiku yang indah ...
Dengan segala keindahan sepi yang kau tahu dengan pasti aku menyukainya
Tidak...lebih dari itu...aku selalu memujanya...
Entah itu pertunjukan mimpi orang-orang yang mati suri di sekeliling kita
Atau sekalipun itu sudah jelas bau busuk yang merambat pelan hampir diam keluar dari trotoar yang seingatku tak pernah peduli
Lalu kau mau apa...??
Perhatikanlah seisi semesta ini merayakan malam dengan hitam
Ini memang seperti perayaan
Keheningan yang sungguh terlalu gaduh
Dan seperti biasa aku hanya bisa tertawa melihatmu berusaha menghiburku dengan sarang merak itu
Tetaplah hitam
Kau lihat orang yang sedang memuji cermin di jalan membosankan itu sebelum kita sampai disini...??
Yang berjalan meraba gelap karena darah kita memenuhi kelopak matanya
Antarkan aku ke penciptamu
Karena aku belum pernah melihatmu seindah ini
Bahkan mimpi kita pun tak pernah seindah ini
Dan memang benar ketika kelam mulai menggeliat nanti aku akan menikam tubuhmu
Begitu dalam sehingga dari lubang-lubang luka itu mengalirlah air mata yang selama ini kau sembunyikan dariku dengan tulusnya
Membelai segala macam endapan-endapan emosi yang tertinggal di balik rapuhnya hati
Seperti yang dulu selalu kita lewati
Ditemani lampu minyak yang sesekali tersenyum dirayu angin sunyi
Tetaplah begini
Tetaplah menjadi tak lebih dari mimpi
Seindah apapun itu
Setelah aku selesai menunggu senja ini tenggelam sekarat merah pucat dengan caranya sendiri
Sapalah aku di tengah malam sepi
Miliki semua waktu yang kita butuhkan untuk mengatakan betapa indahnya ini sebelum pagi mengusirmu pergi
Dan jangan khawatir
Aku akan kembali menunggu senja itu tenggelam lagi ...
Selasa, 13 September 2011
meracau dalam diam

Diam..
Dan perhatikan bagaimana kita perlahan tenggelam
Dengan segala buih pembenaran yang tak pernah berhenti mengisi keringnya retorika
Dengan segala luka yang entah darimana datangnya
Bagaimana aku bisa melewatkanmu ketika kau selalu mengingatkanku akan candu..??
Melumat setiap bayangan tiap kali kau tersenyum kepadaku tanpa sedikitpun keluh enggan
Percayalah..
Ini bukan sunyi
Sepi yang kutahu lebih hening dari ini
Melentik-lentik cantik mengaburkan batasan-batasan mimpi
Terus seperti itu dan selalu berakhir dengan aku tertidur dimanjakan nyaman lengkung alismu
Bukankah selama ini kita sudah terbiasa seperti itu..??
Ini tak akan pernah selesai, sayangku..
Kita hanya menari sia-sia walau memang masih diiringi irama yang sama
Langkah tersipu
Dan tatapan parau..
Kaukah itu yang tadi malam berkelebat dalam mimpiku?
Mengenakan bahasa-bahasa angin yang dengan indahnya membungkus sebagian tubuhmu yang biru
Tak ada tempat untuk kelam
Sekalipun itu terang
Kau tak lagi bersuara, Senja...
Berpendar pelan-pelan menerangi malam-malam yang berhiaskan setan-setan
Aku dan kamu telah menjadi kita...awan-awan berserakan
Inikah yang selama ini kau lukis?
Lampu-lampu kota yang mengedip-ngedip malu
Langit bumi tak kenal hati
Kaukah itu yang tadi malam berkelebat dalam mimpiku?
Atau aku meracau?
Senin, 12 September 2011
gak tau mau dikasih judul apa (aku dan D)
barusan "tepatnya pukul 00.40 wita" aku berhayal sedang berbincang bersama seseorang di masa lalu ku, tapi hayalan itu seolah olah nyata dan pernah ku alami ,sampai pada akhirnya perbincangan itu bisa aku tuangkan didalam blog ini.
D datang dengan secangkir kopi panas di tangan, lalu duduk di hadapanku sembari berucap “Mari kita berbincang tentang kebahagiaan,” .
Aku terkejut, merasa tidak siap. “Mengapa kebahagiaan?” tanyaku sambil menerima secangkir kopi yang disodorkannya D kepadaku.
“Entahlah,” D mengangkat bahu. “Hanya saja, belakangan ini kamu nampak tidak bahagia…”
Aku menyesap kopiku pelan-pelan, pikiranku tertuju pada sebuah percakapan yang berlangsung bertahun-tahun yang lalu:
Mengapa kamu pikir aku dapat membuatmu bahagia?
Entahlah. Jujur, aku tidak tahu apakah kamu dapat membuatku bahagia…
Jadi?
Mungkin memang bukan kebahagiaan yang aku cari.
“Jadi, apakah kini kamu mencari kebahagiaan?” tanya D kepadaku.
“Ya,” aku mengangguk. “Tapi… mengapa dulu aku tidak ingin mencarinya? Mengapa dulu aku menganggap kebahagiaan itu tidak terlalu penting, sehingga aku tak perlu mengejarnya?”
“Karena dulu kamu memilikinya,” D menjawab. “Jika kamu sudah memiliki kebahagiaan itu di dalam dirimu, kamu tak perlu lagi susah-susah mencarinya. Justru karena kamu sadar bahwa kamu sudah kehilangan kebahagiaan itu, maka kini kamu mencarinya. Ingat, kamu sendiri yang pernah berkata: ‘kita tidak akan tahu betapa berartinya sesuatu itu, hingga sesuatu itu direnggutkan dari kehidupan kita’. Sesuatu itu bisa berupa kebahagiaan, kan?”
“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Kutatap dia tepat di matanya.
D tidak menjawab, tetapi memutar sebuah lagu dari iTunes-ku.
“Ini saatnya bagimu untuk memilih. Untuk kembali berbahagia.”
Aku menghela napas panjang. Aku tahu bahwa hidup penuh dengan pilihan-pilihan, namun tetap saja, aku selalu kesulitan ketika dihadapkan padanya.
“Aku ingin mengingatkanmu pada sesuatu,” ujar D padaku.
“Apa?” tanyaku.
D tersenyum. “Ada seseorang yang kukenal, yang pernah mengatakan kepadaku, bahwa ia ingin mengejar kebahagiaannya sendiri terlebih dahulu, kemudian baru membahagiakan orang lain. Karena seseorang tidak akan pernah bisa membagi apa-apa yang tidak ia miliki. Kita tidak akan bisa membahagiakan orang lain jika kita sendiri tidak bahagia.”
Aku tersipu. Aku tahu siapa seseorang itu. Dan aku tidak lupa.
“Aku hanya ingin bahagia,” ujarku, sambil merasakan kehangatan bagian luar cangkir kopiku dengan kedua telapak tangan.
“Kita semua menginginkannya,” D pun mengangguk. “Tetapi hanya mereka yang berani memilih kebahagiaanlah yang berhak mendapatkannya.”
Sempurna.Ini tak akan bertahan selamanya.
Aku tahu.
Cuma sementara.
Aku tahu.
Jika begitu, mengapa masih kau katakan sempurna?
Karena aku tidak selalu meminta .
Aku cuma minta secukupnya waktu. Hanya waktu.
Tetapi… waktu itu sudah habis.
Kamis, 08 September 2011
For you ( happy birthday )

Banyak hal yang hampir terlupakan ketika bersamamu namun semua itu seolah terulang kembali dan terekam jelas di ingatanku ketika aku tersadar bahwa hari ini adalah hari ulang tahunmu(08, september) , memang tak banyak yang bisa aku berikan dulu , tapi satu hal yang aku ingin kau tau bahwa dulu aku sangat menyayangimu .
Mungkin sudah terlambat untuk aku mengakuinya tapi gak ada salahnya kalau kamu juga mengetahui tentang pasang surut hubungan kita dulu, dan sedikit impian yang coba aku rajut bersamamu dulu ...
Entah apa yang harus kukatakan……ketika rasa itu mulai berlalu
kau yang pernah hadir ,mengisi hari hariku dengan senyum ramahmu
ada yang hilang…. keheningan yang menyesakan…
kemanakah kegembiraan yang sempat kita rasakan bersama…..
Meski hadirmu tak sengaja, tanpa rencana
tapi apa yang telah terjjadi diantara kita, tak terduga …. luar biasa
tak mudah menepis rasa yang sudah terlanjur ada
kebersamaan, kasih sayang telah menyatukan kita
Sampai Sempat rasa putus asa singgah di hati
Dan kebimbangan merasuk jiwa…
haruskah aku melepasmu duhai ...... ?
masih mungkinkah kita bersama2 untuk merjut impian dan menyatukan asa
Sungguh aku hanyalah manusia yang penuh dengan keterbatasan
tanpa dukunganmu.. apalah artinya aku …..
hanya ketika aku dan kamu bergandengan tangan ,melangkah berdampingan
sebuah keajaiban bisa tercipta…….
hari esok bukan hanya miliku….. atau milikmu…. tapi milik kita ....
Saat ini aku hanya ingin bertanya….
apakah kita masih memiliki mimpi yang sama ?
apakah rasamu dan rasaku masih seperti yang dulu ?
saat kita memulai langkah ini bersama…
meretas jalan …. melihat segala kemungkinan
demi kebersamaan… cinta dan persaudaraan…….
aku hanya berharap ,apa yang telah lahir… akan tetap hadir dan terus mengalir…..
dan kamu tau….. tanpamu ….. tanpa keinginan untuk terus berbagi kasih
seiring waktu semuanya kan berlalu…….
sungguh aku tak ingin melihat apa yang telah kita mulai bersama.. berlalu begitu saja….
Ketahuilah….. aku selalu disini….. setia menunggu cinta itu mekar kembali ...
Walau itu terasa sulit dan mustahil untuk bisa terwujud, .......
HAPPY BIRTHDAY FOR YOU
Each year your birthday reminds me
That I really want to say
I’m very glad I know you;
I think of you each day.
I hope you enjoy your birthday,
All the pleasures it has in store,
And because I appreciate you,
I hope you have many more!
Selasa, 06 September 2011
akhirnya GIMBAL lagi ....

akhirnya keinginku untuk kembali gimbal terpenuhi , sebenarnya tidak ada niatan khusus untuk punya rambut model rasta"gimbal" hanya terasa nyaman saja kalo bisa tampil berbeda dari yang lain ,,,,,,
Senin, 05 September 2011
obrolanku dengan sebotol beer ....
berhubung sedikit pening akhirnya botol beer deh yang diajak ngobrol, sory deh kalau agak ngawur dikit ,,,,
berikut hasil diskusiku dengan botol beer malam ini ......hehehehehehehehehe..
” Kenapa tidak kau habiskan ? ” tanya sebotol bir yang tinggal setengah isinya.
” Kepalaku pusing….” jawab seorang lelaki, sambil matanya tidak lepas menata lembaran koran.
” Tidak biasanya kau cepat mabuk, padahal baru setengah kau minum aku.”
” Bukan kau yang bikin kepalaku pusing.”
” Lantas ? ” selidik si botol bir.
Tanpa menjawab, lelaki itu menunjuk ke arah lembaran koran yang dipegangnya . Sebuah berita tentang aksi demonstasi mahasiswa.
” Kenapa ? ” tanya si botol bir yang makin penasaran.
” Aku khawatir adikku ikut-ikutan aksi tersebut.”
” Adikmu kuliah ? Hebat, jarang-jarang preman sepertimu masih memperhatikan adiknya.”
” Aku berharap, kelak adiku tidak mengikuti jejak kakaknya yang selalu meresahkan masyarakat dan berbuat anarkis.”
” Lalu, apa yang membuatmu pusing ? ” tanya si botol bir yang juga belum mendapatkan jawaban.
” Bukankah seharusnya mereka itu ada di kampus, menuntut ilmu supaya nanti berguna bagi masyarakat ? ” tanya lelaki itu polos.
Si botol bir tersenyum meremehkan pertanyaan lelaki itu, yang dianggapnya naif.
” Kawan, mahasiswa itu bukan melulu harus belajar di dalam kampus, mereka juga harus keluar membantu masyarakat menyuarakan aspirasinya…” jawab si botol bir, seakan bangga atas jawaban yang diberikannya.
” Kan sudah ada DPR, untuk apalagi turun ke jalan ? “
Kali ini si botol bir tertawa.
” Macam tidak tahu saja, kawan ini, DPR sekarang tidak peduli lagi dengan rakyat, mereka sibuk mementingkan partainya saja.”
Lelaki itu terdiam, matanya masih menatap lembaran koran yang dipegangnya.
” Membantu masyarakat ? Tapi, adakalanya aksi demontrasi ujung-ujungnya malah meresahkan masyarakat, bahkan sampai bertindak anarkis !? “
” Kalau begitu, untuk apa kuliah mahal-mahal, mending jadi preman sekalian seperti aku ! ” lanjutnya.
Kali ini si botol bir yang terdiam.
aksi demo yang tadinya tenang berubah ricuh. Saling lempar antara demonstan dengan aparat keamanan terjadi, aksi bakar ban, merusak pagar pembatas jalan dan rambu-rambu lalulintas bahkan sesekali ada ledakan bom molotov dan senjata petugas keamanan silih bergantian. Jalanan ditutup, antrian panjang kendaraan terjadi dimana-mana. Seorang reporter salah satu stasiun TV mewawancarai seorang supir angkot perihal penutupan jalan tersebut :
” Susah kalau begini terus, mana setoran belon dapet….” keluhnya.
Tiba-tiba lelaki itu mencekik leher si botol bir.
” Kau mau meracuni pikiranku ? ” bentak lelaki itu sambil siap-siap melemparkan si botol bir
” Mau kau kubuat bom molotov, seperti yang dilemparkan demonstran hingga hancur berkeping-keping ? ?
“jangan emosi dulu kawan jawab botol beer ,,,,
' lalu kena kamu selalu meracuni pikiranku, sambil tak melepaskan cengkramannya kepada botol beer
"bukankah tanpa aku kamu bukan apa apa , ingat hanya aku yang selalu setia menemanimu ,yang selalu mendengarkan keluh kesahmu, kalau aku kau buang siapa yang akan mendengarkan keluhmu, jangan sinting kawan ......
" akhirnya kami terdiam sejenak, dan dalam diam itu ku berucap ........
Keteguk sebotol bir,
bir yang menguap dalam maknanya sendiri
yang menyatu dengan deburan darah dan ludah
menembus dinding kesadaran diri
aku terlelap
aku lupa padamu
lupa terhadap pengkhianatanku.
Layang-layang terbang tanpa kendali
tanpa tali
tali yang dulu diyakininya
akan mengendalikan ke batas kewajaran
Kini,
limbung, terhempas badai kemunafikan
terdampar ke pelabuhan nista
yang kontras dengan suara hatinya
seiring dengan nafsu setannya.
Berlari-berlari dan berlari
menuju alam pelampiasan diri
membelakangi segala tuntutan hidup.
Aku dan sebotol bir….
Satu rasa,
rasa pahit,
rasa getir.
bersambung ......
janggal ( bagian ketiga)
Dan itulah yang dilakukannya, berdansa malas setengah mabuk. Dengan segelas ramping anggur Grand Cru Burgundy di tangan kirinya dan rokok putih di tangan kanan, membuat ia terlihat seperti sedang memimpin sebuah simfoni orkestra, mengalir anggun sambil sekali-kali ia mendekatkan bibirnya ke pemain gitar itu, ikut bernyanyi hampir tanpa suara.
Aku mengamatinya dari jauh, memandangi setiap gerakannya, mencoba mengartikan asap putih yang sesekali keluar dari bibir tipisnya. Dia menyembunyikan sesuatu, aku tahu. Lengkung alis itu menceritakan semua yang ingin kudengar, dan gaun merah itu tak pernah berbohong.
Ia menghabiskan minumannya kemudian duduk di bar, bersiap untuk satu gelas lainnya.
"Hey..."
Ia menoleh kepadaku dan menatapku heran.
"Bisa kesini sebentar..?"
Ia mengacuhkanku dan kembali menghadap bar. Tak lama kemudian minuman yang dipesannya datang dan diletakkan di depannya, ia menyalakan rokok, mengambil gelas itu kemudian berjalan pelan menghampiriku.
"Kenapa..??"
Ia mengatakan itu sambil tersenyum kecil seakan aku adalah seorang laki-laki tak dikenal yang mencoba untuk merayunya.
"Bisa duduk disini sebentar..?"
"Setelah gelas ini.."
Ia kembali tersenyum.
"Ayolah...kamu bisa duduk disini dan minum itu sesukamu"
Ia menghembuskan nafas pendek kemudian menarik kursi dan duduk di depanku.
"Ada apa..?"
Aku tak menjawab dan berusaha mencari pemantik yang ternyata ada di sakuku untuk menyalakan rokok yang baru saja kukeluarkan dari tempatnya. Asap mengepul.
"Ada yang mau kamu ceritakan..?"
"Tidak."
Ia menjawab itu terlalu cepat. Sedikit terlalu cepat.
"Oh ya? Aku kenal kamu lebih dari yang kamu kira."
Ia menenggak sedikit minumannya kemudian melipat kedua tangannya di dada. Orang yang berbohong selalu berusaha menempatkan sebuah penghalang didepannya untuk menjaga jarak, entah itu melipat tangan atau gerak-gerik lainnya. Itu naluri.
"Atau kamu sudah punya orang lain untuk mendengarkan kamu cerita?"
"Hey..itu tidak adil."
"Kalau begitu aku mendengarkan..."
Ia menggigit-gigit bibirnya dan kembali menghisap rokoknya.
"Tadi malam aku bermimpi, ada tiga orang duduk dikamarmu. Aku, kamu, dan satu orang lagi yang aku tidak tahu siapa. Orang itu cuma diam memperhatikan kita. Tidak bicara. Tidak berkedip, dan pandangannya selalu mengarah kepadaku.Tiba-tiba ia menarik tanganku dengan raut muka memohon supaya aku ikut dengannya pergi dari situ."
"Lalu?"
"Sudah lebih dari seminggu ini aku bermimpi seperti itu."
"Bukankah suatu saat nanti kamu memang akan pergi?"
Waktu berhenti. Raut mukanya berubah. Ia tahu, suara penyanyi dengan gitar itu tidak lagi terdengar, gelembung-gelembung bir itu tidak lagi berkejar-kejaran mencari udara. Lilin berhenti meleleh karena kecewa apinya tak lagi dipedulikan. Sunyi.
"Aku tidak mau terus seperti ini."
Ia mengatakan itu pelan sekali, seakan ia takut membangunkan logika yang selama ini ia bungkus dengan rapi. Seakan ia takut tidak dapat menarik lagi ucapannya.
"Apa yang kamu maksud dengan seperti ini?"
Tak ada jawaban.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Aku bertanya sambil tetap melihat dalam ke matanya. Tak akan kubiarkan sedetik pun ia memalingkan pandangannya dariku.
"Silahkan."
Ia menjawab itu tetap dengan pelan sekali. Hampir tidak terdengar.
"Kenapa harus menunggu malam kalau petang bisa membuatmu nyaman?"
Bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu tapi sadar kalau jawabannya bisa melukai seseorang. Ia tahu kalau selama ini aku bertuhankan mimpi, dan ia telah menemukan tuhannya sendiri.
"Karena aku ingin melihat pagi..."
Dan memang ia telah menemukan tuhannya sendiri, dengan ratusan bunga lili yang berjatuhan dari langit menyirami tubuhnya yang seindah telanjang bulan malam. Hitam. Indah dan menyakitkan. Dimulai dari malam itu aku tahu, suatu saat nanti dia akan pergi, dan aku hanyalah tak lebih dari malaikat yang menangis karena dihukum tuhannya untuk hidup selama-lamanya dalam perayaan sepi, sekalipun sayapnya telah lama mengering mati.
janggal (bagian kedua)
Aku membuka pintu kamar dan melihat seorang laki-laki tua berdiri di depan pintu kamarku memegang segelas kopi panas. Ia tersenyum hanya mengenakan kaus kutang dan terlihat lelah.
"Kenapa, Pak Dar?"
"Nih, Sarapan dulu. Sekalian temenin saya ngobrol"
Ia menyodorkan gelas kopi yang dibawanya kepadaku. Kuambil gelas itu dan meniup-niup isinya.
"Jam berapa ini?"
"Setengah tiga sepertinya. Tadi saya sampai rumah saja sudah jam dua lewat."
"Kok malam sekali pulangnya, Pak?"
"Kalau saya pulang cepat kamu mau gantikan saya bayar semuanya?"
"Ya ngga gitu juga, Pak..."
Kami berdua duduk di teras depan kamar. Kopi panas yang dibawakan oleh Pak Dar tidak terlalu membantu menghangatkan udara dan lantai keramik yang dingin. Malam itu angin terlihat seperti sedang berusaha untuk membuat semua orang tetap didalam rumah, bertiup pelan tapi dingin dan terus menerus.
"Kamu kok tumben jam segini sudah tidur?"
Pak Dar bertanya tanpa menoleh kepadaku.
"Lagi agak ngga enak badan saya, Pak. Sudah dua hari ini."
"Hahahahahaha...."
Ia tertawa lepas sekali sampai bahunya terguncang-guncang, kemudian terbatuk-batuk seperti orang tersedak makanan.
"Kok saya malah ditertawakan, Pak?
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang membuatnya tertawa seperti itu.
"Badan kok disalahkan. Kasihan badanmu itu, sudah kerja rodi tiap hari masih saja disalahkan. Sudah bagus dia masih mau melayani nafsu tuannya. Kalau suatu hari dia ngambek, mutung terus ngga mau kerja lagi gimana hayo? hayoh..."
"Halah..saya kira kenapa Pak."
"Semua itu asalnya dari sini, cah bagus..."
Ia menekan-nekan pelipisku dengan jari telunjuknya.
"Semua yang kamu rasakan, kamu lihat, kamu dengar, kamu benci, kamu sembah. Semua berasal dari sini."
Aku terdiam, orang tua ini sudah mengalami terlalu banyak peristiwa untuk dibantah.
"Maksud Pak Dar saya sakit karena saya mau sakit?"
"Apa kamu bernafas karena kamu mau bernafas?"
Aku kembali menyeruput kopiku yang sudah mulai dingin. Pak Dar menyalakan sebatang rokok dan menawariku.
"Ndak Pak, terimakasih. Tenggorokan saya lagi ngga enak."
Ia mengangguk-angguk dan menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Saya boleh tanya sesuatu, Pak?"
"Silahkan, selama bisa saya jawab pasti saya jawab"
Aku bisa melihatnya menahan nafas, seolah bersiap-siap kalau-kalau aku menanyakan sebuah pertanyaan yang akan merontokkan pertahanan dirinya selama ini.
"Kenapa Pak Dar ngga pernah pulang?"
Dilepaskannya nafas yang tadi ia tahan.
"Pulang kemana? Pulang itu kan kalau kita punya rumah."
"Pak Dar kan punya rumah, saya tau kok. Pak Dar juga pernah cerita sama saya."
Ia terdiam. Angin kembali berhembus seakan membujuknya untuk menjawab pertanyaanku.
"Coba beri tahu saya dulu apa yang kamu maksud dengan rumah itu. Kalau maksud kamu bangunan tembok yang ada atapnya untuk kita tidur saya punya banyak. Tapi kalau maksud kamu tempat yang bisa membuat saya merasa aman, dihormati, merasa sebagai manusia utuh, saya sudah tidak punya."
"Berarti saya juga tidak punya rumah ya, Pak?"
Ia memegang gelas kopinya erat-erat.
"Apapun yang kamu lakukan, hati-hati dengan pikiranmu, cah bagus. Pikiranmu bisa menjadikanmu apa saja, membawamu kemana saja, dan membenarkanmu untuk berhenti berpikir kapan saja..."
"Sudah belum kopinya?"
Pak Dar membuyarkan lamunanku.
"Sudah, Pak."
Aku memberikan gelas kopi yang sudah kosong kepadanya.
"Saya masuk dulu ya, nanti saya mau membetulkan jam tangan saya di pinggir kota, repot kalau tidak punya jam."
"Iya Pak. Terimakasih"
"Sama-sama, kalau kamu masih nggreges, masih ngga enak badannya nanti malam saya kerok aja"
"Iya Pak."
Pak Dar masuk ke kamar dan meninggalkanku sendirian. Aku kembali terdiam. Kosong. Langit merayakan malam dengan hitam.
Minggu, 04 September 2011
janggal ( bagian pertama)
Aku masuk kedalam kamar dan menutup pintu.
Gelap. Barulah tak lama kemudian aku dapat menemukan saklar lampu sehingga sedikit cahaya dari lampu tidur kecil menerangi kamar itu, temaram saja.
Kamar ini jelas bukan kamar yang nyaman untuk ditinggali kalau tidak mau dibilang absurd, sedikitnya ada tiga buah asbak yang sudah terlalu penuh dengan puntung rokok dan baju-baju kotor yang terserak begitu saja di lantai, dindingnya dicat hitam dan dipenuhi dengan tulisan-tulisan kapur putih yang terlihat acak dan pudar di beberapa bagiannya, sedangkan satu sisi terakhir disesaki dengan puluhan selebaran pengumuman orang hilang yang menempel tumpang tindih karena sudah tidak ada ruang lagi. Aku selalu merasa potret orang-orang hilang tersebut punya kesedihan bercampur amarahnya sendiri-sendiri dan saling berebut ingin didengarkan, atau sebaliknya mereka justru mendapatkan ketenangan dan kehidupan yang mereka cari setelah dianggap "hilang" oleh keluarga atau siapapun itu yang merasa kehilangan atas bebasnya mereka.
Lalu ada lemari buku di sudut dinding dekat jendela, lemari buku itu adalah satu-satunya bukti bahwa penghuni kamar ini adalah makhluk yang beradab dan berbudaya, bahwa aku tidak mungkin meludah sembarangan, menyerobot antrian, atau selapar-laparnya membius gelandangan yang tertidur pulas di emperan toko lalu membawanya pulang untuk kujual organ-organ tubuhnya ke pasar gelap dan memakan sisa-sisa dagingnya mentah-mentah, setidaknya aku belum pernah berpikir untuk mencobanya. Menurutku membaca buku adalah suatu perjalanan dari ketidaktahuan yang berubah menjadi suatu perasaan aneh ketika selesai membacanya, senang rasanya mengetahui bahwa aku mengisi sedikit lagi rongga di dalam kepalaku dengan suatu hal yang baru.
Aku menyewa kamar ini 2 tahun yang lalu, di hari kelima aku melarikan diri dari rumah. Pemilik kamar kontrakan ini -ibu-ibu separuh baya yang dengan sedikit memaksa minta dipanggil Tante- bilang aku bebas melakukan apa saja di kamar ini asalkan aku membayar tepat waktu, 450 ribu rupiah setiap bulannya. Persis seperti yang kucari. Tante berjanji selama ia belum mendapatkan suami lagi ia tidak akan merubah peraturan itu. Yang kutahu suaminya melarikan diri bersama salah satu wanita yang juga penghuni salah satu kamar kontrakannya. Hanya itu yang dia ceritakan selama 2 tahun ini, tak lebih. Kalau melihat kelakuan serta dandanannya selama ini sepertinya peraturan itu takkan berubah untuk waktu yang lama.
Dan sepertinya ia benar-benar menepati janjinya, aku pernah melihat salah satu penghuni kontrakan ini bersama 3 temannya membopong seorang gadis muda yang sudah sangat mabuk kedalam kamarnya dan membuatku tak bisa tidur semalaman karena gadis itu menangis kesakitan sepanjang malam selagi pemuda-pemuda tengik itu tertawa-tawa tak kalah mabuknya dan berulang kali membentaknya agar ia diam, aku juga pernah menemukan seorang laki-laki tertidur di depan pintu kamarnya ketika aku pulang menjelang pagi dan aku baru tahu keesokan harinya kalau orang itu ternyata sudah mati dengan jarum suntik masih menempel di lengannya ketika 2 orang polisi berpenampilan seperti copet kereta api mengetuk kamarku menanyakan berbagai pertanyaan tentang orang itu yang sebagian besar kujawab dengan jawaban tidak tahu. Dan Tante tidak perduli, yang ia kutuk hanya karena orang itu meninggal sebelum membayar uang sewa kamarnya 2 bulan terakhir.
"Bayar saja uang sewamu paling lambat tanggal 5 setiap bulan. Setelah itu kamu mau menyembah setan? Silahkan, asalkan jangan berisik."
Aku ingat sekali pesan Tante sewaktu aku pertama kali pindah kesini, dan tampaknya dia punya definisi berisik yang sangat berbeda denganku.
Tetangga sebelah kananku bernama Pak Dar, supir taksi yang tak pernah berpakaian seperti layaknya supir taksi ketika dinas, kendaraannya pun tidak terlihat seperti taksi jika di atasnya tidak ada lampu bertuliskan taksi yang kini sudah berwarna putih polos karena tulisannya sudah pudar. Tebakanku Pak Dar berumur sekitar 60an, badannya kurus seperti meranggas dimakan angin malam, wajahnya tipikal seperti orang Jawa kebanyakan dengan tulang pipi yang menonjol dan dibungkus kulit tipis berwarna coklat matang. Rambutnya berwarna perak dan selalu disisir rapih ke belakang. Aku adalah teman bicara satu-satunya dan aku memang menyukai orang tua ini, ia bisa begitu bijak dan spontan dalam waktu yang bersamaan, ia bisa begitu fanatik sekaligus skeptis tanpa terlihat bodoh, tapi aku tahu pasti di balik itu semua ada perasaan kesepian yang sangat kuat, yang membuatku tak pernah punya cukup alasan untuk menanyakan tentang hal itu kepadanya.
Ia seperti punya aturan tidak tertulis "Jangan pernah tanyakan masa laluku kecuali aku yang menceritakannya terlebih dahulu kepadamu."
Pak Dar punya kebiasaan membawa pulang barang-barang penumpang yang tertinggal di dalam taksinya, apapun itu, dan aku terkejut ketika mengetahui barang apa saja yang ditinggalkan secara tidak sengaja oleh penumpang taksi, dari yang memang mudah tertinggal seperti telepon genggam, payung, sampai barang yang terlihat mustahil bisa ditinggalkan pemiliknya seperti 2 buah kopor besar untuk bepergian, televisi berwarna 14 inchi, sampai celana dalam wanita.
Di suatu malam Pak Dar pernah berteriak-teriak memanggil namaku sambil berlari dari kejauhan, dan ketika aku keluar dari kamar ia mendatangiku dengan selembar uang 100 dollar Amerika menempel di keningnya, sewaktu aku memberitahunya bahwa tindakan itu bisa menurunkan nilai tukar uang tersebut ia segera berlari mengambil kitab suci yang selalu ia bawa di taksinya dan menunjukkan 6 lembar lagi uang yang sama diselipkan rapih-rapih di lembaran-lembaran kitab suci itu.
Malam itu kami minum whiskey import sampai kami berdua tak sadarkan diri.
Aku melepaskan sepatuku, melemparkannya ke sudut ruangan, lalu duduk bersandar di dinding. Hari ini melelahkan sekali, pikirku. Sepi. Suara angin bahkan hampir tidak terdengar. Seperti biasanya aku merasa ada sesuatu yang duduk di sudut kamarku yang gelap karena tidak terkena cahaya lampu, dan itu membuatku tenang. Aku suka sekali sepi, seharusnya semua orang menyembah sepi, berdoa di setiap hari minggu atau sujud berserah diri kepadanya lima kali sehari.
Aku mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya, asap mengepul.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu lalu merogoh saku kanan celana jeans lusuhku, selembar kertas yang terlipat empat dengan rapih, walaupun sebetulnya itu tidak membantu karena sebelumnya kertasnya sendiri sudah berantakan tidak karuan. Kertas itu berwarna putih dan berisi tulisan tangan yang difotokopi sehingga membuatnya semakin sulit dibaca. Di bagian atasnya terdapat foto pemuda berusia 25 tahunan. Atau lebih muda dari itu tapi dia menderita cacat mental sehingga terlihat lebih tua.
Aku memperhatikan foto itu sebentar kemudian menempelkannya di dinding, diantara ratusan orang-orang sepertinya. Setidaknya disini ia mendapatkan tempat.
Tak lama kemudian pintu kamarku terbuka, seorang gadis masuk ke dalam. Gadis itu, lebih muda tak begitu jauh denganku, rambutnya hitam panjang terurai. Alisnya melengkung dengan sangat anggun menghiasi matanya yang juga hitam berkilat, seakan ia ingin menaklukkan seluruh dunia dengan mata itu. Ia adalah gadis terindah yang pernah kukenal, bahkan semenjak aku belum mengerti apa itu indah. Dan seperti apa rasanya tak bisa memilikinya. Ia sangat cantik kalau sedang tersenyum dan bahkan lebih cantik lagi ketika tertidur pulas. Gadis ini adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku terlihat bodoh ketika berdiskusi dengannya. Dan entah kenapa aku suka itu.
"Lagi ngapain kamu?"
Ia memandangiku seakan aku adalah orang asing yang mencuri masuk ke kamarnya diam-diam ketika ia pergi.
"Tutup pintunya, silau." Aku memicingkan mata sambil setengah menutupinya dengan tangan kiriku.
Ia menutup pintu lalu bergabung denganku di tengah temaram ini. Aku memperhatikannya duduk di depanku lalu mengeluarkan sebungkus makanan dari kantong plastik hitam yang dibawanya.
"Makan nih, aku bawain makanan. Kamu belum makan kan?"
"Nanti aja ah, males."
"Kamu kapan sih ngga males." Ia mengatakan itu tanpa melihat ke arahku sambil menyalakan rokoknya.
"Dari mana kamu?"
"Dari rumah." Asap mengepul dari bibirnya yang tipis. Bibir yang sangat kukenal. Aku menatapnya dalam. Ia menunduk. Sesaat kemudian ia melirikku dan langsung membuang muka saat tahu aku sedang memandanginya.
Aku bertanya pelan, "Ada apa?"
"Ngga ada apa-apa."
"Ini jam 2 pagi lho, kok kamu bisa keluar rumah jam segini?"
Ia terdiam sejenak, hanya sejenak tapi sudah lebih dari cukup untukku mengetahui bahwa ia berbohong.
"Iya aku dari rumah teman, tadinya mau langsung pulang tapi malah jadi kesini."
"Terus?"
"Ya aku mau tidur disini."
"Terus nanti sewaktu kita bangun Mama udah ada di depan pintu kamarku?"
Ia terdiam lagi.
"Tidak mungkin, Mama taunya aku tidur di rumah temanku."
Ia tahu dengan mengatakan itu berarti ia membiarkanku mengetahui satu hal lagi yang ia tutupi.
"Berarti kamu emang ngga niat pulang dari awal?"
"Iya. Dan kamu pasti sudah tau dari pertama tadi aku datang kesini."
"Memang."
Aku merangkulnya dan membiarkan ia menyenderkan kepalanya di pundakku. Sekarang aku tak takut lagi, pagi boleh datang kapan saja. Aku sudah memiliki semuanya.
Sabtu, 03 September 2011
dulu terasa indah bersama
terpatri dijiwa dan di blog ini
biarkan semua kisah kasih kita
tetap mengalir dan mengenang melalui blog ini
dan biarkan semua kisah kasih kita
tersimpan rapi dan tertata indah di blog ini
karena sejuta kenangan bersamamu
serta sejuta senyum dan kasih yang dulu pernah kau beri
akan mengenang dan tetap terkenang
meski cintamu tak ada lagi
izinkan aq tetap mencintaimu selamanya
karena sejuta kenangan indah bersamamu
tak akan pernah bisa hilang dari ingatanku
serta tak akan mungkin pernah bisa berlalu
karena engkau yang membuat aku
bisa tertawa
bisa tersenyum
bisa bahagia
bisa sedih
bisa was-was
bisa cemburu
bisa menyayangi
bisa mengerti akan cinta seorang wanita
bisa memahami sifat dan karakter wanita
bisa mendengar wanita menangis bahagia
bisa mendengar wanita menangis karena berduka
bisa mendengar dan merasakan keluh kesah seorang wanita
bisa membuat aq semangat
bisa membuat aq tegar
bisa membuat aq tak salah langkah
dan masih ada sejuta manfaat yang aq rasakan darimu dulu
dan aq ucapkan terima kasih atas semua kasih sayang,perhatian,pengertian,ketulusan,kejujuran,ketabahan,kesabaran,kekuatan,saat bersamaku dulu
tak ada yang bisa aq lakukan untuk membalas semua kebaikan yang pernah engkau berikan dulu, jika saja waktu bisa diputar kembali pasti aku tak akan pernah meninggalkanmu ..
Jumat, 02 September 2011
INTUISI
Saya belajar,bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya.
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai...
Saya belajar,bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan,
dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya...
Saya belajar,bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali,
serta orang yang begitu perhatian pada saya....
Saya belajar,bahwa sahabat terbaik bersama saya
dapat melakukan banyak hal dan kami selalu memiliki waktu terbaik....
Saya belajar,bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh
walau dipisahkan oleh jarak yang jauh
.Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...
Saya belajar,bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan,
bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya....
Saya belajar,bahwa sebaik-baiknya pasangan itu,
mereka pasti pernah melukai perasaan saya dan untuk itu saya harus memaafkannya......
Saya belajar,bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain....
, kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus....
Saya belajar,bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu,
dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya...
Saya belajar,bahwa saya tidak dapat merubah orang yg saya sayangi,tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri....
Saya belajar,bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan....
Saya belajar,bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda
,tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....
Saya belajar,bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki,tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya....
Saya belajar,bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini
,semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati....
Saya belajar,bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau
sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...
Saya belajar,bahwa saya punya hak untuk marah,
tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis....
Saya belajar,bahwa kata-kata manis tanpa tindakan
adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai...
Saya belajar,bahwa orang-orang yang saya kasihi justru sering diambil segera dari kehidupan saya....
Selamat belajar , semoga kita sadar.. !!!!!
Love doesn't make the world go round,
Love is what makes the ride worth while
Minggu, 28 Agustus 2011
damai dan keindahan itu telah hilang ...
Kita telah kehilangan simfoni burung-burung di pagi hari
berganti jerit riuh kendaraan, manusia-manusia yang berlari
didesak. Didesak-desak
kebutuhan-kebutuhan manusia kini
berlari mengejar materi. tamak.
tak henti. tak hentihenti
Kita telah kehilangan lembut angin
menerbangkan aroma rumput wangi
berganti aroma sampah bertebaran
Kita telah kehilangan murni udara pohon-pohon hijau
Kini hanya tersisa
hutan-hutan yang risau
satwa-satwa yang gelisah
pohon-pohon yang resah
(kapan giliran mereka disesah?)
Kita telah kehilangan senja dan langit berwarna jingga
di hari-hari kita
berganti kini dengan keruh mega
tertutup emisi gas rumah kaca
Kita telah kehilangan musim yang manis
Yang dulu silih berganti dengan teratur
tak seperti kini
hujan dan kemarau tertukar
pada musim yang tak benar
Kita telah kehilangan
Tak terhitung bilangan
Akankah kita kehilangan lagi
anak-anak masa depan
tanpa harapan?
Kamis, 25 Agustus 2011
SELAMAT ULANG TAHUN MA ....
Padahal aku tahu, kau bukanlah seorang lelaki
Kau ajarkan aku bagaimana cara untuk mendaki
Padahal aku yakin, tak satupun puncak gunung yang pernah kau datangi
Banyak hal kau ajarkan padaku, tapi hanya sedikit hal yang bisa aku mengerti
Banyak hal yang kau perlihatkan padaku, namun hanya sedikit hal yang bisa aku pahami
Banyak hal yang kau tunjukan padaku, namun hanya sedikit hal yang bisa aku ketahui
Banyak hal yang kau berikan ke padaku, namun hanya sedikit hal yang bisa aku hargai
Hingga saatnya sekarang aku memantapkan hati
Hingga saatnya sekarang aku melangkahkan kaki
Hingga saatnya sekarang aku memberikan bukti
Hingga saatnya sekarang aku membuktikan sebuah janji
Selamat ulang tahun mama ku
Selamat ulang tahun guru besar ku
Selamat ulang tahun sumber semangat ku
Selamat ulang tahun untukmu
Maaf bila aku tak seperti harapan mu .....
bimbang
Teringat saat ku mulai membuka satu persatu akan baju-baju kebodohanku
Bahkan hampir ku telanjang di depanmu
Sampai sekarang pun, sebenarnya ku masih limbung karena bingung, mengapa begitu fasih ku buka lembar per lembar goresan kehidupanku.
Percayakah aku akan mu, percayakah kamu, percayakah aku…??, ah…tak secerdas itu aku.
Satu yang ku tahu, aku merasa dan aku sangat merasakan…aku tak merasa telanjang di depanmu, karena aku tahu….ah…sekali lagi aku pun tak dapat percaya akan diriku……..
Pencarianku pencarianmu tak kan selesai
Apakah kau masih disana menungguku dengan senyum hangat dan kabar baik
Ataukah kau akan menyerbuku dengan sejuta ciuman dan peluk
Masih teringat akan janjiku padamu
Dengan semangat ku ungkapkan padamu
Dengan yakin ku ikrarkan padamu....
Semilir angin dan bulan sepotong saksiku
Pencarianku pencarianmu tak kan selesai
Apakah kau masih disana menungguku dengan senyum hangat dan kabar baik
Ataukah kau akan menyerbuku dengan sejuta ciuman dan peluk
Masih teringat akan janjiku padamu
Dengan semangat ku ungkapkan padamu
Dengan yakin ku ikrarkan padamu
Semilir angin dan bulan sepotong saksiku
Minggu, 21 Agustus 2011
katanya sih begitu ...
Suatu ketika, terdapat sebuah pulau tempat tinggal seluruh perasaan: Kebahagiaan, Kesedihan, Pengetahuan dan masih banyak lagi yang lain, termasuk diantaranya,Cinta.
Suatu hari diumumkan kepada seluruh perasaan bahwa tidak lama lagi pulau tersebut akan tenggelam, sehingga seluruh perasaan yang ada segera mempersiapkan perahunya untuk pergi.
Cinta ingin terus bertahan hingga detik-detik terakhir.
Cinta memutuskan untuk bertanya kepada Kesombongan yang melewatinya dengan kapal yang indah. "Kesombongan, tolong selamatkan aku!" jawab Kesombongan "Cintaku sayang, aku tidak bisa membantumu. Kamu basah sekali, nanti merusakkan kapalku yang indah."
Kesedihan tampak berlayar di dekat pulau. Cinta pun berteriak, "Kesedihan, ijinkan aku pergi bersamamu." "Aduh...Cinta, aku terlalu sedih. Sekarang aku hanya ingin menyendiri, kamu tidak bisa ikut denganku."
Setelah beberapa saat, Kebahagiaan pun tampak di kejauhan, tapi dia terlalu bahagia sehingga tidak mendengar saat Cinta memanggilnya.
Tiba-tiba terdengar suara, "Cinta, ikutlah denganku." Muncullah sosok tua dengan kapalnya yang tak kalah tua namun berkesan agung dan anggun berwibawa. Cintamerasa sangat bersyukur, langsung naik ke kapal. Akibat terlalu girang bisa selamat dari pulau perasaan yang tenggelam, saat mencapai daratan kering, Cinta lupa menyakan nama sosok tersebut hingga sosok tersebut hilang menjauh ditelan cakrawala, melanjutkan perjalanannya.
Sadar betapa besar utang budinya kepada sosok tua tersebut, Cinta pun bertanya kepada Pengetahuan, sesepuh para perasaan yang ditemuinya di pulau itu. "Siapakah yang telah menolongku?" Pengetahuan menjawab "Dia adalah Waktu." "Waktu?" tanya Cintasetengah tak percaya. "Tapi mengapa Waktu bersedia menolongku?" Pengetahuan tersenyum dengan penuh kebijaksanaan dan menjawab,
"Karena hanya waktu yang dapat memahami betapa besar arti sebuah Cinta."