Senin, 05 September 2011

janggal (bagian kedua)

Aku sedang tertidur pulas ketika sayup-sayup mendengar pintu kamarku diketuk seseorang. Berulang-ulang dan semakin jelas. Dan setelah itu ditambah dengan suara seseorang memanggil-manggil namaku. Aku mencoba untuk duduk tegak dan membiasakan retina mataku beradaptasi dengan cahaya yang tiba-tiba masuk dari lampu kamar yang tetap temaram. Kepalaku terasa berat sekali sehingga aku hanya bisa mengerutkan dahi setiap orang itu terdengar memanggil namaku lagi, samar-samar. Aku menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan mencari jam, suatu tindakan sia-sia yang kuulangi setiap hari selama 2 tahun di kamar ini karena aku tahu di kamar ini tak ada jam. Cahaya. Suara. Berat. Itu suara Pak Dar.

Aku membuka pintu kamar dan melihat seorang laki-laki tua berdiri di depan pintu kamarku memegang segelas kopi panas. Ia tersenyum hanya mengenakan kaus kutang dan terlihat lelah.

"Kenapa, Pak Dar?"

"Nih, Sarapan dulu. Sekalian temenin saya ngobrol"

Ia menyodorkan gelas kopi yang dibawanya kepadaku. Kuambil gelas itu dan meniup-niup isinya.

"Jam berapa ini?"

"Setengah tiga sepertinya. Tadi saya sampai rumah saja sudah jam dua lewat."

"Kok malam sekali pulangnya, Pak?"

"Kalau saya pulang cepat kamu mau gantikan saya bayar semuanya?"

"Ya ngga gitu juga, Pak..."

Kami berdua duduk di teras depan kamar. Kopi panas yang dibawakan oleh Pak Dar tidak terlalu membantu menghangatkan udara dan lantai keramik yang dingin. Malam itu angin terlihat seperti sedang berusaha untuk membuat semua orang tetap didalam rumah, bertiup pelan tapi dingin dan terus menerus.

"Kamu kok tumben jam segini sudah tidur?"

Pak Dar bertanya tanpa menoleh kepadaku.

"Lagi agak ngga enak badan saya, Pak. Sudah dua hari ini."

"Hahahahahaha...."

Ia tertawa lepas sekali sampai bahunya terguncang-guncang, kemudian terbatuk-batuk seperti orang tersedak makanan.

"Kok saya malah ditertawakan, Pak?

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang membuatnya tertawa seperti itu.

"Badan kok disalahkan. Kasihan badanmu itu, sudah kerja rodi tiap hari masih saja disalahkan. Sudah bagus dia masih mau melayani nafsu tuannya. Kalau suatu hari dia ngambek, mutung terus ngga mau kerja lagi gimana hayo? hayoh..."

"Halah..saya kira kenapa Pak."

"Semua itu asalnya dari sini, cah bagus..."

Ia menekan-nekan pelipisku dengan jari telunjuknya.

"Semua yang kamu rasakan, kamu lihat, kamu dengar, kamu benci, kamu sembah. Semua berasal dari sini."

Aku terdiam, orang tua ini sudah mengalami terlalu banyak peristiwa untuk dibantah.

"Maksud Pak Dar saya sakit karena saya mau sakit?"

"Apa kamu bernafas karena kamu mau bernafas?"

Aku kembali menyeruput kopiku yang sudah mulai dingin. Pak Dar menyalakan sebatang rokok dan menawariku.

"Ndak Pak, terimakasih. Tenggorokan saya lagi ngga enak."

Ia mengangguk-angguk dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

"Saya boleh tanya sesuatu, Pak?"

"Silahkan, selama bisa saya jawab pasti saya jawab"

Aku bisa melihatnya menahan nafas, seolah bersiap-siap kalau-kalau aku menanyakan sebuah pertanyaan yang akan merontokkan pertahanan dirinya selama ini.

"Kenapa Pak Dar ngga pernah pulang?"

Dilepaskannya nafas yang tadi ia tahan.

"Pulang kemana? Pulang itu kan kalau kita punya rumah."

"Pak Dar kan punya rumah, saya tau kok. Pak Dar juga pernah cerita sama saya."

Ia terdiam. Angin kembali berhembus seakan membujuknya untuk menjawab pertanyaanku.

"Coba beri tahu saya dulu apa yang kamu maksud dengan rumah itu. Kalau maksud kamu bangunan tembok yang ada atapnya untuk kita tidur saya punya banyak. Tapi kalau maksud kamu tempat yang bisa membuat saya merasa aman, dihormati, merasa sebagai manusia utuh, saya sudah tidak punya."

"Berarti saya juga tidak punya rumah ya, Pak?"

Ia memegang gelas kopinya erat-erat.

"Apapun yang kamu lakukan, hati-hati dengan pikiranmu, cah bagus. Pikiranmu bisa menjadikanmu apa saja, membawamu kemana saja, dan membenarkanmu untuk berhenti berpikir kapan saja..."

"Sudah belum kopinya?"

Pak Dar membuyarkan lamunanku.

"Sudah, Pak."

Aku memberikan gelas kopi yang sudah kosong kepadanya.

"Saya masuk dulu ya, nanti saya mau membetulkan jam tangan saya di pinggir kota, repot kalau tidak punya jam."

"Iya Pak. Terimakasih"

"Sama-sama, kalau kamu masih nggreges, masih ngga enak badannya nanti malam saya kerok aja"

"Iya Pak."

Pak Dar masuk ke kamar dan meninggalkanku sendirian. Aku kembali terdiam. Kosong. Langit merayakan malam dengan hitam.

bersambung .....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar