Rabu, 14 Agustus 2013

inikah rasanya ....

Adakah celah untuk bumi beri restu, untuk tuhan beri mukjizat??? Tawa si anak malam selalu mengawang, mendengungkan kisah pada raja diraja semesta.. Ah….kembali terukir ditembok kesunyian,diseluk-beluk nadi yang berdetak kencang untuk memacu tak-tik-tuk jarum jam yang tak pernah mundur… Orang boleh punya cerita tentang romi dan juli tapi, ini bukan tentang itu tapi, ini tentang aku dan kamu yang hidup dinegeri pewayangan. Dan… tak ada lagi cerita tentang ini, tentang Siti Nurbaya. Jika dikupas, ini tentang celebes dan Java. Selalu berbicara bagai malaikat menyapa nabi dalam kesenyapan malam tak bertuan. Bebicara tentang satu yang agung namun selalu saja kata-kata filusuf yang bermakna terlontar. Ini cerita tentang kejujuran yang akan lama terungkap. Mungkin perguliran waktu tertunda akan semakin menumpukkan apa yang tertahan dan tak bisa diungkap melalui angin yang bersahabat setiap malamnya. Sudahkah kiranya badai mendera berlalu.. Bermuram durja si anak malam. Pada pagi kokoh membuka hari,alir embun arus bening hati.. Lembut kabut pelan mula terkuak dibelah cahaya hidup,kian meninggi. Usap mata lembut membuka hari, seutas senyum tak kan terputus. Sekali lagi embun harus mengalir menuju muara daun yang mula kering, Untuk ciptakan warna pagi yang selalu hidup... Diantara belukar yang mengering masih ada jingga yang membiru... Matahari tak kan pernah kembali untuk menyinari sesaat... Serta embunpun tak pernah mengering pada kekeringan daun. Malampun kembali membawa merah jambu sang bulan, Bermuram durja si anak malam,... Tak kan ada kesempatan untuk kembalinya pada badai yang mendera.

Senin, 05 Agustus 2013

kotak usang

Aku adalah sepotong kaca murah yg pecah terbelah ke segala arah Perih merintih Pedih memutih Aku adalah terang pasar malam yang melawan matahari siang Menyala sia-sia Gaduh tak bersuara Bukan aku tak mau menjadi hiasan dinding ungu pucatmu itu Atau menjadi kumpulan warna yang bisa menyinarimu sepanjang waktu Karena pecahan-pecahan kecil ini kau tahu aku ada Walau aku tahu itu membuatmu terluka Karena cahaya redup ini kau tahu aku selalu terjaga Seandainya tengah malam nanti kau terbangun dan memintaku untuk menceritakan sebuah cerita Aku adalah apa yang kau sebut air mata pagi Kecil tak berarti Dan kemudian menghilang ditelan hari Aku adalah semua yang tak pernah kau lewati Dan aku tak mau beranjak pergi Aku pernah menjadi seberkas cahaya Yang memberimu pelangi dan melukisnya dengan warna yang sempurna Menerangi seluruh duniamu tanpa kau minta Dan tetap menjadi cahaya walau tak pernah kau sapa Aku pernah menjadi indahnya nada Yang kau nyanyikan saat kau tak ingin aku tahu apa yang kau rasa Menyembunyikan air matamu yang tak pernah bersuara Dan tetap menjadi nada walau tak pernah kau jaga Aku adalah sekotak luka sayangku... Begitu indah sehingga aku tak mau beranjak pergi Begitu sakit sehingga aku mendambakan pagi Maukah kau membawaku pergi dari sini...?? Aku terlalu lelah untuk semua ini Dan maukah kau membawaku ke tempat tuhanmu yg dulu selalu kau kunjungi...? Karena aku suka melihatmu bersujud di sajadah yg dulu selalu kau tangisi Aku adalah air mata sayangku... Yang selalu terlihat begitu indah saat menetes di pipimu Melebihi semua cahaya dan nada yang pernah kuberikan padamu