Jumat, 08 April 2011

agnostik ...



Ruang

Waktu

Air mata

Tawa

Emosi

Logika

Akal

Jiwa

Imaji

Mimpi

Sepi

Luka

Hitam

Langkah

Perih

Malam

Khayal

Angin

Senja

Rindu

Hujan

Awan merah

Tanah basah

Lampu kota

Manusia usang

Ilalang petang

Lengkung alis

Ceruk bibir

Tulang pipi

Kupu-kupu

Rapal mewangi

Payung emas

Telanjang bulan

Pasar malam

Sekotak luka yang kutinggalkan

Sudut mati yang kutuhankan



Aku ingin berdamai denganmu....

hayalan sementara ...




Ada orang yang mengatakan bahwa menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Memang terdengar sedikit sarkastik, terlebih ditambah dengan banyaknya orang yang dengan setengah memaksa meminta agar orang lain menganggapnya telah dewasa, sekalipun ia sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri atau indikasi bahwa ia telah dewasa. Salah satu ciri manusia dewasa adalah ia dapat menentukan prioritas, menyusun urutan keputusan dan tindakan yang harus diambil berdasarkan segala kemungkinan dan hukum sebab akibat yang dapat ditimbulkan olehnya. Apabila ada seorang ayah yang terpaksa tinggal di rumah menemani istrinya yang kewalahan karena anak pertamanya yang baru berusia 6 bulan mendadak sakit, padahal ia telah berjanji kepada koleganya bahwa malam itu mereka akan merampok toko serba ada yang buka 24 jam, maka kedewasannya sedang diuji. Dan jelas setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang prioritas, pandangan yang terdiri dari ribuan potongan-potongan kecil pengalaman untuk kemudian membentuk suatu spektrum semu yang tak kalah absurdnya dari pengalaman itu sendiri.Disinilah aku berjalan berdua dengan gadis itu, di jalan lengang yang lurus membosankan. Gerimis turun tipis-tipis seakan berebut mencari perhatian karena aku terlalu merisaukan angin malam yang dengan liciknya bertiup tanpa henti. Sebetulnya tak ada yang salah dengan itu, biasanya aku sangat menikmati saat-saat seperti ini, berjalan hanya berdua dengannya, malam yang gelap menceritakan semua, ditambah dengan wangi aspal basah yang menenangkan. Tak ada yang salah dengan itu, hanya saja percakapanku dengannya di bar tadi masih mengusikku. Gadis ini mempertanyakan prioritasku, apa yang sebenarnya ingin kutunjukkan kepadanya, dan apakah ini semua ada akhirnya.

"Korek."
Suara gadis itu menarik sesuatu yang dari tadi melayang-layang di atas tubuhku kembali ke tempatnya dengan sangat cepat. Aku bernafas lagi.

"Hah?"
"Kamu punya korek? Punyaku tertinggal di bar."

"Oh. Ada."

Aku mengambil korek di saku celana dan kuulurkan kepadanya. Ia mengambilnya tanpa sedikitpun menyentuh tanganku. Api menyala malu-malu dan menyinari wajahnya yang sedang berusaha untuk menyalakan rokok di tengah angin dingin ini. Asap putih mengepul tipis, bulat sesaat kemudian buyar tak peduli.
"Rokok kamu habis?"

Ia menanyakan itu kepadaku karena heran aku tak merokok. Aku sendiri pun heran, tapi entah kenapa aku benar-benar sedang tidak ingin merokok, yang kuinginkan saat ini hanyalah tetap menyembunyikan kedua tanganku dalam saku celana agar aku merasa aman, aman dari indahnya pikiran tajam gadis ini dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ditimbulkan olehnya.
"Ada kok. Tenang."
"Ok."
Ia menjawab tak acuh kemudian merentangkan kedua tangannya dan mulai bernyanyi, kepalanya menengadah ke atas, membiarkan rintik-rintik hujan membasahi wajahnya. Tetesan air mengalir turun dari lengkung alisnya, membelai manja tulang pipinya dan berakhir di ceruk bibir. Ia tetap bernyanyi.

Aku mau melakukan apapun untuk gadis ini.

"Aku tahu lagu itu."

"Tentu, ini lagu yang dinyanyikan pemain gitar di bar tadi. Ia menyanyikan lagu itu seperti ia sendiri yang mengalaminya."
Ia menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian memejamkan matanya. Menyerahkan wajahnya untuk dibasahi rintik hujan. Tak lama kemudian ia kembali membuka matanya dan menoleh kearahku. Ia mau menanyakan sesuatu, aku tahu itu.

"Kamu tahu kenapa aku suka sekali berjalan menembus hujan? Kalau kamu memang untukku kamu pasti tahu."

Aku terdiam. Banyak sekali kemungkinan jawaban, dan aku tahu apa yang dipikirkannya.

"Karena kamu bisa menangis tanpa seorang pun tahu."

Ia tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Ada satu yang ia lupakan, aku mengenalnya lebih dari hujan.

"Bukankah seharusnya aku yang menangis?"

Aku menanyakan itu sambil memperlambat langkahku, seorang laki-laki tidak seharusnya membiarkan seorang gadis berjalan di belakangnya.

"Tidak ada yang bisa membuatmu menangis, kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri di dalam kepalamu itu.

"Dunia yang kuciptakan untukmu..."

Segera setelah aku mengatakan itu ia menghentikan langkahnya. Matanya semakin berkaca-kaca. Bibirnya kembali bergetar, sekali lagi aku tahu ia akan mengatakan sesuatu yang akan menyakiti perasaanku.

"Kau tahu kenapa suatu saat nanti aku akan meninggalkanmu?"

Aku diam, tak berani menjawab. Gerimis membasuh semua endapan perasaan. Angin merayu air mataku agar turun dan berdamai dengan hujan.

"Suatu saat nanti aku akan meninggalkanmu karena satu-satunya hal yang kau pedulikan hanyalah dunia kecil persetanmu itu! Bisakah kau tunjukkan kepadaku kalau kau takut kehilangan aku seperti kau takut kehilangan mimpi-mimpimu itu?"

Aku tetap diam, gadis ini tak tahu apa yang bisa dan akan kulakukan untuk membuatnya tetap disini. Aku mau melakukan apapun untuknya, hanya saja aku tak tahu caranya.

"Jangan pernah takut kehilangan, takutlah kita tidak punya apa-apa lagi untuk dihilangkan."

Aku mengatakan itu bersamaan dengan air matanya meleleh turun dari sudut matanya, terlalu perih untuk disembunyikan hujan.

"Itulah masalahmu, kau harus tahu, bahkan mimpi membutuhkan pagi untuk menjadikannya mimpi."

Kata-kata itu keluar pelan sekali dari mulutnya, hampir tidak terdengar. Dan ia berjalan meninggalkanku sendiri di tengah gerimis yang pucat dikhianati emosi. Mataku basah, lampu-lampu itu sekarang berubah menjadi puluhan geometri enam sisi yang berkerlap-kerlip warna-warni, menyambut satu bentuk siluet gadis yang bosan akan malam dan berharap mereka bisa membantunya merayu pagi. Atau tidak sama sekali.

bersambung ....