Senin, 12 September 2011

gak tau mau dikasih judul apa (aku dan D)

barusan "tepatnya pukul 00.40 wita" aku berhayal sedang berbincang bersama seseorang di masa lalu ku, tapi hayalan itu seolah olah nyata dan pernah ku alami ,sampai pada akhirnya perbincangan itu bisa aku tuangkan didalam blog ini.

D datang dengan secangkir kopi panas di tangan, lalu duduk di hadapanku sembari berucap “Mari kita berbincang tentang kebahagiaan,” .

Aku terkejut, merasa tidak siap. “Mengapa kebahagiaan?” tanyaku sambil menerima secangkir kopi yang disodorkannya D kepadaku.

“Entahlah,” D mengangkat bahu. “Hanya saja, belakangan ini kamu nampak tidak bahagia…”

Aku menyesap kopiku pelan-pelan, pikiranku tertuju pada sebuah percakapan yang berlangsung bertahun-tahun yang lalu:

Mengapa kamu pikir aku dapat membuatmu bahagia?

Entahlah. Jujur, aku tidak tahu apakah kamu dapat membuatku bahagia…

Jadi?

Mungkin memang bukan kebahagiaan yang aku cari.

“Jadi, apakah kini kamu mencari kebahagiaan?” tanya D kepadaku.

“Ya,” aku mengangguk. “Tapi… mengapa dulu aku tidak ingin mencarinya? Mengapa dulu aku menganggap kebahagiaan itu tidak terlalu penting, sehingga aku tak perlu mengejarnya?”

“Karena dulu kamu memilikinya,” D menjawab. “Jika kamu sudah memiliki kebahagiaan itu di dalam dirimu, kamu tak perlu lagi susah-susah mencarinya. Justru karena kamu sadar bahwa kamu sudah kehilangan kebahagiaan itu, maka kini kamu mencarinya. Ingat, kamu sendiri yang pernah berkata: ‘kita tidak akan tahu betapa berartinya sesuatu itu, hingga sesuatu itu direnggutkan dari kehidupan kita’. Sesuatu itu bisa berupa kebahagiaan, kan?”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Kutatap dia tepat di matanya.

D tidak menjawab, tetapi memutar sebuah lagu dari iTunes-ku.

“Ini saatnya bagimu untuk memilih. Untuk kembali berbahagia.”

Aku menghela napas panjang. Aku tahu bahwa hidup penuh dengan pilihan-pilihan, namun tetap saja, aku selalu kesulitan ketika dihadapkan padanya.

“Aku ingin mengingatkanmu pada sesuatu,” ujar D padaku.

“Apa?” tanyaku.

D tersenyum. “Ada seseorang yang kukenal, yang pernah mengatakan kepadaku, bahwa ia ingin mengejar kebahagiaannya sendiri terlebih dahulu, kemudian baru membahagiakan orang lain. Karena seseorang tidak akan pernah bisa membagi apa-apa yang tidak ia miliki. Kita tidak akan bisa membahagiakan orang lain jika kita sendiri tidak bahagia.”

Aku tersipu. Aku tahu siapa seseorang itu. Dan aku tidak lupa.

“Aku hanya ingin bahagia,” ujarku, sambil merasakan kehangatan bagian luar cangkir kopiku dengan kedua telapak tangan.

“Kita semua menginginkannya,” D pun mengangguk. “Tetapi hanya mereka yang berani memilih kebahagiaanlah yang berhak mendapatkannya.”

Sempurna.
Ini tak akan bertahan selamanya.
Aku tahu.

Cuma sementara.
Aku tahu.

Jika begitu, mengapa masih kau katakan sempurna?
Karena aku tidak
selalu meminta .
Aku cuma minta secukupnya waktu. Hanya waktu.

Tetapi… waktu itu sudah habis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar