Tengah malam. Aku menghabiskan waktuku dengan gadis itu di sebuah bar yang terletak di lantai paing atas sebuah gedung tua. Aku mengunjungi bar ini sejak bertahun-tahun yang lalu dan suasananya tidak pernah sedikitpun berubah sampai sekarang, musik yang mengalun perlahan dari seorang penyanyi dengan gitar di panggung yang diterangi lampu temaram, jendela-jendela besar yang melengkung anggun membuatku nyaman berlama-lama memandangi lampu-lampu kota yang mengerling malu, lantai kayunya yang berwarna coklat sanggup membuat suara ketukan sepatu seorang gadis yang hanya sedang berdansa malas setengah mabuk terdengar seperti rayuan manja. Di tempat ini gelembung-gelembung bir dingin di gelasku pun selalu terlihat indah. Sempurna.
Dan itulah yang dilakukannya, berdansa malas setengah mabuk. Dengan segelas ramping anggur Grand Cru Burgundy di tangan kirinya dan rokok putih di tangan kanan, membuat ia terlihat seperti sedang memimpin sebuah simfoni orkestra, mengalir anggun sambil sekali-kali ia mendekatkan bibirnya ke pemain gitar itu, ikut bernyanyi hampir tanpa suara.
Aku mengamatinya dari jauh, memandangi setiap gerakannya, mencoba mengartikan asap putih yang sesekali keluar dari bibir tipisnya. Dia menyembunyikan sesuatu, aku tahu. Lengkung alis itu menceritakan semua yang ingin kudengar, dan gaun merah itu tak pernah berbohong.
Ia menghabiskan minumannya kemudian duduk di bar, bersiap untuk satu gelas lainnya.
"Hey..."
Ia menoleh kepadaku dan menatapku heran.
"Bisa kesini sebentar..?"
Ia mengacuhkanku dan kembali menghadap bar. Tak lama kemudian minuman yang dipesannya datang dan diletakkan di depannya, ia menyalakan rokok, mengambil gelas itu kemudian berjalan pelan menghampiriku.
"Kenapa..??"
Ia mengatakan itu sambil tersenyum kecil seakan aku adalah seorang laki-laki tak dikenal yang mencoba untuk merayunya.
"Bisa duduk disini sebentar..?"
"Setelah gelas ini.."
Ia kembali tersenyum.
"Ayolah...kamu bisa duduk disini dan minum itu sesukamu"
Ia menghembuskan nafas pendek kemudian menarik kursi dan duduk di depanku.
"Ada apa..?"
Aku tak menjawab dan berusaha mencari pemantik yang ternyata ada di sakuku untuk menyalakan rokok yang baru saja kukeluarkan dari tempatnya. Asap mengepul.
"Ada yang mau kamu ceritakan..?"
"Tidak."
Ia menjawab itu terlalu cepat. Sedikit terlalu cepat.
"Oh ya? Aku kenal kamu lebih dari yang kamu kira."
Ia menenggak sedikit minumannya kemudian melipat kedua tangannya di dada. Orang yang berbohong selalu berusaha menempatkan sebuah penghalang didepannya untuk menjaga jarak, entah itu melipat tangan atau gerak-gerik lainnya. Itu naluri.
"Atau kamu sudah punya orang lain untuk mendengarkan kamu cerita?"
"Hey..itu tidak adil."
"Kalau begitu aku mendengarkan..."
Ia menggigit-gigit bibirnya dan kembali menghisap rokoknya.
"Tadi malam aku bermimpi, ada tiga orang duduk dikamarmu. Aku, kamu, dan satu orang lagi yang aku tidak tahu siapa. Orang itu cuma diam memperhatikan kita. Tidak bicara. Tidak berkedip, dan pandangannya selalu mengarah kepadaku.Tiba-tiba ia menarik tanganku dengan raut muka memohon supaya aku ikut dengannya pergi dari situ."
"Lalu?"
"Sudah lebih dari seminggu ini aku bermimpi seperti itu."
"Bukankah suatu saat nanti kamu memang akan pergi?"
Waktu berhenti. Raut mukanya berubah. Ia tahu, suara penyanyi dengan gitar itu tidak lagi terdengar, gelembung-gelembung bir itu tidak lagi berkejar-kejaran mencari udara. Lilin berhenti meleleh karena kecewa apinya tak lagi dipedulikan. Sunyi.
"Aku tidak mau terus seperti ini."
Ia mengatakan itu pelan sekali, seakan ia takut membangunkan logika yang selama ini ia bungkus dengan rapi. Seakan ia takut tidak dapat menarik lagi ucapannya.
"Apa yang kamu maksud dengan seperti ini?"
Tak ada jawaban.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Aku bertanya sambil tetap melihat dalam ke matanya. Tak akan kubiarkan sedetik pun ia memalingkan pandangannya dariku.
"Silahkan."
Ia menjawab itu tetap dengan pelan sekali. Hampir tidak terdengar.
"Kenapa harus menunggu malam kalau petang bisa membuatmu nyaman?"
Bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu tapi sadar kalau jawabannya bisa melukai seseorang. Ia tahu kalau selama ini aku bertuhankan mimpi, dan ia telah menemukan tuhannya sendiri.
"Karena aku ingin melihat pagi..."
Dan memang ia telah menemukan tuhannya sendiri, dengan ratusan bunga lili yang berjatuhan dari langit menyirami tubuhnya yang seindah telanjang bulan malam. Hitam. Indah dan menyakitkan. Dimulai dari malam itu aku tahu, suatu saat nanti dia akan pergi, dan aku hanyalah tak lebih dari malaikat yang menangis karena dihukum tuhannya untuk hidup selama-lamanya dalam perayaan sepi, sekalipun sayapnya telah lama mengering mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar