Selasa, 13 September 2011

meracau dalam diam


Diam..
Dan perhatikan bagaimana kita perlahan tenggelam
Dengan segala buih pembenaran yang tak pernah berhenti mengisi keringnya retorika
Dengan segala luka yang entah darimana datangnya
Bagaimana aku bisa melewatkanmu ketika kau selalu mengingatkanku akan candu..??
Melumat setiap bayangan tiap kali kau tersenyum kepadaku tanpa sedikitpun keluh enggan

Percayalah..
Ini bukan sunyi
Sepi yang kutahu lebih hening dari ini
Melentik-lentik cantik mengaburkan batasan-batasan mimpi
Terus seperti itu dan selalu berakhir dengan aku tertidur dimanjakan nyaman lengkung alismu
Bukankah selama ini kita sudah terbiasa seperti itu..??

Ini tak akan pernah selesai, sayangku..
Kita hanya menari sia-sia walau memang masih diiringi irama yang sama
Langkah tersipu
Dan tatapan parau..

Kaukah itu yang tadi malam berkelebat dalam mimpiku?

Mengenakan bahasa-bahasa angin yang dengan indahnya membungkus sebagian tubuhmu yang biru

Tak ada tempat untuk kelam

Sekalipun itu terang

Kau tak lagi bersuara, Senja...

Berpendar pelan-pelan menerangi malam-malam yang berhiaskan setan-setan

Aku dan kamu telah menjadi kita...awan-awan berserakan

Inikah yang selama ini kau lukis?

Lampu-lampu kota yang mengedip-ngedip malu

Langit bumi tak kenal hati

Kaukah itu yang tadi malam berkelebat dalam mimpiku?

Atau aku meracau?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar