Kamis, 18 Agustus 2011

Yuk Belajar Goblok Dari Bob Sadino

Iseng jalan-jalan ke Gramedia, saya menemukan satu buku yang bikin penasaran, judulnya nyentrik, tapi saya yakin di dalamnya pasti ada sesuatu yang luar biasa, jelas saja, isi buku ini adalah cerita pengalaman dan kiat-kiat bisnis yang dijalankan oleh salah seorang konglomerat Indonesia, Icon Enterpreneur sukses yang selalu berpenampilan nyentrik, Bob Sadino, dan judul buku ini adalah 'Belajar Goblok Dari Bob Sadino'.


Buku ini memang belum selesai saya baca, tapi beberapa inti pokok isi buku ini sudah mulai bisa saya tangkap sejak awal membaca buku ini.

Di awal membaca buku ini, kesan awal yang muncul adalah motivasi yang luar biasa bagi mereka yang tidak mampu melanjutkan pendidikan sampai jenjang yang lebih tinggi sampai bangku kuliah, dan di sisi lain adalah pukulan bagi mereka yang mampu mengenyam pendidikan tinggi, lulus dengan titel sederet, tapi tidak bisa apa-apa selain sebatas banyak tau soal teori (tidak semua sarjana seperti itu tapi memang banyak yang demikian).

Intinya adalah Ilmu tidak hanya didapat dari bangku sekolah dan kuliah saja, tapi ada banyak ilmu terapan yang lebih berguna yang bisa didapatkan di 'jalanan'.

Buku ini diawali dengan cerita masa kecil Bob Sadino, bagaimana pergaulan beliau semasa kecil, bagaimana kehidupan remaja beliau, juga pengalaman bekerja di perusahaan besar asing yang memberi penghasilan besar kepadanya tapi akhirnya ia tinggalkan karena merasa tidak betah menjadi bawahan.

Bob Sadino keluar dari pekerjaannya, kemudian kembali ke Indonesia dengan membawa 2 mobil Mercedes mewah miliknya dari hasil kerja kerasnya selama menjadi karyawan di perusahaan asing tersebut.

1 mobil kemudian ia jual untuk kemudian dibelikan tanah di daerah Kemang, dan satunya lagi dijadikan Taksi gelap sebagai penyambung hidup beliau.

Buku ini juga menceritakan tentang keterpurukan Bob Sadino ketika mobil yang ia jadikan Taksi sebagai penopang hidupnya itu mengalami kecelakaan hingga tidak dapat tertolong lagi, maka pada saat itu hilang sudah satu-satunya sandaran ekonomi keluarganya, untuk meneruskan hidup, Bob Sadino melakukan pekerjaan apa pun meskipun sebelumnya ia tidak memiliki pengetahuan tentang bidang itu, pernah juga ia bekerja sebagai kuli bangunan.

Tapi kegagalan dan keterpurukan ini merupakan satu titik balik yang justru peristiwa-peristiwa berikutnya yang akan ia hadapi akan menjadi langkah awal kesuksesannya hingga ia bisa seperti sekarang ini.

Saat ini kita sudah akrab dengan produk peternakan ayam broiler, baik dari telur maupun dagingnya, dan ternyata semua itu adalah berkat jasa Bob Sadino, beliau lah yang mempelopori ternak ayam impor ini di Indonesia atas bantuan salah satu mantan rekan kerjanya yang merasa prihatin melihat Bobsy (panggilan Bob Sadino) terpuruk pada saat itu.

Buku Belajar Goblok Dari Bob Sadino ini juga menjabarkan metode bisnis dan manajemen 'aneh' yang dijalankan oleh Bob Sadino, bagaimana ia memimpin perusahaannya, bagaimana ia menjaga hubungan dengan anak buahnya, juga bagaimana kepercayaan yang ia berikan kepada anak buahnya.

Soal hubungan dengan bawahan, pernah salah satu anak buah Bob Sadino melakukan suatu kesalahan sehingga menyebabkan perusahaan rugi hingga $5 Juta, tapi apa yang ia lakukan? Bob tidak memecat karyawannya itu, 'Biarkan mereka bangkit, memperbaiki dan belajar dari kesalahannya sendiri' begitu kata Bob.

Berbeda dengan pengusaha lainnya, Bob Sadino tidak melibatkan anggota keluarganya pada bisnis dan perusahaan yang ia miliki, hal ini untuk mencegah perpecahan keluarga yang disebabkan oleh masalah bisnis.

Satu prinsip yang dilakoni oleh Bob Sadino adalah 'Tidak usah berencana karena sebagian besar kenyataan tidak akan berjalan sesuai rencana, tidak usah berharap karena harapan akan pupus, tidak usah punya tujuan karena hanya akan membatasi diri kita'...bagaimana menurut anda? Goblok bukan? dan sepertinya prinsip ini hanya cocok dipegang oleh Bob Sadino, tapi makna dari prinsip ini sebenarnya bisa dikatakan mantab juga.

Bagi Bob Sadino, hidup itu dijalani saja, susah senangnya dilalui saja, makin banyak menemui kesulitan, makin banyak kita bisa belajar, makin banyak kita melakukan kesalahan, makin banyak pengetahuan yang kita dapatkan.

Apa artinya rencana yang detil dan rinci kalau kita sendiri takut untuk merealisasikannya? apa gunanya harapan padahal kita tau bahwa tidak semua harapan akan terpenuhi, Bob juga tidak pernah menetapkan Tujuan, tapi walaupun demikian apa yang ia peroleh mampu melebih apa yang menjadi tujuan banyak orang, termasuk orang 'pintar'.

Pokoknya dalam buku ini terdapat banyak hal aneh dari seorang aneh yang telah membuktikan kesuksesannya, apa yang ia lakukan tidak sedikit yang keluar dari pakem yang ada, keluar dari aturan baku yang tertulis dan diajarkan di lingkungan pendidikan formal, ya, jalanan atau kehidupan nyata adalah tempat belajar yang sesungguhnya, kesalahan dan keberhasilan dalam dunia nyata tidak mungkin semua ada di teks wajib yang didapat di bangku sekolah atau kuliah.

Teori adalah informasi basi kata Bob, karena yang ada dalam teori (buku) adalah sesuatu yang sudah terjadi pada masa lalu, sedangkan kita hidup maju ke depan, kalau kita terlalu berpegang pada teori yang sudah diajarkan ke kita, itu sama saja kita makan makanan basi setiap hari, hidup butuh improvisasi.

Apa yang ada di buku ini sudah dibuktikan hasilnya oleh Bob Sadino, dan kita semua bisa menyaksikannya. Setuju atau tidak dengan apa yang ia katakan, kita bisa lihat hasil nyata yang sudah dia dapatkan, dan kita juga bisa belajar dari pengalaman si Enterpreneur sukses ini.

Jumat, 08 Juli 2011

ANGAN ANGAN ...


Pernahkah kau mau melakukan apapun untuk seseorang...??
Hingga suatu saat bibirmu bergetar menahan tangis ketika dia meminta kepadamu sesuatu yang tak mungkin bisa kau penuhi...??
Dan kau tetap mencoba...

Saat itulah semua saling merindukan
Dan saling melupakan di saat yang bersamaan

Aku tidak pernah lelah
Terjaga sepanjang malam tanpa kau sadari
Menemanimu memimpikan sekotak sunyi yang bahkan demi tuhan aku tak mengerti
Pernahkah sekali saja kau tanyakan kenapa aku tak mau pergi..??

Sekali saja...tanyakan kenapa aku seperti ini..??
Semoga malam nanti kau tak bermimpi
Sehingga kau menggodaku untuk merayumu lagi
Seperti dulu kita mengartikan pagi dan mengubur sepi
Seperti dulu kita tak butuh kata untuk bercerita dan tak butuh suara untuk tertawa

Jangan pernah takut kehilangan, sayangku...
Takutlah kita tidak punya apa-apa lagi untuk dihilangkan...

Sabtu, 02 Juli 2011

ANGKUH


Bawakan aku matahari terbenam
Seperti biasa kita mengartikan malam
Saat mereka bertanya bagaimana kita menyembunyikan luka
Sebelum aku mati rasa ditertawakan bayangan betapa indahnya kita

Bawakan aku arak-arakan awan
Dan jangan lupa ingatkan aku untuk membawamu turun bersama hujan
Sebelum kita terbangun dibisiki pahitnya hitam
Akan kurayu kelam menjadi menyenangkan

Mungkin kita harus diam sejenak dan membiarkan mimpi saling membasuh
Atau selama ini kita memang terlalu gaduh



Jangan dulu tidur, Langitku...

Kita masih punya ratusan air mata untuk dilukis sebelum logika habis terkikis
Semanis ratusan sumpah serapah yang kau tulis ketika kau menangis

Bawakan aku matahari terbenam
Dan jangan pernah pergi lagi...

Kreatifitas hati ( D . E . H )


Bisakah kau taruh gelas minumanmu sejenak
Tinggalkan kursimu
Duduklah disini

Kau pasti mengerti
Bahkan lebih dari itu
Bukan sifatku menjadi orang yang selalu ingin tahu
Terlebih kau selalu berhasil membodohiku
Menutupi cemasmu dengan sebuah senyum seindah kupu-kupu
Tapi kali ini kau kalah

Ada sesuatu yang tak ingin kau ceritakan kepadaku
Aku bisa melihatnya dari tatapanmu yang membiru bersamaan dengan kupu-kupu itu beranjak malu meninggalkan sarangnya di teduh lengkung alismu
Katakan kepadaku

Kenapa harus menunggu malam ketika petang membuatmu nyaman
Kenapa harus tertawa enggan ketika tangis membuatmu tenang
Sedikitpun mereka tak akan pernah mengerti apa yang ada di mimpiku malam tadi
Rusa-rusa pincang itu

Gaun merah di tengah padang ilalang yang kau tangisi sepanjang malam karena ia tak pernah sedikitpun berbohong
Atau kenapa pagi tak kunjung datang hanya karena kau merasa tak pantas memeluknya
Bukankah kita tak membutuhkan kata-kata ketika sunyi adalah sempurna
Apakah kau lupa sekotak luka tak ada artinya selama kita bertuhankan senja
Duduklah disini

Karena sekali lagi aku adalah semua yang tak pernah kau lewati ...

Selasa, 28 Juni 2011

ketulusan ..

Di mana ketika kejujuran sudah dianggap sebagai kebodohan. Ketulusan seolah sudah menjadi barang langka yang sulit ditemukan dalam hidup ini. Betapa mahalnya sebuah ketulusan untuk bisa diberikan dan didapatkan. Karena ketika mencoba melakukannya, seringkali dipatahkan oleh dugaan yang keliru dari ketulusan tersebut. Rasa sakit pun terkadang terberi dalam ketulusan, yang ikut menghasut menepikan nurani. Lalu haruskah mempertahankannya ketika terus dipatahkan?

Lalu kitapun terkadang memilih diam mencoba mengerti. Ketulusan layaknya membisu. Karena ketulusan tidak bersuara, ia bekerja dalam diam, tapi memberi dengan sepenuh hati. Ia bekerja tanpa pamrih, melupakan dan tanpa mengerti arti meminta. Hanya memberi tanpa berharap diberi. Ia halus dalam kasat mata, tak tertangkap indera. Karena ketika menampakkan ketulusan itu, maka akan mengurangi arti ketulusan itu sendiri. Maka ia mengendap-endap dalam sunyi, melangkah, dan memberi dalam gelap yang tidak engkau sadari.

Terkadang bagimu ia terlihat lugu. Walau terkadang ketulusan adalah sesuatu yang lugu. Tapi ia keluguan yang cerdas. Mencerdaskan hati, mencerdaskan jiwa, dan juga mencerdaskan bagi siapa yang tersentuh akan ketulusan itu. Ia lugu, karena ketulusan adalah sesuatu yang jujur, murni, tak menutupi, lurus apa adanya. Ia adalah sesuatu yang begitu halus dan lembut sehingga tidak terasakan ketika ia sedang bekerja. Hingga akhirnya...

Walau begitu, ketulusan yang sejati akan terus bekerja walau terus dipatahkan oleh dugaan-dugaan yang bisa melunturkan kesejatiannya. Karena itu justru semakin menguatkan akar ketulusan tersebut, justru semakin menghujam dalam keharuan yang tidak terkira untuk dipertahankan. Semakin dalam ketulusan tersebut, maka semakin dalam pula bagi siapa pun tak menyadari ketulusan sedang bekerja dan telah menghantarkan serta menumbuhkanmu menjadi lebih baik hingga engkau menyadari telah kehilangannya.

Dan walau ketulusan itu langka, di sini ia masih menyadari bahwa ketulusan itu masih ada. Ia adalah ketulusan yang tidak terbaca, ketulusan yang bersandar kepadaNya.


Jumat, 08 April 2011

agnostik ...



Ruang

Waktu

Air mata

Tawa

Emosi

Logika

Akal

Jiwa

Imaji

Mimpi

Sepi

Luka

Hitam

Langkah

Perih

Malam

Khayal

Angin

Senja

Rindu

Hujan

Awan merah

Tanah basah

Lampu kota

Manusia usang

Ilalang petang

Lengkung alis

Ceruk bibir

Tulang pipi

Kupu-kupu

Rapal mewangi

Payung emas

Telanjang bulan

Pasar malam

Sekotak luka yang kutinggalkan

Sudut mati yang kutuhankan



Aku ingin berdamai denganmu....

hayalan sementara ...




Ada orang yang mengatakan bahwa menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Memang terdengar sedikit sarkastik, terlebih ditambah dengan banyaknya orang yang dengan setengah memaksa meminta agar orang lain menganggapnya telah dewasa, sekalipun ia sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri atau indikasi bahwa ia telah dewasa. Salah satu ciri manusia dewasa adalah ia dapat menentukan prioritas, menyusun urutan keputusan dan tindakan yang harus diambil berdasarkan segala kemungkinan dan hukum sebab akibat yang dapat ditimbulkan olehnya. Apabila ada seorang ayah yang terpaksa tinggal di rumah menemani istrinya yang kewalahan karena anak pertamanya yang baru berusia 6 bulan mendadak sakit, padahal ia telah berjanji kepada koleganya bahwa malam itu mereka akan merampok toko serba ada yang buka 24 jam, maka kedewasannya sedang diuji. Dan jelas setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang prioritas, pandangan yang terdiri dari ribuan potongan-potongan kecil pengalaman untuk kemudian membentuk suatu spektrum semu yang tak kalah absurdnya dari pengalaman itu sendiri.Disinilah aku berjalan berdua dengan gadis itu, di jalan lengang yang lurus membosankan. Gerimis turun tipis-tipis seakan berebut mencari perhatian karena aku terlalu merisaukan angin malam yang dengan liciknya bertiup tanpa henti. Sebetulnya tak ada yang salah dengan itu, biasanya aku sangat menikmati saat-saat seperti ini, berjalan hanya berdua dengannya, malam yang gelap menceritakan semua, ditambah dengan wangi aspal basah yang menenangkan. Tak ada yang salah dengan itu, hanya saja percakapanku dengannya di bar tadi masih mengusikku. Gadis ini mempertanyakan prioritasku, apa yang sebenarnya ingin kutunjukkan kepadanya, dan apakah ini semua ada akhirnya.

"Korek."
Suara gadis itu menarik sesuatu yang dari tadi melayang-layang di atas tubuhku kembali ke tempatnya dengan sangat cepat. Aku bernafas lagi.

"Hah?"
"Kamu punya korek? Punyaku tertinggal di bar."

"Oh. Ada."

Aku mengambil korek di saku celana dan kuulurkan kepadanya. Ia mengambilnya tanpa sedikitpun menyentuh tanganku. Api menyala malu-malu dan menyinari wajahnya yang sedang berusaha untuk menyalakan rokok di tengah angin dingin ini. Asap putih mengepul tipis, bulat sesaat kemudian buyar tak peduli.
"Rokok kamu habis?"

Ia menanyakan itu kepadaku karena heran aku tak merokok. Aku sendiri pun heran, tapi entah kenapa aku benar-benar sedang tidak ingin merokok, yang kuinginkan saat ini hanyalah tetap menyembunyikan kedua tanganku dalam saku celana agar aku merasa aman, aman dari indahnya pikiran tajam gadis ini dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ditimbulkan olehnya.
"Ada kok. Tenang."
"Ok."
Ia menjawab tak acuh kemudian merentangkan kedua tangannya dan mulai bernyanyi, kepalanya menengadah ke atas, membiarkan rintik-rintik hujan membasahi wajahnya. Tetesan air mengalir turun dari lengkung alisnya, membelai manja tulang pipinya dan berakhir di ceruk bibir. Ia tetap bernyanyi.

Aku mau melakukan apapun untuk gadis ini.

"Aku tahu lagu itu."

"Tentu, ini lagu yang dinyanyikan pemain gitar di bar tadi. Ia menyanyikan lagu itu seperti ia sendiri yang mengalaminya."
Ia menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian memejamkan matanya. Menyerahkan wajahnya untuk dibasahi rintik hujan. Tak lama kemudian ia kembali membuka matanya dan menoleh kearahku. Ia mau menanyakan sesuatu, aku tahu itu.

"Kamu tahu kenapa aku suka sekali berjalan menembus hujan? Kalau kamu memang untukku kamu pasti tahu."

Aku terdiam. Banyak sekali kemungkinan jawaban, dan aku tahu apa yang dipikirkannya.

"Karena kamu bisa menangis tanpa seorang pun tahu."

Ia tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Ada satu yang ia lupakan, aku mengenalnya lebih dari hujan.

"Bukankah seharusnya aku yang menangis?"

Aku menanyakan itu sambil memperlambat langkahku, seorang laki-laki tidak seharusnya membiarkan seorang gadis berjalan di belakangnya.

"Tidak ada yang bisa membuatmu menangis, kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri di dalam kepalamu itu.

"Dunia yang kuciptakan untukmu..."

Segera setelah aku mengatakan itu ia menghentikan langkahnya. Matanya semakin berkaca-kaca. Bibirnya kembali bergetar, sekali lagi aku tahu ia akan mengatakan sesuatu yang akan menyakiti perasaanku.

"Kau tahu kenapa suatu saat nanti aku akan meninggalkanmu?"

Aku diam, tak berani menjawab. Gerimis membasuh semua endapan perasaan. Angin merayu air mataku agar turun dan berdamai dengan hujan.

"Suatu saat nanti aku akan meninggalkanmu karena satu-satunya hal yang kau pedulikan hanyalah dunia kecil persetanmu itu! Bisakah kau tunjukkan kepadaku kalau kau takut kehilangan aku seperti kau takut kehilangan mimpi-mimpimu itu?"

Aku tetap diam, gadis ini tak tahu apa yang bisa dan akan kulakukan untuk membuatnya tetap disini. Aku mau melakukan apapun untuknya, hanya saja aku tak tahu caranya.

"Jangan pernah takut kehilangan, takutlah kita tidak punya apa-apa lagi untuk dihilangkan."

Aku mengatakan itu bersamaan dengan air matanya meleleh turun dari sudut matanya, terlalu perih untuk disembunyikan hujan.

"Itulah masalahmu, kau harus tahu, bahkan mimpi membutuhkan pagi untuk menjadikannya mimpi."

Kata-kata itu keluar pelan sekali dari mulutnya, hampir tidak terdengar. Dan ia berjalan meninggalkanku sendiri di tengah gerimis yang pucat dikhianati emosi. Mataku basah, lampu-lampu itu sekarang berubah menjadi puluhan geometri enam sisi yang berkerlap-kerlip warna-warni, menyambut satu bentuk siluet gadis yang bosan akan malam dan berharap mereka bisa membantunya merayu pagi. Atau tidak sama sekali.

bersambung ....