Jumat, 14 Oktober 2011

antara logika dan aku ....

Aku menyebut diriku seorang masokis perasaan.

Lupakan tentang tata bahasa karena bagiku istilah itu telah sempurna. aku yang kini diam di hadapanmu. Aku yang menatap lama pada satu titik yang jika kutelusuri lurus mataku akan jatuh pada sebuah dunia asing yang tak kutahu. Aku yang selalu tersesat pada duniaku sendiri. Aku berada tepat di hadapanmu. Jarak kita hanya beberapa senti. Tapi aku tak pernah mengerti.

Aku terus mengingatnya, melamunkan, dan memutar-mutar di kepala. Entah untuk yang ke berapa ribu kali dan entah untuk apa. Aku curiga aku telah kecanduan masa lalu....?

Masokis perasaan, itu vonis terakhir yang kujatuhkan untuk diriku. Dan Aku tak pernah menolaknya. Aku hanya diam saat orang lain mencaciku seperti itu. Dan bukankah diam artinya setuju?

Aku yang suka sekali berenang dalam luka. Ya! Berenang...bukan tenggelam...Karena aku menikmati segala luka itu. Aku yang memelihara perasaan sakitku seperti memelihara ikan di akuarium. Terus ku beri makan hingga mereka tumbuh dan berkembang. Aku yang tidak hanya duduk di dekat sumber kesedihanmu, tapi juga saling bicara dan saling memeluk. Aku yang tak pernah berusaha keluar dari semua ini.

Aku yang menjatuhkan diriku sendiri ke jurang. Semua orang mengulurkan tangan, menurunkan tali, menyiapkan tangga. Beberapa orang menawarkan hatinya. Tapi aku tak pernah meraih itu semua. Aku lebih suka di sana. Duduk dalam kegelapan. Sendirian.

Mungkin saja kau mulai bosan dan impati. sementara Aku masih terus menikmati semua ini.
,diam dan menghampa. Aku mulai merindukan kau yang tersenyum. Kau yang ceria. Kau yang tertawa. Kau yang bebas dan menari. Kemana semua itu pergi? Sekali lagi kutatap matamu. Sembab. Pasti karena semalam kau habis-habisan memeras lagi kantung airmatamu. Wajahmu layu dan kaku. Kau seperti berada di dunia yang asing.

Tiba-tiba aku ingin sekali memmeluk tubuhmu seerat mungkin . membelai pipimu hingga merona. Dan menarikmu paksa dari keasingan yang kau pelihara. Tapi aku tak pernah bisa. Aku, yang mereka namakan Logika tak pernah bisa menyembuhkan itu . Kau yang kini di hadapanku terpisahkan oleh batas yang entah apa aku juga masih belum tau ...

antara aku ganja dan mereka ....

Salam Damai !!..
Tiba - tiba terbersit di hati saya.. sebuah wacana yang mungkin akan menjadi pendobrak jika sampai bisa jadi kenyataan.. dengan latar belakang pandangan atau vonis masyarakat umum yang selalu mengatakan bahwa pengguna Ganja ( yang menurut sebagian besar dari mereka adalah Narkotika ) sudah pasti akan bermasa depan Suram.. Nah berangkat dari latar belakang itu .. ingin rasanya Hati ini berteriak membuktikan bahwa Masa Depanku Tidak Suram !! kalau perlu aku ingin menantang manusia - manusia yang ngotot berkata demikian untuk Adu Intelegensi ( barang kali kita bisa test IQ bareng ?! ) besar harapan gw bagi para pengguna yang sudah bisa menggolongkan dirinya sendiri dalam status berkecukupan atau merasa sukses dalam Dunia yang di gelutinya ( Teori relativitas berlaku dalam hal ini )untuk berani maju kedepan dan membuat Kesaksian Nyata bahwa Ganja sama sekali tidak merusak Otak dan cara berpikir kita.. tetapi HUKUM
dan UNDANG2 nya lah yang membuat kita terpasung ( Masuk Bui ) .. Jika teman - teman setuju dengan pendapat saya.. mohon kiranya bisa mulai membuat Kesaksian atau pernyataan awal pada topic ini.. jika ada yang tidak setuju.. yah .. saya ngga Maksa kok.. Pada akhirnya niat saya hanya ingin membuktikan bahwa para pengguna Ganja juga bisa menggapai Sukses dalam dunia apapun yang digelutinya ! selama ia terus Berdoa, berusaha gigih, dan pantang menyerah ( sama saja dengan bukan pengguna kan ?? )

Kamis, 13 Oktober 2011

inilah kita 7 tahun yang lalu

tujuh tahun lalu kita pernah ditampar badai,bermandikan hujan dipuncak bukit yang katanya seram ( Gn. kasih), bekas perkampungan tua tempat pembantaian pada masa pemberontakan dulu.

tenda yang bocor mamaksa kita untuk beralih dimalam kelam. membelah gelap dengan satu senter, saling berpegangan agar tak terpisah. entah kemana kita pergi, arah itu tak tau. . .hanya berjalan...dan berjalan terus sampai letih. ditengah rimba mencekam kita berhenti pada pondok reot entah itu punya siapa dan kapan berdirinya.

kita mulai saling menghangatkan agar tak ada yang mati di antara kita dalam keadaan kedinginan dan basah kuyup...api tak bisa lagi kita nyalakan. Tak bisa tidur menjelang subuh.

ketika pagi datang, kita sadar dan melihat disamping pondok itu terhampar telaga indah..dengan pohon2 tua yang rebah pada bentang air jernihnya.

kemudian kita sadar satu tas ber isi buah Rambutan yang kita bawa, hilang sudah...entah siapa yg punya kerja...jika tercecer dijalan tak mungkin. dan kita mulai menerka-nerka tentang alam ghaib.

ah...biarkan saja..

pagi itu kita mulai memasak nasi dan menggoreng 6 keping sagu untuk mencegah kelaparan dini.

tanpa menyadari...smua makanan habis pagi itu..kita survival.!!!

dengan modal bedil dan kemampuan membuat jebakan, kita berhasil menjaring berbagai macam burung hutan, entah apa nama burung-burung itu.

tanpa perasaan aku mulai membantainya, membakar dagingnya setengah matang, tanpa bumbu apapun, dan kita mulai menyantapnya bersama..

kemudian mencari jalan pulang bersama..



ingat kah kalian tentang hal ini kawan kawan terbaikku ???



kita menang, dan masih hidup sampai saat ini.



ini lah kita 7 tahun lalu...02 maret 2004..

Kamis, 06 Oktober 2011

tentang malam


Pada malam aku bercerita...
Tentang indahnya gelap...
Semakin gelap semakin keindahan itu kurengkuh...
Merasakan nikmatnya belaianmu...
Menenangkanku pada lelap yang hampa...

Kubiarkan sunyimu menelusupi rongga jiwaku....
Kelammu terus menjilati tubuhku....
Seakan kau menyukai keringnya hatiku....
dekapanmu erat menyesakkan nafasku yang terengah-engah menikmati gelap....

Aaach.....andai saja kau tahu....
Aku telah mencintaimu....
Tapi tak mungkin selamanya aku bersamamu.....
Karena pagi telah menyongsongku tuk kembali....



Haruskah kita meninggalkan dunia yang selama ini kita geluti.

Haruskah kita meninggalkan kawan2 yang pernah ada dalam hidup kita.

Haruskah kita merubah semua hal tentang diri kita sehingga menjadi orang asing bagi diri kita sendiri.

Haruskah kita lakukan itu semua hanya sekedar tuk mempertahankan sebuah idealisme...?

teori evolusi cinta .....

Hidup sering MENJENGKELKAN

tak banyak isi kepala yg dipenuhi keinginan ini mampu terimplementasikan NYATA

tentu saja MENYAKITKAN.....sedih....hampa....



cari saja keSAKITan baru pasti kesakitan yang lama akan hilang.........

begitu seterusnya hingga kita tak mampu lagi merasakan SAKIT........

yang tersisa hanya NIKMAT.......karena SAKIT tlah berevolusi menjadi NIKMAT....

dan itu HAKIKI



kalo kita masih merasa MANUSIA yg dibekali akal, tentu tidak akan merasa puas dengan sesuatu yang sebenarnya secara akal masih mampu kita raih........dengan pendalaman yang serius anda akan menemukan sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang nampak dipermukaan dari rasa TIDAK PUAS.......



siapapun yg belum pernah minum kopi akan berkata bahwa kopi itu PAHIT dan TIDAK ENAK.......tapi ketika kita sudah terbiasa menikmatinya akan merasa KECANDUAN......



SELAMAT MENJADI MANUSIA yg ISTIMEWA....

Minggu, 02 Oktober 2011

penderitaan malam ini ...

Pernahkah kau merasa seluruh badanmu memusuhimu...
Seperti perut kananku yang memberontak dan bercampur aduk menjadi satu...
Aku ingin terburai...
Menumpahkan seluruh isi perutku hingga mengotori lantai....
Nafas yang semakin pekat...
Jangan pernah menyuruhku untuk tenang seolah semuanya akan lewat...
Muak...
Sesak...
Aku ingin terbelah...
Berdarah tanpa lelah...
Sepi...
Kosong...
Hitam...
Mati....

Tolong berhenti sebelum aku mengunyah jantungku sendiri...

sindrom ...

Mereka menertawakan kita

Karena kita mencoba membangun sekeping surga
Kemudian meletakkannya di dada dan mengirisnya dengan buaian cerita...

Jangan menggodaku sayang...
Kau tahu aku tak perduli ini cerita apa
Entah itu tawa tak berirama atau hanya air mata tak bermakna...

Kau lihat itu...?
Mereka menjauhi kita
Karena kita seakan menjadi buta
Berulang kali terjatuh mencari arah dan saling membasuh luka...

Kau ingat itu...?
Dulu kau tersenyum walau hanya kuberi pagi
Dan tersenyum lagi saat kutemani mengartikan mimpi
Kau selalu tersenyum walau hanya kuberi janji
Dan tersenyum lagi saat kutemani meraih tinggi

Tak apa sayangku...
Pergilah kalau memang dia bisa memberimu seluruh hari
Memberikanmu sesuatu yang aku bahkan tak berani berjanji

Biarkan aku disini sendiri...
Menjaga sekeping surga yang dulu pernah kita lewati...