Selasa, 29 Mei 2012
think of you ....
lama aku tak menulis..
menuai rasa menjadi kata, kalimat dan bait.
(mungkin saja puisi atau sajak, atau apalah).
jariku malu, bahasaku kaku, bibirku bergetar, tentu saja hati "berang"..!!!
aku tau kau sepi dalam tatanan halaman duka yang masih berkecimpung.
kau sepi, kau tak sendiri.
Senin, 09 April 2012
apa kabarmu >>> ???
Siang itu aku memasuki ruang hampa…yang kau tinggalkan,
kujumpai seulas senyummu di sudut ruang,
dan tatap sendumu di balik pintu,
Aku hanya bisa menghela napas …
ini adalah ketulusan yang tumbuh bersama deretan hari bersama masa ...
apa kabarmu ?
saat mentari memulai masa nya apakah kau telah terbangun?
untuk sgera menyucikan dirimu menghadap kepada Nya.
apa kabarmu disana ?
adakah yang menyiapkan sepinring santapan pagi untuk bekalmu mengarungi hari?
Apa kabarmu disana?
masihkah kau berdiri di tepian hari menungguku dengan pelukak hangatmu.
Apa kabarmu disana ?
masihkah kerasnya dunia mengiris lembut hatimu?
membuka kasih yang selalu terpancar dari tingkahmu. pada mereka yang terkurung nasib.
Adakah kali ini kau siap menghadapi meeka yang kau tentang selama ini?
atau kau tak lagi menjadi oposisi dari mereka.
Aku tau kau gusar dan malu,
kala kusanggah ucapan-ucapanmu itu….
Kau tau aku merindukanmu,
seperti tanah gersang merindukan rintik hujan,
seperti hujan merindukan sinar mentari…
ketika musim berganti, mentari tak setia menemani, dan rintik hujan selalu datang
tiba tiba mengguruh bumi.
kau selalu kalah oleh cuaca.
pada saat kemarau kumerinduimu…diantara derai hujanpun aku tetap merindukanmu…
pada pagiku tanpamu….pada siang tanpa genggam eratmu….
pada malam tanpa celoteh dan tatap dalammu….
mengapa tak memebri kabar padaku yang masih sendiri menunggumu?
mengapa tak kau titipkan rindu pada embun yang jatuh cinta pada matahari?
masihkah kau ceritakan pada mereka tentang kita?
masihkah labirin hatimu menyematkan kisah kemarin?
apa kabarmu disana?
kujumpai seulas senyummu di sudut ruang,
dan tatap sendumu di balik pintu,
Aku hanya bisa menghela napas …
ini adalah ketulusan yang tumbuh bersama deretan hari bersama masa ...
apa kabarmu ?
saat mentari memulai masa nya apakah kau telah terbangun?
untuk sgera menyucikan dirimu menghadap kepada Nya.
apa kabarmu disana ?
adakah yang menyiapkan sepinring santapan pagi untuk bekalmu mengarungi hari?
Apa kabarmu disana?
masihkah kau berdiri di tepian hari menungguku dengan pelukak hangatmu.
Apa kabarmu disana ?
masihkah kerasnya dunia mengiris lembut hatimu?
membuka kasih yang selalu terpancar dari tingkahmu. pada mereka yang terkurung nasib.
Adakah kali ini kau siap menghadapi meeka yang kau tentang selama ini?
atau kau tak lagi menjadi oposisi dari mereka.
Aku tau kau gusar dan malu,
kala kusanggah ucapan-ucapanmu itu….
Kau tau aku merindukanmu,
seperti tanah gersang merindukan rintik hujan,
seperti hujan merindukan sinar mentari…
ketika musim berganti, mentari tak setia menemani, dan rintik hujan selalu datang
tiba tiba mengguruh bumi.
kau selalu kalah oleh cuaca.
pada saat kemarau kumerinduimu…diantara derai hujanpun aku tetap merindukanmu…
pada pagiku tanpamu….pada siang tanpa genggam eratmu….
pada malam tanpa celoteh dan tatap dalammu….
mengapa tak memebri kabar padaku yang masih sendiri menunggumu?
mengapa tak kau titipkan rindu pada embun yang jatuh cinta pada matahari?
masihkah kau ceritakan pada mereka tentang kita?
masihkah labirin hatimu menyematkan kisah kemarin?
apa kabarmu disana?
Selasa, 20 Maret 2012
sosok dirimu
Tak pernah bisa selalu ku ingat kapan hari ulang tahunmu
,,, karena yang harus dan selalu bisa 'ku ingat adalah kali pertama 'ku bertemu denganmu
Tak pernah bisa 'ku ingat berapa genap usiamu sekarang
,,, karena yang 'ku ingat adalah berapa genap kenangan dan kebaikan yang telah terungkap ketika bersamamu
Tak pernah 'ku ingat kapan terakhir kita bermuram
,,, karena yang 'ku ingat adalah betapa seringnya kau tersenyum
jadilah wanita yang penuh dengan tutur kata halus dan laku sarat makna
jadilah wanita yang hidup dengan sinar kesederhanaan yang menyejukkan
jadilah wanita yang tak pernah takut dengan segala aral melintang
jadilah wanita yang memiliki segudang manfaat
Jangan biarkan dirimu menjadi objek kosong
Jangan biarkan air matamu jatuh untuk hal yang tak berguna
Jangan biarkan orang tuamu menangis karena kebodohan dan kebohongan yang kau buat
Tak perlu kau hiraukan hari esok jika itu sebagai penghalang masa depanmu, yang belum tentu jadi milikmu....
ingat lah kita masih punya masa lalu yang bisa kita dendangkan di hari kelak ...
Selamat berjuang,,,,,
Walau tak selamanya sempat teriringi dengan raga
,,, bahkan mungkin nanti tak sempat utk bertemu
Walau tak mampu tersokong dengan upayaku yang minim,,,
,,,, selamat menikmati kesempatan hidup yang masih diberi ^__^
,,, karena yang harus dan selalu bisa 'ku ingat adalah kali pertama 'ku bertemu denganmu
Tak pernah bisa 'ku ingat berapa genap usiamu sekarang
,,, karena yang 'ku ingat adalah berapa genap kenangan dan kebaikan yang telah terungkap ketika bersamamu
Tak pernah 'ku ingat kapan terakhir kita bermuram
,,, karena yang 'ku ingat adalah betapa seringnya kau tersenyum
jadilah wanita yang penuh dengan tutur kata halus dan laku sarat makna
jadilah wanita yang hidup dengan sinar kesederhanaan yang menyejukkan
jadilah wanita yang tak pernah takut dengan segala aral melintang
jadilah wanita yang memiliki segudang manfaat
Jangan biarkan dirimu menjadi objek kosong
Jangan biarkan air matamu jatuh untuk hal yang tak berguna
Jangan biarkan orang tuamu menangis karena kebodohan dan kebohongan yang kau buat
Tak perlu kau hiraukan hari esok jika itu sebagai penghalang masa depanmu, yang belum tentu jadi milikmu....
ingat lah kita masih punya masa lalu yang bisa kita dendangkan di hari kelak ...
Selamat berjuang,,,,,
Walau tak selamanya sempat teriringi dengan raga
,,, bahkan mungkin nanti tak sempat utk bertemu
Walau tak mampu tersokong dengan upayaku yang minim,,,
,,,, selamat menikmati kesempatan hidup yang masih diberi ^__^
Selasa, 27 Desember 2011
hiding my heart .....(stay)
Ceritakan malamku padanya..
Kepada mata yang tiada pernah kutatap,mata yang selalu kurindu ...
Hanya suara yang bisa kukenang, hanya itu...
Aku tau ia bertahtakan mawar putih dan mungkin itu berduri,berbeda denganku...
Hanya setangkai edelweis yang tumbuh liar diantara puncak-puncak gunung yang beku, dan menunggu pertengahan musim untuk bermekaran, agar menjadi penghias segala yang tinggi,yang tumbuh ditanah, kemudian dipetik,untuk menjadi kenang-kenangan....
Aku pernah bicara dengannya, berbicara tentang bintang tanah, bintang yang tentu saja bisa untuk digapai, cerita tentang yang mungkin, bukan berbicara tentang bintang-bintang yang tergantung dilangit bersandingkan bulan..ia terlalu takut untuk itu...
Dan....ketika itu aku selalu saja untuk menjadi bara agar semuanya tetap berjalan, tidak berapi dan tidak mati. namun, pada saat ini butiran embun yang menjadi mutiara fajar telah meluluhlantahkan bara untuk tetap ada.
Dan...aku berharap untuk bara padam selamanya, pada kenyataannya tidak!!
Biarkan aku dendangkan semua ini dalam hati kecil yang terkunci agar tak banyak yang tau yang aku dendangkan.
Mentari, mentari dan mentari.....
Lekas jemput sang malam ini....semuanya akan bermuara pada pagi buta walau sering malam menjadi semakin panjang...
bagaimana aku bisa berpisah jika perjumpaan saja belum usai ...
Sungguh sangat pelik cerita ini bagi jiwa-jiwa yang murni dalam berkasih, semoga kalian tidak termasuk kedalamnya.
Percaya atau tidak....aku telah dipeluk kedalamnya, kedalam satu bentuk untaian mesra yang penuh makna dan tak berwujud.
Dendangkan ini kepadanya dan di saat dia mendengar, itu pun cukup!!!
Karena ia tau aku selalu ada untuk nya meski dalam rentang hembusan angin yang panjang dan dalam ketidak sempurnaan aku.
Kepada mata yang tiada pernah kutatap,mata yang selalu kurindu ...
Hanya suara yang bisa kukenang, hanya itu...
Aku tau ia bertahtakan mawar putih dan mungkin itu berduri,berbeda denganku...
Hanya setangkai edelweis yang tumbuh liar diantara puncak-puncak gunung yang beku, dan menunggu pertengahan musim untuk bermekaran, agar menjadi penghias segala yang tinggi,yang tumbuh ditanah, kemudian dipetik,untuk menjadi kenang-kenangan....
Aku pernah bicara dengannya, berbicara tentang bintang tanah, bintang yang tentu saja bisa untuk digapai, cerita tentang yang mungkin, bukan berbicara tentang bintang-bintang yang tergantung dilangit bersandingkan bulan..ia terlalu takut untuk itu...
Dan....ketika itu aku selalu saja untuk menjadi bara agar semuanya tetap berjalan, tidak berapi dan tidak mati. namun, pada saat ini butiran embun yang menjadi mutiara fajar telah meluluhlantahkan bara untuk tetap ada.
Dan...aku berharap untuk bara padam selamanya, pada kenyataannya tidak!!
Biarkan aku dendangkan semua ini dalam hati kecil yang terkunci agar tak banyak yang tau yang aku dendangkan.
Mentari, mentari dan mentari.....
Lekas jemput sang malam ini....semuanya akan bermuara pada pagi buta walau sering malam menjadi semakin panjang...
bagaimana aku bisa berpisah jika perjumpaan saja belum usai ...
Sungguh sangat pelik cerita ini bagi jiwa-jiwa yang murni dalam berkasih, semoga kalian tidak termasuk kedalamnya.
Percaya atau tidak....aku telah dipeluk kedalamnya, kedalam satu bentuk untaian mesra yang penuh makna dan tak berwujud.
Dendangkan ini kepadanya dan di saat dia mendengar, itu pun cukup!!!
Karena ia tau aku selalu ada untuk nya meski dalam rentang hembusan angin yang panjang dan dalam ketidak sempurnaan aku.
Senin, 26 Desember 2011
intuisi tentang dirimu .....
Kadang-kadang yang namanya cinta datangnya mirip hujan bulan desember. Sesuka hati. Dan aku yakin cinta bukan anak sekolahan. Karena dia tidak cukup sopan, merasa tidak perlu bilang permisi.Seperti kamu.
ya, seperti kamu.
Ruangan putih ini memang istimewa. Bunga-bunga di ujung pintu melengkung anggun. Lavender di antara lily, cerdik. Ungu yang memikat di antara warna putih yang sendu. Memberiku satu dua hal untuk mengisi waktu. Aku duduk menyesap minuman merah sambil tersenyum sekali dua kali kepada orang yang kebetulan aku kenal. Tak banyak, seperti kamu.
ya, seperti kamu. selalu ada di tengah ruangan bercakap dengan dua-tiga orang. walau aku tahu kamu tak melupakan aku. Nah, sekarang kamu tersenyum padaku, mengedipkan sebelah mata. Aku membaca sekilas permintaan maaf karena lagi-lagi meninggalkanku duduk di sudut. Seperti biasanya.
Aku senang duduk menunggumu. Aku menikmati setiap gerakmu, lenggang kakimu seperti seekor kucing pemalas yang hafal peta wilayah, hidungmu yang berkerut saat kamu tertawa, dan matamu yang menyipit tulus saat kamu tersenyum. Aku menikmati caramu bercakap-cakap, suaramu rendah dan cerdas. Kamu selalu punya segudang cerita, selalu punya sederet kawan, wajah-wajah asing yang belum pernah kukenal. yang selalu kamu jabat dengan wajah penuh kehangatan, seperti menemukan kawan lama yang dua dekade lamanya tak terdengar berita. Disanalah kamu berada, di tengah pesta, dengan tangan yang tak pernah kosong mengabsen satu persatu wajah yang lalu lalang. Dan disinilah aku berada, di sisi ruangan, takluk total pada karismamu yang memancar.
Kadang-kadang cinta memang datang bersama badai, tidak merasa perlu mengetuk pintu. Digoyangnya seisi rumah untuk menerjang masuk. Seperti kamu.
Ya, seperti kamu.
Kalau dipikir-pikir sejak kita berkenalan kamu memang seperti badai. Tiba-tiba kamu muncul menyodorkan tangan dengan wajah berseri-seri seperti anak kelas dua esde, lengkap dengan cengiran yang memamerkan gigi depanmu yang seperti hamtaro. Kamu seperti paket hari raya yang membuat aku berusaha sekuat tenaga tidak tertawa. Hari itu. Dan hari-hari kita selanjutnya.
Kamu yang suka bahasa kaum Hitler, bersama-sama kita menonton Schindler's List versi jerman. Full. Tentu dengan subtitle inggris untuk membantuku, si muggle duniamu. Sebagai gantinya kamu rela menonton Ju On maraton selama 4 jam menemani aku yang hobi film horor tapi alergi darah. Satu hari kamu mengetukku berbagi indomie kiriman dari indonesia, meredakan homesick aneh di malam yang ababil. Kamu yang selalu memutar musik-musik lembut, aku selalu ingat kamarmu yang rapi dan 'berbau coldplay' begitu kontras dengan dentuman linkin park yang mengisi pagiku. I'll have to say I love you in a song. Satu-satunya titik temu yang menjadi alasan mengapa kita selalu memutarnya di saat-saat kita bersama.
Tentang kenapa aku baru sadar bahwa kamu memang istimewa padahal kita sudah bertahun-tahun saling mengenal... jangan tanya lagi. Rasanya di leherku ada segumpal daging tumbuh yang membuat minuman ini jadi asin. Loh, kok jadi asin?Seingatku tadi ini es buah. Kuaduk-aduk gelasku mencari penjelasan.
Sebuah jari tiba-tiba mengetuk-ngetuk mejaku.
Kamu. akhirnya giliranku tiba.
Senyum lebarmu mengembang melihat aku tersenyum.
'Terimakasih sudah datang ya'
apa sih yang ngga buat kamu
'Aku ngga nyangka kamu mau dateng'
karena percakapan terakhir kita yang membuat kamu mundur teratur?
'Doakan aku ya', kamu tersenyum singkat, melambaikan tangan dan bergegas pergi menuju ke depan ruangan.
Aku memandang punggungnya menjauh tanpa bisa berkata apa apa. kamu tersenyum. dengan kehangatan yang dulu pernah kukenal.
tapi bukan untukku.
Lalu aku melihat dia.
Dia berjalan anggun dengan gaun putihnya, duduk di sebelahmu.
Kalian bertukar pandang. Pandangan yang membuat aku tertegun. Sumpah mati dulu kamu pernah memandangku dengan cara yang sama. Tapi tanda apalagi yang aku cari saat aku tahu kita sudah terikat pilihan ?
Tanda apalagi yang aku cari di hari bahagiamu ini?
Kadang-kadang cinta memang seperti sungai, semakin dalam semakin tenang. Kadang aku berharap ia beriak saja agar aku tahu. Agar aku yang tak mengerti bahasa halusmu mengerti apa yang sedang terjadi. Ketenangan yang menipu ini rasanya menyesakkan. gumpalan di tenggorokanku semakin mencekik dan minuman di dalam gelas ini semakin terasa asin..
27 desember 2011
Disaat hujan turun, kedinginan, dan masuk angin berkepanjangan
ya, seperti kamu.
Ruangan putih ini memang istimewa. Bunga-bunga di ujung pintu melengkung anggun. Lavender di antara lily, cerdik. Ungu yang memikat di antara warna putih yang sendu. Memberiku satu dua hal untuk mengisi waktu. Aku duduk menyesap minuman merah sambil tersenyum sekali dua kali kepada orang yang kebetulan aku kenal. Tak banyak, seperti kamu.
ya, seperti kamu. selalu ada di tengah ruangan bercakap dengan dua-tiga orang. walau aku tahu kamu tak melupakan aku. Nah, sekarang kamu tersenyum padaku, mengedipkan sebelah mata. Aku membaca sekilas permintaan maaf karena lagi-lagi meninggalkanku duduk di sudut. Seperti biasanya.
Aku senang duduk menunggumu. Aku menikmati setiap gerakmu, lenggang kakimu seperti seekor kucing pemalas yang hafal peta wilayah, hidungmu yang berkerut saat kamu tertawa, dan matamu yang menyipit tulus saat kamu tersenyum. Aku menikmati caramu bercakap-cakap, suaramu rendah dan cerdas. Kamu selalu punya segudang cerita, selalu punya sederet kawan, wajah-wajah asing yang belum pernah kukenal. yang selalu kamu jabat dengan wajah penuh kehangatan, seperti menemukan kawan lama yang dua dekade lamanya tak terdengar berita. Disanalah kamu berada, di tengah pesta, dengan tangan yang tak pernah kosong mengabsen satu persatu wajah yang lalu lalang. Dan disinilah aku berada, di sisi ruangan, takluk total pada karismamu yang memancar.
Kadang-kadang cinta memang datang bersama badai, tidak merasa perlu mengetuk pintu. Digoyangnya seisi rumah untuk menerjang masuk. Seperti kamu.
Ya, seperti kamu.
Kalau dipikir-pikir sejak kita berkenalan kamu memang seperti badai. Tiba-tiba kamu muncul menyodorkan tangan dengan wajah berseri-seri seperti anak kelas dua esde, lengkap dengan cengiran yang memamerkan gigi depanmu yang seperti hamtaro. Kamu seperti paket hari raya yang membuat aku berusaha sekuat tenaga tidak tertawa. Hari itu. Dan hari-hari kita selanjutnya.
Kamu yang suka bahasa kaum Hitler, bersama-sama kita menonton Schindler's List versi jerman. Full. Tentu dengan subtitle inggris untuk membantuku, si muggle duniamu. Sebagai gantinya kamu rela menonton Ju On maraton selama 4 jam menemani aku yang hobi film horor tapi alergi darah. Satu hari kamu mengetukku berbagi indomie kiriman dari indonesia, meredakan homesick aneh di malam yang ababil. Kamu yang selalu memutar musik-musik lembut, aku selalu ingat kamarmu yang rapi dan 'berbau coldplay' begitu kontras dengan dentuman linkin park yang mengisi pagiku. I'll have to say I love you in a song. Satu-satunya titik temu yang menjadi alasan mengapa kita selalu memutarnya di saat-saat kita bersama.
Tentang kenapa aku baru sadar bahwa kamu memang istimewa padahal kita sudah bertahun-tahun saling mengenal... jangan tanya lagi. Rasanya di leherku ada segumpal daging tumbuh yang membuat minuman ini jadi asin. Loh, kok jadi asin?Seingatku tadi ini es buah. Kuaduk-aduk gelasku mencari penjelasan.
Sebuah jari tiba-tiba mengetuk-ngetuk mejaku.
Kamu. akhirnya giliranku tiba.
Senyum lebarmu mengembang melihat aku tersenyum.
'Terimakasih sudah datang ya'
apa sih yang ngga buat kamu
'Aku ngga nyangka kamu mau dateng'
karena percakapan terakhir kita yang membuat kamu mundur teratur?
'Doakan aku ya', kamu tersenyum singkat, melambaikan tangan dan bergegas pergi menuju ke depan ruangan.
Aku memandang punggungnya menjauh tanpa bisa berkata apa apa. kamu tersenyum. dengan kehangatan yang dulu pernah kukenal.
tapi bukan untukku.
Lalu aku melihat dia.
Dia berjalan anggun dengan gaun putihnya, duduk di sebelahmu.
Kalian bertukar pandang. Pandangan yang membuat aku tertegun. Sumpah mati dulu kamu pernah memandangku dengan cara yang sama. Tapi tanda apalagi yang aku cari saat aku tahu kita sudah terikat pilihan ?
Tanda apalagi yang aku cari di hari bahagiamu ini?
Kadang-kadang cinta memang seperti sungai, semakin dalam semakin tenang. Kadang aku berharap ia beriak saja agar aku tahu. Agar aku yang tak mengerti bahasa halusmu mengerti apa yang sedang terjadi. Ketenangan yang menipu ini rasanya menyesakkan. gumpalan di tenggorokanku semakin mencekik dan minuman di dalam gelas ini semakin terasa asin..
27 desember 2011
Disaat hujan turun, kedinginan, dan masuk angin berkepanjangan
Jumat, 02 Desember 2011
sudah terlalu lama
Tak ku sangka kau hadir kembali dalam mimpiku.
Setelah bertahun2 lamanya aku melupakanmu.
.
Kau hadir dengan postur tubuh yg sedikit berubah.
Tetap dengan kulit putihmu.
Kau tak banyak bicara apalagi tertawa.
Senyum yang seadanya kau lempar padaku.
.
Tatapan matamu kosong seolah tak ada yang pantas untuk kau pandangi.
Kau terlihat begitu menderita sehingga memunculkan kembali rasa ibaku.
.
Ah...selalunya aku begitu kepadamu. Tak mampu aku melihat wajah kuyu melayu.
.
Padahal aku harusnya mengasihani diriku.
Setelah bertahun2 lamanya aku melupakanmu.
.
Kau hadir dengan postur tubuh yg sedikit berubah.
Tetap dengan kulit putihmu.
Kau tak banyak bicara apalagi tertawa.
Senyum yang seadanya kau lempar padaku.
.
Tatapan matamu kosong seolah tak ada yang pantas untuk kau pandangi.
Kau terlihat begitu menderita sehingga memunculkan kembali rasa ibaku.
.
Ah...selalunya aku begitu kepadamu. Tak mampu aku melihat wajah kuyu melayu.
.
Padahal aku harusnya mengasihani diriku.
Selasa, 08 November 2011
sama kah mimpi kita .....
Apa yang kau mimpikan semalam?
Samakah denganku?
Aku memimpikan seorang gadis yang sedang duduk menghadap kaca
Matanya sembab disesaki ulat tak bernyawa
Rambutnya panjang tergerai memenuhi ruangan berlantai kayu yang tidak berhenti berderak ketika aku masuk ingin merayu
Wajahnya dipenuhi huruf-huruf untuk kemudian menceritakan semua yang ingin kutahu
Ketika aku kehilangan akal sehatku satu persatu
Ketika darahmu memenuhi kelopak mataku
Benarkah kau juga memimpikan itu?
Termasuk gaun hitam membungkus tubuhnya yang biru?

Tadinya aku ingin pergi
Tepat ketika gadis itu menatapku dan menjerit dengan cantiknya
Tepat ketika gadis itu menjahit tangannya sendiri dengan racauan yang mengiris telinga
Bulu matanya meleleh
Menetes perlahan di rahimnya untuk kemudian meninggalkan seonggok luka yang takkan kulupa hangusnya
Kau ingat ini?
Rapal melati yang mati mewangi?
Wangi yang sama ketika kau menari merayakan logika
Ketika kau mencumbui malam hanya untuk membuatnya tetap terjaga
Apa maksudmu?
Kau yakin itu bukan mimpi?
Samakah denganku?
Aku memimpikan seorang gadis yang sedang duduk menghadap kaca
Matanya sembab disesaki ulat tak bernyawa
Rambutnya panjang tergerai memenuhi ruangan berlantai kayu yang tidak berhenti berderak ketika aku masuk ingin merayu
Wajahnya dipenuhi huruf-huruf untuk kemudian menceritakan semua yang ingin kutahu
Ketika aku kehilangan akal sehatku satu persatu
Ketika darahmu memenuhi kelopak mataku
Benarkah kau juga memimpikan itu?
Termasuk gaun hitam membungkus tubuhnya yang biru?

Tadinya aku ingin pergi
Tepat ketika gadis itu menatapku dan menjerit dengan cantiknya
Tepat ketika gadis itu menjahit tangannya sendiri dengan racauan yang mengiris telinga
Bulu matanya meleleh
Menetes perlahan di rahimnya untuk kemudian meninggalkan seonggok luka yang takkan kulupa hangusnya
Kau ingat ini?
Rapal melati yang mati mewangi?
Wangi yang sama ketika kau menari merayakan logika
Ketika kau mencumbui malam hanya untuk membuatnya tetap terjaga
Apa maksudmu?
Kau yakin itu bukan mimpi?
Langganan:
Komentar (Atom)