Rabu, 08 Agustus 2012

SESAK TERHITUNG

Menatap lengang jalanan yang tak berdengung Membentang panjang begitu jauh tanpa lengkung Perlahan menyeret langkah dengan wajah murung Setengah fikir pun terhanyut maya, terus termenung Telah biasa tak berteman di remang tak berujung Hanya dengan rajutan mega hitam aku berpayung Mata tak mampu merekam mentari diantara mendung Bahagia tak lebih dari puing yang tak bisa di pulung Hampir kalah oleh sakit yang buat raga mematung Berhenti pada kegagalan menopang pijakan terhuyung Lalu, di sela kepayahan, Kau hadir kuatkan relung Menjadikan gurat di pipi kembali berhias lesung Lama sudah dalam kesepian dunia aku terpasung Terasing dari gelak tawa, pedih yang terus meraung Lirih dawai-Mu membisik damai di tiap denyut jantung Akhirnya pada pusaran kematian, seluruh duka ku larung Mulai ku pahami indah liku jalan-Mu tuk buat ku lebih ulung Menjejaki kehidupan dengan lajur keteguhan tiada terbendung Jika satu cinta dari sesama hamba di ambil dan kisahnya di gulung Jadi pengingat, rasa hati pada makhluk harusnya tak menggunung Pelan mengiring diri ini kembali pada kasih yang Maha Agung Percaya lagi bahwa wujud Cinta-Mu lah berlebih tak terhitung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar