Senin, 19 September 2011

tentang mu ....


Kau pernah menjadi seberkas cahaya
Yang memberiku pelangi dan melukisnya dengan warna yang sempurna
Menerangi seluruh duniaku tanpa ku minta
Dan tetap menjadi cahaya walau tak pernah ku sapa

Kau pernah menjadi indahnya nada
Yang aku nyanyikan saat ku tak ingin kau tahu apa yang ku rasa
Menyembunyikan air mataku yang tak pernah bersuara
Dan tetap menjadi nada walau tak pernah ku jaga

Aku adalah sekotak luka sayangku...
Begitu indah sehingga aku tak mau beranjak pergi
Begitu sakit sehingga aku mendambakan pagi

Maukah kau membawaku pergi dari sini...??
Aku terlalu lelah untuk semua ini
Dan maukah kau membawaku ke tempat tuhanmu yg dulu selalu kau kunjungi...?
Karena aku suka melihatmu bersujud di sajadah yg dulu selalu kau tangisi

Aku adalah air mata sayangku...
Yang selalu terlihat begitu indah saat menetes di pipimu
Melebihi semua cahaya dan nada yang pernah kuberikan padamu.

Aku adalah sepotong kaca murah yg pecah terbelah ke segala arah
Perih merintih
Pedih memutih

Aku adalah terang pasar malam yang melawan matahari siang
Menyala sia-sia
Gaduh tak bersuara

Bukan aku tak mau menjadi hiasan dinding ungu pucatmu itu
Atau menjadi kumpulan warna yang bisa menyinarimu sepanjang waktu

Karena pecahan-pecahan kecil ini kau tahu aku ada
Walau aku tahu itu membuatmu terluka

Karena cahaya redup ini kau tahu aku selalu terjaga
Seandainya tengah malam nanti kau terbangun dan memintaku untuk menceritakan sebuah cerita

Aku adalah apa yang kau sebut air mata pagi
Kecil tak berarti
Dan kemudian menghilang ditelan hari

Aku adalah semua yang tak pernah kau lewati
Dan aku tak mau beranjak pergi....

Rabu, 14 September 2011

sepiku yang indah ...

Ketika itu malam hari
Dengan segala keindahan sepi yang kau tahu dengan pasti aku menyukainya
Tidak...lebih dari itu...aku selalu memujanya...
Entah itu pertunjukan mimpi orang-orang yang mati suri di sekeliling kita
Atau sekalipun itu sudah jelas bau busuk yang merambat pelan hampir diam keluar dari trotoar yang seingatku tak pernah peduli
Lalu kau mau apa...??

Perhatikanlah seisi semesta ini merayakan malam dengan hitam
Ini memang seperti perayaan
Keheningan yang sungguh terlalu gaduh
Dan seperti biasa aku hanya bisa tertawa melihatmu berusaha menghiburku dengan sarang merak itu
Tetaplah hitam

Kau lihat orang yang sedang memuji cermin di jalan membosankan itu sebelum kita sampai disini...??
Yang berjalan meraba gelap karena darah kita memenuhi kelopak matanya
Antarkan aku ke penciptamu
Karena aku belum pernah melihatmu seindah ini
Bahkan mimpi kita pun tak pernah seindah ini

Dan memang benar ketika kelam mulai menggeliat nanti aku akan menikam tubuhmu
Begitu dalam sehingga dari lubang-lubang luka itu mengalirlah air mata yang selama ini kau sembunyikan dariku dengan tulusnya
Membelai segala macam endapan-endapan emosi yang tertinggal di balik rapuhnya hati
Seperti yang dulu selalu kita lewati
Ditemani lampu minyak yang sesekali tersenyum dirayu angin sunyi

Tetaplah begini
Tetaplah menjadi tak lebih dari mimpi
Seindah apapun itu

Setelah aku selesai menunggu senja ini tenggelam sekarat merah pucat dengan caranya sendiri
Sapalah aku di tengah malam sepi
Miliki semua waktu yang kita butuhkan untuk mengatakan betapa indahnya ini sebelum pagi mengusirmu pergi

Dan jangan khawatir
Aku akan kembali menunggu senja itu tenggelam lagi ...

Selasa, 13 September 2011

meracau dalam diam


Diam..
Dan perhatikan bagaimana kita perlahan tenggelam
Dengan segala buih pembenaran yang tak pernah berhenti mengisi keringnya retorika
Dengan segala luka yang entah darimana datangnya
Bagaimana aku bisa melewatkanmu ketika kau selalu mengingatkanku akan candu..??
Melumat setiap bayangan tiap kali kau tersenyum kepadaku tanpa sedikitpun keluh enggan

Percayalah..
Ini bukan sunyi
Sepi yang kutahu lebih hening dari ini
Melentik-lentik cantik mengaburkan batasan-batasan mimpi
Terus seperti itu dan selalu berakhir dengan aku tertidur dimanjakan nyaman lengkung alismu
Bukankah selama ini kita sudah terbiasa seperti itu..??

Ini tak akan pernah selesai, sayangku..
Kita hanya menari sia-sia walau memang masih diiringi irama yang sama
Langkah tersipu
Dan tatapan parau..

Kaukah itu yang tadi malam berkelebat dalam mimpiku?

Mengenakan bahasa-bahasa angin yang dengan indahnya membungkus sebagian tubuhmu yang biru

Tak ada tempat untuk kelam

Sekalipun itu terang

Kau tak lagi bersuara, Senja...

Berpendar pelan-pelan menerangi malam-malam yang berhiaskan setan-setan

Aku dan kamu telah menjadi kita...awan-awan berserakan

Inikah yang selama ini kau lukis?

Lampu-lampu kota yang mengedip-ngedip malu

Langit bumi tak kenal hati

Kaukah itu yang tadi malam berkelebat dalam mimpiku?

Atau aku meracau?

Senin, 12 September 2011

gak tau mau dikasih judul apa (aku dan D)

barusan "tepatnya pukul 00.40 wita" aku berhayal sedang berbincang bersama seseorang di masa lalu ku, tapi hayalan itu seolah olah nyata dan pernah ku alami ,sampai pada akhirnya perbincangan itu bisa aku tuangkan didalam blog ini.

D datang dengan secangkir kopi panas di tangan, lalu duduk di hadapanku sembari berucap “Mari kita berbincang tentang kebahagiaan,” .

Aku terkejut, merasa tidak siap. “Mengapa kebahagiaan?” tanyaku sambil menerima secangkir kopi yang disodorkannya D kepadaku.

“Entahlah,” D mengangkat bahu. “Hanya saja, belakangan ini kamu nampak tidak bahagia…”

Aku menyesap kopiku pelan-pelan, pikiranku tertuju pada sebuah percakapan yang berlangsung bertahun-tahun yang lalu:

Mengapa kamu pikir aku dapat membuatmu bahagia?

Entahlah. Jujur, aku tidak tahu apakah kamu dapat membuatku bahagia…

Jadi?

Mungkin memang bukan kebahagiaan yang aku cari.

“Jadi, apakah kini kamu mencari kebahagiaan?” tanya D kepadaku.

“Ya,” aku mengangguk. “Tapi… mengapa dulu aku tidak ingin mencarinya? Mengapa dulu aku menganggap kebahagiaan itu tidak terlalu penting, sehingga aku tak perlu mengejarnya?”

“Karena dulu kamu memilikinya,” D menjawab. “Jika kamu sudah memiliki kebahagiaan itu di dalam dirimu, kamu tak perlu lagi susah-susah mencarinya. Justru karena kamu sadar bahwa kamu sudah kehilangan kebahagiaan itu, maka kini kamu mencarinya. Ingat, kamu sendiri yang pernah berkata: ‘kita tidak akan tahu betapa berartinya sesuatu itu, hingga sesuatu itu direnggutkan dari kehidupan kita’. Sesuatu itu bisa berupa kebahagiaan, kan?”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Kutatap dia tepat di matanya.

D tidak menjawab, tetapi memutar sebuah lagu dari iTunes-ku.

“Ini saatnya bagimu untuk memilih. Untuk kembali berbahagia.”

Aku menghela napas panjang. Aku tahu bahwa hidup penuh dengan pilihan-pilihan, namun tetap saja, aku selalu kesulitan ketika dihadapkan padanya.

“Aku ingin mengingatkanmu pada sesuatu,” ujar D padaku.

“Apa?” tanyaku.

D tersenyum. “Ada seseorang yang kukenal, yang pernah mengatakan kepadaku, bahwa ia ingin mengejar kebahagiaannya sendiri terlebih dahulu, kemudian baru membahagiakan orang lain. Karena seseorang tidak akan pernah bisa membagi apa-apa yang tidak ia miliki. Kita tidak akan bisa membahagiakan orang lain jika kita sendiri tidak bahagia.”

Aku tersipu. Aku tahu siapa seseorang itu. Dan aku tidak lupa.

“Aku hanya ingin bahagia,” ujarku, sambil merasakan kehangatan bagian luar cangkir kopiku dengan kedua telapak tangan.

“Kita semua menginginkannya,” D pun mengangguk. “Tetapi hanya mereka yang berani memilih kebahagiaanlah yang berhak mendapatkannya.”

Sempurna.
Ini tak akan bertahan selamanya.
Aku tahu.

Cuma sementara.
Aku tahu.

Jika begitu, mengapa masih kau katakan sempurna?
Karena aku tidak
selalu meminta .
Aku cuma minta secukupnya waktu. Hanya waktu.

Tetapi… waktu itu sudah habis.


Kamis, 08 September 2011

For you ( happy birthday )



Banyak hal yang hampir terlupakan ketika bersamamu namun semua itu seolah terulang kembali dan terekam jelas di ingatanku ketika aku tersadar bahwa hari ini adalah hari ulang tahunmu(08, september) , memang tak banyak yang bisa aku berikan dulu , tapi satu hal yang aku ingin kau tau bahwa dulu aku sangat menyayangimu .

Mungkin sudah terlambat untuk aku mengakuinya tapi gak ada salahnya kalau kamu juga mengetahui tentang pasang surut hubungan kita dulu, dan sedikit impian yang coba aku rajut bersamamu dulu ...

Entah apa yang harus kukatakan……ketika rasa itu mulai berlalu

kau yang pernah hadir ,mengisi hari hariku dengan senyum ramahmu

ada yang hilang…. keheningan yang menyesakan…

kemanakah kegembiraan yang sempat kita rasakan bersama…..

Meski hadirmu tak sengaja, tanpa rencana

tapi apa yang telah terjjadi diantara kita, tak terduga …. luar biasa

tak mudah menepis rasa yang sudah terlanjur ada

kebersamaan, kasih sayang telah menyatukan kita

Sampai Sempat rasa putus asa singgah di hati

Dan kebimbangan merasuk jiwa…

haruskah aku melepasmu duhai ...... ?

masih mungkinkah kita bersama2 untuk merjut impian dan menyatukan asa

Sungguh aku hanyalah manusia yang penuh dengan keterbatasan

tanpa dukunganmu.. apalah artinya aku …..

hanya ketika aku dan kamu bergandengan tangan ,melangkah berdampingan

sebuah keajaiban bisa tercipta…….

hari esok bukan hanya miliku….. atau milikmu…. tapi milik kita ....

Saat ini aku hanya ingin bertanya….

apakah kita masih memiliki mimpi yang sama ?

apakah rasamu dan rasaku masih seperti yang dulu ?

saat kita memulai langkah ini bersama…

meretas jalan …. melihat segala kemungkinan

demi kebersamaan… cinta dan persaudaraan…….

aku hanya berharap ,apa yang telah lahir… akan tetap hadir dan terus mengalir…..

dan kamu tau….. tanpamu ….. tanpa keinginan untuk terus berbagi kasih

seiring waktu semuanya kan berlalu…….

sungguh aku tak ingin melihat apa yang telah kita mulai bersama.. berlalu begitu saja….

Ketahuilah….. aku selalu disini….. setia menunggu cinta itu mekar kembali ...

Walau itu terasa sulit dan mustahil untuk bisa terwujud, .......



HAPPY BIRTHDAY FOR YOU

Each year your birthday reminds me
That I really want to say

I’m very glad I know you;
I think of you each day.
I hope you enjoy your birthday,
All the pleasures it has in store,
And because I appreciate you,
I hope you have many more!

Selasa, 06 September 2011

akhirnya GIMBAL lagi ....




akhirnya keinginku untuk kembali gimbal terpenuhi , sebenarnya tidak ada niatan khusus untuk punya rambut model rasta"gimbal" hanya terasa nyaman saja kalo bisa tampil berbeda dari yang lain ,,,,,,
Setelah yang kesekian kalinya gimbal ,masih ada saja beberapa orang memandangku dengan tatapan berbeda. Mungkin mereka penasaran, bahkan tangannya pun ikut penasaran. Jari-jarinya ikut menggerayangi kepalaku. Aku biarkan saja biar rasa penasarannya terpuaskan.

Ada teman yang kontra atau pro dengan gaya rambutku kemarin. Yang kontra bilang kalo aku seperti orang gila gak keurus. Sedangkan, yang pro mensupport dengan apa yang kulakukan dengan rambutku. Tapi, sebenarnya lebih banyak lagi yang cuek dengan model rambutku. Biarlah, aku sendiri sebenarnya tidak peduli dengan mereka. Karena bagiku, model atau gaya adalah selera masing-masing, tidak bisa dipaksakan,


Senin, 05 September 2011

obrolanku dengan sebotol beer ....

berhubung sedikit pening akhirnya botol beer deh yang diajak ngobrol, sory deh kalau agak ngawur dikit ,,,,

berikut hasil diskusiku dengan botol beer malam ini ......hehehehehehehehehe..

” Kenapa tidak kau habiskan ? ” tanya sebotol bir yang tinggal setengah isinya.

” Kepalaku pusing….” jawab seorang lelaki, sambil matanya tidak lepas menata lembaran koran.

” Tidak biasanya kau cepat mabuk, padahal baru setengah kau minum aku.”

” Bukan kau yang bikin kepalaku pusing.”

” Lantas ? ” selidik si botol bir.

Tanpa menjawab, lelaki itu menunjuk ke arah lembaran koran yang dipegangnya . Sebuah berita tentang aksi demonstasi mahasiswa.

” Kenapa ? ” tanya si botol bir yang makin penasaran.

” Aku khawatir adikku ikut-ikutan aksi tersebut.”

” Adikmu kuliah ? Hebat, jarang-jarang preman sepertimu masih memperhatikan adiknya.”

” Aku berharap, kelak adiku tidak mengikuti jejak kakaknya yang selalu meresahkan masyarakat dan berbuat anarkis.”

” Lalu, apa yang membuatmu pusing ? ” tanya si botol bir yang juga belum mendapatkan jawaban.

” Bukankah seharusnya mereka itu ada di kampus, menuntut ilmu supaya nanti berguna bagi masyarakat ? ” tanya lelaki itu polos.

Si botol bir tersenyum meremehkan pertanyaan lelaki itu, yang dianggapnya naif.

” Kawan, mahasiswa itu bukan melulu harus belajar di dalam kampus, mereka juga harus keluar membantu masyarakat menyuarakan aspirasinya…” jawab si botol bir, seakan bangga atas jawaban yang diberikannya.

” Kan sudah ada DPR, untuk apalagi turun ke jalan ? “

Kali ini si botol bir tertawa.

” Macam tidak tahu saja, kawan ini, DPR sekarang tidak peduli lagi dengan rakyat, mereka sibuk mementingkan partainya saja.”

Lelaki itu terdiam, matanya masih menatap lembaran koran yang dipegangnya.

” Membantu masyarakat ? Tapi, adakalanya aksi demontrasi ujung-ujungnya malah meresahkan masyarakat, bahkan sampai bertindak anarkis !? “

” Kalau begitu, untuk apa kuliah mahal-mahal, mending jadi preman sekalian seperti aku ! ” lanjutnya.

Kali ini si botol bir yang terdiam.

aksi demo yang tadinya tenang berubah ricuh. Saling lempar antara demonstan dengan aparat keamanan terjadi, aksi bakar ban, merusak pagar pembatas jalan dan rambu-rambu lalulintas bahkan sesekali ada ledakan bom molotov dan senjata petugas keamanan silih bergantian. Jalanan ditutup, antrian panjang kendaraan terjadi dimana-mana. Seorang reporter salah satu stasiun TV mewawancarai seorang supir angkot perihal penutupan jalan tersebut :

” Susah kalau begini terus, mana setoran belon dapet….” keluhnya.

Tiba-tiba lelaki itu mencekik leher si botol bir.

” Kau mau meracuni pikiranku ? ” bentak lelaki itu sambil siap-siap melemparkan si botol bir

” Mau kau kubuat bom molotov, seperti yang dilemparkan demonstran hingga hancur berkeping-keping ? ?

“jangan emosi dulu kawan jawab botol beer ,,,,

' lalu kena kamu selalu meracuni pikiranku, sambil tak melepaskan cengkramannya kepada botol beer

"bukankah tanpa aku kamu bukan apa apa , ingat hanya aku yang selalu setia menemanimu ,yang selalu mendengarkan keluh kesahmu, kalau aku kau buang siapa yang akan mendengarkan keluhmu, jangan sinting kawan ......

" akhirnya kami terdiam sejenak, dan dalam diam itu ku berucap ........

Keteguk sebotol bir,
bir yang menguap dalam maknanya sendiri
yang menyatu dengan deburan darah dan ludah
menembus dinding kesadaran diri
aku terlelap
aku lupa padamu
lupa terhadap pengkhianatanku.

Layang-layang terbang tanpa kendali
tanpa tali
tali yang dulu diyakininya
akan mengendalikan ke batas kewajaran
Kini,
limbung, terhempas badai kemunafikan
terdampar ke pelabuhan nista
yang kontras dengan suara hatinya
seiring dengan nafsu setannya.

Berlari-berlari dan berlari
menuju alam pelampiasan diri
membelakangi segala tuntutan hidup.
Aku dan sebotol bir….
Satu rasa,
rasa pahit,
rasa getir.


bersambung ......